
"Ada apa?" Marc memiringkan kepalanya, memasang wajah bingung karena tidak mengerti dengan perubahan raut wajah Alice.
Mereka baru saja selesai melakukan pertemuan antar keluarga. Menurut Marc segalanya berjalan lancar. Tidak ada perbincangan yang janggal tadi. Tapi kenapa Alice seolah tidak merasa puas?
"Kau benar-benar ingin menikahiku?" tanyanya tepat ketika Marc menutup pintu.
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia sibuk mengedarkan pandangan ke halaman samping rumah keluarganya. Sekarang baru ia ketahui kalau tembok di sebelah sana sudah diselimuti tanaman menjalar.
Sudah lama sekali ia tidak berkunjung kemari sejak tidak tinggal bersama orang tuanya lagi. Lagi pula rumah ini juga lebih sering ditinggal pergi dan dihuni oleh para pekerja.
"Apa aku tidak terlihat serius?" ucapnya tanpa menoleh. "Aku tahu bicaraku sering asal-asalan. Menjawab semaunya dan terkesan omong kosong. Tapi aku tidak pernah menganggap pernikahan adalah hal seenteng itu."
Alice berjalan, diikuti Marc yang mensejajarkan langkah. Mereka tidak saling bicara beberapa detik. Hanya membiarkan hembusan angin menggelitik kulit mereka, menerbangkan rambut keduanya dan mengisi kesunyian.
"Bagiku pernikahan semenakutkan itu."
"Boleh aku tahu alasannya?" balas Marc.
Alice menggerakkan tangan dengan gelisah. Ia bahkan sempat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum menjawab.
"Aku pernah cerita kalau ayahku dulunya meninggalkan banyak hutang sebelum pergi, bukan?"
Marc menarik napas lalu menghembuskannya kasar. "Hey, kau takut aku meninggalkanmu begitu saja dengan hutang berlimpah? Kau meragukan seberapa banyak uangku?"
Astaga! Bukan seperti itu yang ia maksud. Ia yakin uang Marc pasti sebanyak itu, atau tentu saja lebih banyak darinya.
"Tidak! B-bukan seperti itu.." tangannya semakin bergerak tidak nyaman. "Aku.. aku takut pernikahan tidak selancar itu, tidak semulus itu. Bisa saja kau yang tiba-tiba pergi.. atau.."
Ucapan Alice menyangkut di tenggorokan, kala Marc menarik sikunya dan mengikis jarak di antara mereka. Sorot matanya menatap Alice lekat-lekat.
"Aku pernah kehilangan orang yang kusayangi untuk selamanya secara tiba-tiba. Tepat di depan mataku. Jadi aku tidak suka istilah tiba-tiba pergi dalam konteks apa pun."
Ia yakin saat ini tidak bisa membalas. Bibirnya terasa kelu dan ia terhipnotis oleh mata Marc yang nyaris kecoklatan.
"Jangan membayangkan terlalu jauh. Terkadang tidak semenakutkan itu asal kita saling percaya, Alice."
Lagi-lagi Alice menghembuskan napasnya. Ia tidak ingin bersikap ragu-ragu seperti ini. Ia tidak ingin terlihat meragukan kasih sayang Marc Hyun Jo. Hanya saja.. ia tidak ingin bernasib sama dengan ibunya.
Alice hendak melangkah lagi ketika dirinya ditarik kembali oleh Marc.
Pria itu menjilat bibirnya sekilas, bibirnya terbuka sedikit sebelum kemudian mengatupkannya lagi.
"Well, mungkin kau tidak sedang memikirkannya, atau tidak butuh mendengarnya sekarang. Tapi.." ia mengedikkan bahunya kemudian berkata dengan lantang.
__ADS_1
"Aku menyukaimu lebih dari yang kau pikirkan."
Mata Alice berkedip beberapa kali lalu senyumnya mengembang. "Aku percaya itu," sahutnya.
••••
"Marc.."
"Hmm?" Marc membetulkan posisi kacamatanya yang merosot tanpa menoleh.
"Kau ingin berapa anak?"
"Apa?" tanyanya hampir tersedak saliva sendiri. Kali ini Alice berhasil mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
Sejujurnya Marc tidak kepikiran akan memiliki berapa anak. Ia hanya ingin menikah, memiliki anak dan menyalurkan kasih sayang beserta uangnya.
