
Banyak yang sudah terjadi selama delapan tahun pernikahannya. Mulai dari masa kehamilan, yang ia rasa adalah masa paling sulit. Ia tidak bisa makan seperti biasa, seperti yang ia mau. Sun Hye di dalam perutnya benar-benar rewel soal itu.
Mengenai pekerjaannya, sempat mengalami masalah. Waktu itu adalah syuting terakhirnya untuk film terbaru, Marc sebagai produsernya. Tapi ia tidak bisa menyelesaikan tepat waktu karena Sun Hye mengalami sakit berat ketika umur dua tahun.
Jika mengingat masa itu rasanya sekarang ia benar-benar lega bisa melewati semuanya dengan baik. Rumah tangganya tentu dihiasi banyak kisah romansa di awal, dibumbui pertengkaran kecil sekaligus rasa bahagia karena hadirnya Sun Hye di tengah mereka.
Marc yang sempat mundur dari profesi artis, mengecewakan banyak orang. Beberapa diantara mereka banyak yang berspekulasi bahwa keputusan pria itu pasti didesak oleh dirinya, yang tetap menjadi artis. Padahal tidak seperti itu.
Marc berusaha keras untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Ia dibanjiri banyak job, membuatnya harus bisa membagi waktu untuk keluarga dan pekerjaan. Walau tentu saja, waktunya lebih banyak tersita dengan agensi.
Untungnya Sun Hye tidak memprotes waktu kebersamaan yang sedikit dengan ayahnya. Tetapi anak mereka itu selalu menangis ketika Marc pergi setiap pagi untuk bekerja.
Yang ia khawatirkan adalah, Sun Hye jauh lebih dewasa dari umurnya saat ini. Gadis itu tidak banyak bicara, tidak memiliki banyak teman, dan sering menjawab seadanya jika ditanya orang asing bahkan kadang-kadang tidak memperdulikan, malah langsung pergi.
Hal ini membuat Alice bingung. Apa selama ini ia kurang mengajarkan cara bersosialisasi kepada Sunny? Atau siapa yang dicontoh gadis itu hingga bersikap dingin seperti itu?
Omong-omong tentang bersikap dingin...
TRINGG TRIIING
Alice tersentak. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dan langsung menjawab begitu melihat nama Krystal tertera di layar.
"Halo Nyonya Jo, apa aku mengganggu waktumu?"
Ia baru saja memberi sedikit pelatihan kepada para trainee. Emosinya sedikit terkuras karena para anak muda itu hanya bisa bernyanyi. Mereka pikir bisa menjadi penyanyi terkenal hanya dengan bermodal suara?
Apa mereka tidak tahu kalau gerak-gerik tubuh, emosi yang tertera di wajah dan gaya senyuman juga perlu diperhatikan? Padahal sebelum dirinya, sudah ada pelatih lain yang memberikan pelajaran. Tetapi menurut tim pengawas, mereka tidak terlalu mendengarkan.
"Tidak. Pekerjaanku baru selesai. Tumben sekali meneleponku sore hari begini?"
Selama masa kehamilan, Krystal lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Terkadang dia juga pergi ke kediaman mertuanya yang bak istana dan diperlakukan layaknya tuan putri di sana.
__ADS_1
Hyun Soo sudah berhenti menjadi barista. Sejak berdamai dengan ayahnya, dia tidak bisa mengelak lagi untuk menjadi penerus keluarga. Sebagai rasa terima kasih karena ayahnya sudah memberi restu, akhirnya Hyun Soo menjalankan kewajiban itu sebaik mungkin.
"Aku tadi menelepon Hyun Soo. Tapi kemudian aku baru tahu kalau Sunny sedang bersamanya."
"Bersama Sunny?" ulang Alice.
Ia melirik jam di pergelangan tangan kemudian mengerutkan dahi. Seharusnya les piano Sun Hye baru saja usai sekarang. Kenapa Sunny sudah bersama Hyun Soo sebelum ini?
"Ya. Dia bilang Sunny datang sendirian ke kantornya dan menangis. Sepertinya terjadi masalah di sekolah."
