
Payah. Kenapa ia harus jatuh sakit di saat seperti ini. Tapi.. begitu melihat Alice yang langsung membantunya, bahkan mungkin tanpa berpikir, membuat hatinya senang. Ini berarti pertanda baik, bukan? Hubungan mereka sudah jauh lebih baik sekarang, sepertinya begitu.
Lalu langkah selanjutnya.. apa yang harus ia lakukan?
Mengerjai gadis itu beberapa minggu belakangan ini sepertinya sudah cukup. Meskipun ia memang selalu ingin mengganggu Alice dan membuat gadis itu menatapnya dengan galak, tapi sepertinya sekarang ia tidak punya alasan lagi untuk mengerjai gadis itu lebih dari ini.
Dulu ia memang kesal. Bagaimana bisa Alice mengatakan di hadapan semua orang kalau mereka belum saling berkenalan. Ia bisa kan menjelaskan bahwa sudah mengenal Marc Hyun Jo, sang legendaris ini? Atau... yah, pokoknya reaksi Alice tidak seperti yang ia harapkan.
Dan hal itu benar-benar mengganggunya.
Sekarang berada di dekat gadis itu, entah karena alasan apa, membuat jantungnya berdebar keras. Hanya menatap Alice dari jauh dan melihatnya tersenyum lebar, berhasil membuat jantungnya jumpalitan. Seperti ada yang menggelitik sarafnya, sebelum kemudian melumpuhkan ke titik paling rendah. Sampai-sampai ia lupa untuk mengalihkan pandangan.
•••
Ia bersandar pada pintu kamar Marc. Ia tidak bisa disini lebih lama lagi. Ia sudah berhasil membuat Marc menelan makanannya, meminum obatnya, dan sekarang pria itu sudah tidur sejak... mungkin sejam yang lalu.
Tapi.. bagaimana mengatakannya dengan Marc? Ia harus pergi sekarang. Ibunya akan pindah hari ini, meskipun ia sudah menyewa jasa angkut barang pindahan, tapi ia tidak bisa membiarkan ibunya sendirian bersama para pekerja itu.
Ia akan memastikan semua baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Lagi pula, hari ini jadwalnya kosong. Ia hanya butuh beristirahat seharian sebelum besok menggelar konser bersama Marc yang akan memakan waktu kurang dari dua jam.
Ah ya, dan juga... ia berniat mengundang Hyun Soo untuk hadir di konsernya. Jadi ia akan memberikan pria itu tiket gratis.
"Marc," panggil Alice mengetuk pintu.
Mungkin Marc masih tidur. Sebenarnya ia tidak ingin mengganggu tidur pria itu, tapi ia juga tidak ingin pergi begitu saja. Meninggalkan sebuah surat atau pesan, sepertinya hal semacam itu bukan gayanya sama sekali.
Alice membuka pintu setelah mengetuknya sekali lagi, dan mendapati Marc terduduk di tepi ranjang, menoleh ke arahnya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
Marc diam saja saat Alice meletakkan salah satu telapak tangan pada dahinya.
"Sudah tidak panas lagi, syukurlah. Aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa padamu kau bisa telepon aku."
"Kau tau tidak? Itu tadi panggilan ketiga ku."
"Hhm? Panggilan ketiga apa?"
Marc menengadah. "Di panggilan ketiga ku, aku sama sekali tidak menginginkan ini terjadi. Aku tidak berencana meneleponmu dengan alasan aku sakit."
Alice masih tidak mengerti. Alisnya terangkat menunggu Marc menjelaskan lebih lanjut.
"Mungkin terdengar tidak normal, tapi di panggilan ketiga, aku berniat mengutarakan perasaanku."
Perasaan..? Tidak, tidak. Perasaan apa?
"Aku sudah membaik," Marc meraih pergelangan tangan Alice untuk menghentikan gerakan gadis itu yang hendak menyelimutinya.
"Di panggilan ketiga, aku berniat mengatakan semuanya. Setelah kupikir berkali-kali, mungkin aku.. ah, bukan."
Bukan mungkin. Tapi memang seperti itulah yang terjadi pada dirinya belakangan ini.
Marc lagi-lagi menengadah, menatap bola mata Alice yang juga sedang menatapnya dengan bingung. Mungkin ini saat yang tepat. Sebelum ada orang lain yang mendahuluinya.
"Aku menyukaimu. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu."
"Marc, kau.."
Alice berkedip beberapa kali, semakin memandang Marc dengan bingung bercampur khawatir.
__ADS_1
"Apa kau bertambah sakit?"
"No, princess."
Marc berdiri, masih dengan memegang pergelangan tangan Alice, kemudian membuat posisi berbalik. Kini Alice yang mundur selangkah hingga punggung gadis itu menyentuh pinggiran meja, dan sebelah tangannya terangkat ke sisi dada Marc untuk membuat jarak di antara mereka.
Ini tidak benar. Maksudnya.. posisi ini. Kenapa ia tidak bisa bergerak sama sekali. Ia tidak bisa mendorong Marc menjauh, dan sekarang ada masalah lain lagi. Wajahnya memanas.
Ia yakin sel-sel sarafnya saling bekerja sama saat ini untuk memproduksi zat apapun itu hingga membuat semburat merah di pipinya muncul, menjalar dengan tidak tahu malu, sampai denyut nadinya berdetak semakin cepat.
Tubuh Marc mengunci tubuhnya. Meskipun saat ini ia sedang menunduk malu, tapi ia yakin pria itu sedang menatap wajahnya lekat-lekat. Jarak sedekat ini beserta wangi tubuh pria itu, ditambah tatapannya yang tidak lepas, berhasil melumpuhkan otak Alice.
Sebelah tangan Marc berada di dinding, sebelah lagi masih menggenggam tangannya, dan ia hampir tidak bisa bernapas ketika Marc menurunkan wajahnya dan menatap Alice dari samping. Tidak, tidak hanya sampai disitu.
Marc juga mendekatkan bibirnya dengan bibir Alice, kemudian membisikkan sesuatu.
"I like you. That's all i wanna say."
O-oh. Ia benar-benar malu saat ini. Ia tidak pernah membayangkan seorang pria akan mengatakan hal seperti itu padanya dan pada posisi sangat dekat pula. Ini pertama kali.. dan ia.. tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi anehnya, ia tidak merasa terganggu dengan penuturan Marc barusan. Ada gejolak aneh pada dirinya, dalam arti menyenangkan.
Kemudian Marc melepaskan genggamannya, meraih dagu Alice, sampai ia kemudian bertemu pandang dengan Marc. Rasanya malu sekali. Ia tidak ingin Marc melihat wajahnya yang merona. Bagaimana ini?
"Boleh, kan, princess?"
Alice tidak tahu maksud Marc. Jadi ia memejamkan matanya saja karena tidak kuasa menahan malu. Ini pertama kali wajahnya memerah hebat di depan Marc.
Tanpa perlu menunggu jawaban Alice, Marc sudah menempelkan bibirnya tepat pada bibir gadis itu.
__ADS_1