Ia lelah bekerja sampai sekarang tidak tahu untuk diberikan kepada siapa, demi siapa. Uangnya tidak habis-habis kalau hanya dimakan olehnya sendiri. Lagi pula ibunya sudah mulai menjodohkannya dengan gadis berbisa. Astaga.
"Hanya bertanya saja."
Marc berpikir sejenak. "Entah lah. Satu? Dua?" ucapnya tidak pasti.
"Satu? Kenapa kau berpikir ingin punya satu anak?"
Saat itu juga Alice yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Marc, tiba-tiba duduk tegak. Raut wajahnya berubah galak dengan dahi sedikit berkerut dan mata menyala.
Pada detik selanjutnya Marc mendapat pukulan keras di lengannya sampai ia mengadu kesakitan.
"Hei!" protes Alice. Semburat merah di pipinya terlihat jelas sampai merangkak-rangkak ke telinga yang mulai terasa panas.
Marc Hyun Jo tidak merasa bersalah. Hanya mengusap lengannya dengan wajah mengernyit. Denyutan di sana masih terasa.
"Aku kan hanya bertanya kenapa kau memukulku?"
"Kau pikir bisa menjawab asal-asalan seperti itu?"
"Astaga. Di mana letak asal-asalannya, princess?"
Alice beranjak, mengipas wajahnya yang terasa panas sebelum kemudian meraih tas. "Ayo pergi. Memangnya kau ingin menghabiskan sepanjang hari di rumah?"
"Asalkan bersamamu," sahut Marc lagi tidak ingin berhenti menggoda Alice.
"Dasar bedebah ini," desisnya.
__ADS_1
••••
Marc mengelap kemejanya yang ketumpahan sedikit air ketika Alice mengoceh di sampingnya. Gadis itu terus berbicara panjang lebar sejak mereka memasuki taman bermain.
"... kau mau kan mencoba wahana-wahana itu?... pasti seru kau harus mencobanya... dulu aku bersama Krystal..."
Marc tidak terlalu mendengarkan. Telinganya penuh sesak dengan teriakan para pemain roller coaster.
Sepanjang hidupnya ia tidak sempat mencoba permainan seperti itu. Kalau dipikir ulang, entah apa saja yang ia kerjakan sewaktu kecil.
Mungkin ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, bermain piano, dan mengejar impiannya sampai melupakan bahwa berusia segitu ia masih butuh bermain. Entah karena didikan keluarganya atau memang ia tidak berpikir ke sana.
"Marc? Marc Hyun Jo?"
Ia mengerjap. Tangan Alice yang melambai-lambai di depan wajahnya baru saja menyadarkan Marc.
Ia menoleh, tersenyum meminta maaf sambil berkata, "Kau bilang apa tadi?"
Alice langsung menarik siku Marc dan menggamitnya. "Aku ingin naik semua wahana mengerikan itu. Kau sudah pernah mencobanya belum?"
"Maksudmu termasuk gua hantu?"
"Astaga. Tolong jangan yang itu."
"Kau takut?"
"Apa?! T-tidak tuh!" dustanya. Ia hanya tidak ingin Marc mengejek dan menertawai dirinya tentang yang satu itu.
"Kau bisa menggandengku seperti ini kalau takut, loh."
Alice kembali melayangkan pukulan di tubuh Marc dengan tangannya yang bebas. "Bilang saja kalau kau ingin aku gandeng lama-lama."
"Kalau hatiku akan digandeng berapa lama?"
Pertanyaan Marc yang tiba-tiba itu membuat Alice terdiam. Ia tahu Marc hanya asal bicara, tidak bermaksud apa-apa. Setelah menghirup oksigen dalam-dalam, akhirnya Alice mengeratkan tangannya.
"Selamanya."
"Hm? Aku tidak dengar."
"Ayo beli minum dulu. Rasanya aku haus sekali," ia mengalihkan pembicaraan.
Marc membiarkan dirinya ditarik ke toko minuman sebelah sana. Ia tidak keberatan sama sekali saat Alice menuntun jalan dan memiliki keinginan ini dan itu. Sepanjang hari ini ia akan mengikuti apa pun yang dikatakan tunangannya.
__ADS_1
"Baiklah. Setelah ini kita akan mencoba semua wahana."