Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 13 [Hangover]


__ADS_3

Pukul sepuluh lewat tiga belas menit.


Begitu lah yang tertera pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya setelah ia berhasil melirik beberapa saat yang lalu. Kalau bukan karena Krystal mengomelinya tentang susahnya menghilangkan efek mabuk dengan suaranya yang melengking, tajam, dan menohok itu, mungkin Alice akan lebih memilih berbaring di atas ranjang dan bukannya menyeret diri ke gedung agensi.


Jadwal pemotretannya nanti siang, sekitar pukul dua belas. Hanya pemotretan biasa untuk iklan. Selanjutnya penandatanganan album untuk beberapa orang beruntung yang berhasil terpilih, lalu ia ada janji untuk menyicipi menu baru di bar atas, lalu... Oh tidak!


Alice yang awalnya berjalan santai berubah menjadi sedikit tergesa ketika melihat pintu lift akan tertutup. Tidak. Ia tidak mau menunggu lift berikutnya karena ia tentu saja masih merasa pusing dan tidak sanggup berdiri lebih lama. Ia hanya ingin sampai di ruangannya dan beristirahat sebentar dengan tenang. Sepertinya ia tidak akan mau lagi menerima tawaran minum-minum dari siapapun.


Bibirnya otomatis menghembuskan napas lega begitu berhasil masuk ke dalam lift dan bersandar pada dinding lift. Tanpa sadar ia mulai menghitung waktu di dalam hati sambil memejamkan mata berharap hal itu mengalihkan denyut kepalanya. Setelah sampai nanti ia akan langsung meminta managernya membuatkan minuman penghilang mabuk, membiarkannya tidur sebentar, tidak mengomelinya, lalu...


Ting!


Ah! akhirnya lift berhenti di lantai yang ia tuju. Tapi...tapi...tapi...


Bugh! Duh!


Hah! Sejak kapan penghuni lift menjadi beringas begini? Mereka kira hanya mereka yang sedang terburu-buru?! Kenapa mereka mendorong tidak sabaran begitu?! Hampir saja ia jatuh memalukan dengan mencium lantai kalau saja... kalau saja...Oh!


Baiklah. Ia tidak berhasil jatuh mencium lantai. Ada seseorang yang dengan tidak sengaja meminjamkan dada bidangnya sebagai tempat kepala Alice mendarat, tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya dan aroma memabukkan, yang membuat efek mabuknya semakin menjadi-jadi dengan tidak tau malu.


Aroma memabukkan ini... Astaga! Sadarlah Park Hyo Alice!


"M-ma-maaf," ucapnya sembari melepaskan diri dan menyisir asal rambutnya dengan jemari.


"Kau tersandung?"


Merasa mengenali suara itu, Alice langsung mendongak dan matanya bertemu dengan sepasang manik gelap milik Marc.

__ADS_1


"Di.. dorong," jawabnya pelan.


Dari sekian banyak orang yang ada di gedung ini kenapa takdir memilih ia ketimpa musibah di depan Marc Hyun Jo?! Memalukan.


Belum sempat Marc membalas ucapan Alice, beberapa orang yang sepertinya sudah berdiri di belakang Alice sejak tadi, kini mulai berjalan mendekat dan melemparkan senyum ramah kepada Marc. "Hyun Jo Oppa!"


"Hai. Kalian mau pergi latihan?"


"Tentu saja. Kami mau berlatih keras agar bisa seperti Hyun Jo Oppa," ucap si pirang dengan senyuman lebar.


"Hyun Jo Oppa adalah panutan kami," ucap si kuncir dua setelah menoleh kepada Alice tetapi ia tidak bisa melihat dengan jelas akibat rambut gadis itu.


"Hyun Jo Oppa, semangat!"


Apa-apaan mereka ini? Gerutu Alice di dalam hati. Kenapa mereka memasang wajah tidak suka melihat Alice dan sama sekali tidak menyapanya? Tersenyum untuknya saja tidak.


"Jadi," Marc bersuara lagi setelah memastikan para gadis itu menjauh. "Kau tidak apa-apa?"


"Kenapa kau pucat begitu? Minuman yang tadi pagi kubuat tidak manjur?"


Minuman. Yang. Tadi. Pagi. Kubuat.


Kata-kata terkutuk itu mengiang-ngiang di benak Alice dan entah kenapa terdengar memalukan. Kenapa mereka seolah terdengar dekat dan menghabiskan pagi bersama-sama?!


"Tidak apa-apa. Bye."


Baru saja ia berjalan dua langkah di samping Marc, kemudian pergelangan tangannya ditangkap dan diselimuti oleh telapak tangan besar yang hangat. Ia berhenti. Membiarkan kehangatan telapak tangan Marc menjalar melewati pergelangan tangannya, bahunya, dan beranjak naik hingga pipinya terasa panas.

__ADS_1


Marc masih diam seolah menunggu detak jantung Alice memompa lebih cepat hingga membuat seluruh sarafnya lemas dan tidak bisa bekerja dengan normal.


"Tunggu di ruanganmu. Akan kubawakan obat."


Selanjutnya jemari Marc beranjak dari pergelangan tangan Alice seiring pria itu berjalan menjauh sebelum menghilang di balik pintu lift. Alice masih berdiri mematung di sini. Berusaha mencerna ucapan Marc, tetapi pikirannya malah tertuju pada pergelangan tangannya.


Sejak kapan ia membiarkan Marc Hyun Jo menyentuhnya seperti itu?


••••


Tidak sulit bagi Marc menemukan ruangan Alice. Ruangannya berada di lantai atas tepat berposisi secara vertikal dengan ruangan Marc. Ia memegang kenop pintu, memutarnya dan masuk dengan mudah tanpa dikunci. Ruangannya sama saja dengan ruangan yang lain, di cat putih dengan perabotan berwarna abu-abu. Ruangannya sedikit lebih kecil daripada ruangan Marc. Terkesan rapi dan juga menenangkan.


Pandangan Marc teralihkan karena melihat siluet yang bersandar pada sofa besar.


"Dia tertidur," gumamnya. Ia meletakkan pil pereda mabuk yang telah dibelinya di atas meja.


"Gadis bodoh."


"Kenapa kau tidak menolak saja waktu kuajak minum-minum?"


"Sudah tau tidak kuat minum."


Ia menoleh pada Alice, mengamati wajah gadis itu yang masih terlihat pucat. Dia benar-benar terlelap. Apa dia menunggu terlalu lama?


"Kenapa kau tidak berbaring saja? Kau ketiduran saat menungguku?"


Marc menghela napas lalu bergumam lagi, "Apa yang kulakukan? Berbicara pada orang tidur? Dasar sinting."

__ADS_1


Ia beranjak mencari selimut. Gadis itu hanya mengenakan kemeja tipis dipadukan celana jeans yang tampak menggantung. Setelah membuka beberapa laci lemari, ia menemukan satu selimut tebal dan segera memasangkannya pada Alice.


Marc duduk di samping gadis itu, ikut merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Matanya menatap langit-langit ruangan hingga tidak tau di hitungan ke berapa ia pun ikut terlelap. Tanpa kemudian menyadari ada seseorang yang membuka pintu ruangan, sedikit tersentak kaget dan keluar tanpa mengucapkan apa-apa.


__ADS_2