Ia tentu tiba-tiba menjadi panik. Rasanya seluruh tulangnya menjadi kaku mengetahui Sunny menangis dan pergi dari sekolah. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
"Hyun Soo bilang dia baik-baik saja. Tidak ada terluka," ucap Krystal seolah bisa membaca pikiran Alice.
"Aku akan ke sana sekarang. Terima kasih, Krys."
••••
Tapi begitu membaca pesan tersebut, ia langsung pergi meski pekerjaannya masih belum tuntas. Marc tidak akan bisa berkonsentrasi apabila terjadi hal yang buruk pada putri satu-satunya itu.
Ketika ia tiba di kantor Hyun Soo, Sunny sudah berhenti menangis tetapi di sudut matanya masih ada sisa air mata yang menempel.
Ia merasa tidak enak karena telah merepotkan pria itu di jam kerja. Hyun Soo tidak keberatan sama sekali. Pria itu memang menyukai anak kecil, terutama Sunny. Dia dan Sunny semakin akrab belakangan ini.
"Apa dia menceritakan apa yang terjadi?"
"Hanya sebagian besar saja," sahut Hyun Soo. "Dia bilang ada yang berusaha mengganggunya karena ia tidak punya banyak teman. Mereka menarik-narik gantungan kunci sailor moon Sunny sampai lepas. Sepertinya pertengkaran di mulai dari sana," jelas Hyun Soo setelah tadi mendengarkan baik-baik cerita Sunny yang sambil menangis.
Marc bukannya tidak tahu kalau Sunny tidak punya banyak teman. Putrinya memang pendiam sejak dulu. Tapi bukan berarti putrinya tidak mau berteman. Dia hanya tidak tahu topik apa yang harus dibicarakan.
Omong-omong tentang gantungan Sailor Moon, Sun Hye memang menyukai kartun yang satu itu. Dan meminta Marc membelikannya saat ia di Jepang tahun lalu.
__ADS_1
"Tadi pagi ibu bilang ayah akan menjemputku."
Sun Hye menyandarkan kepalanya di bahu Marc, dengan sebelah tangan melingkar di lehernya. Marc belum berani bertanya. Ia hanya mengecek badan Sun Hye terluka atau tidak, setelah itu membelikannya es krim dan makanan lainnya yang gadis itu inginkan.
"Benarkah? Ayah sudah menjemputmu sekarang," jawabnya menepuk-nepuk punggung putrinya.
Sun Hye menggeliat sebentar, kemudian masih dengan bibir mengerucut ia berkata lagi. "Ayah tidak memberitahu ibu, kan?"
Ah, ya. Ia tahu sebabnya. Alice akan membicarakan kejadian ini sepanjang hari, mengomel tentang tingkah laku anak jaman sekarang yang tidak mudah dipahami, dan berniat akan menyerang siapa pun yang mengganggu keluarga mereka.
Istrinya memang segalak itu. Tapi tentu bukan itu yang dimaksud Sunny, tapi telinganya tidak tahan jika harus mendengar seluruh celotehan ibunya.
Pernah ada anak kecil lain, tetangga mereka yang mengganggu Sun Hye. Setelah mendengar hal itu Alice mengamuk, bahkan sampai tiba di rumah pun dia masih mengomel panjang lebar.
"Ti-" ucapannya menyangkut di tenggorokan begitu melihat Alice berjalan di koridor.
Astaga. Ia tadi sudah mengatakan pada Hyun Soo untuk tidak memberitahu istrinya. Kenapa Alice bisa ada disini?!
Marc menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan Alice esok pagi atau apa omelan wanita itu sepanjang malam ini. Sepertinya ia harus berusaha keras untuk meredam emosi Alice dan merayunya.
Astaga. Pasti akan menjadi malam yang melelahkan.
"Ayah tidak memberitahu ibu jika itu yang kaupikirkan, Sunny."
"Berarti uncle yang melakukannya."
"Sepertinya bukan. Ayah sudah bilang jangan tadi."
"Berarti aunty Yistal!" seru Sunny, bermaksud menyebut Krystal.
Begitu pandangan mata Marc dan Alice bertemu, langkah gadis itu menjadi lebih cepat kemudian berubah belari-lari kecil.
__ADS_1
"Ah, ya Tuhan," gumam Marc frustasi.