
Alice yakin ada yang menyuntik saraf otaknya hingga ia tidak bisa berpikir apapun dan tidak bisa memerintahkan anggota tubuhnya hanya sekedar mendorong Marc menjauh sekarang juga. Dalam jarak sedekat ini, ia merasa degup jantungnya berdetak tidak karuan. Ia tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria kecuali saat syuting, tapi kan itu hal yang berbeda. Saat syuting ada begitu banyak orang yang menyaksikan di tempat terbuka, nah ini. Hanya ada mereka berdua dan Alice tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.
Dengan meremas bantal sofa kuat-kuat dan memejamkan matanya, Alice sudah merapalkan mantra apapun, karena setelah ini ia akan memukul Marc kalau berani.. menciumnya. Astaga! Membayangkannya saja ia tidak sanggup.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Tidak ada yang menempel di bibirnya. Hanya sebuah telapak tangan yang berada di atas puncak kepalanya dan mengacak pelan.
"Kau benar-benar mau ya?" tanya Marc dengan suara seolah mengejek Alice karena gadis itu sudah menutup mata sedari tadi.
Malu sekali! Ada rasa panas yang menjalar di pipinya dan merangkak-rangkak naik hingga ke telinga.
Alice dengan cepat melempar bantal sofa ke wajah Marc, tapi sayang sekali pria itu mengelak dengan gesit dan tertawa-tawa setelahnya. Pria itu kenapa suka sekali mengacak-acak pikirannya seperti ini? Ia kira tadi jantungnya akan berhenti berdetak karena kelelahan mengerahkan seluruh tenaga.
"Omong-omong, mereka tadi, kau mengenalnya?"
"Tidak," sahutnya cepat. "Kau mendengar semuanya, kan?"
Marc mengubah posisi duduknya. Kali ini raut wajahnya kembali serius, tidak ada raut wajah ingin mencium Alice, seperti tadi. "Aku juga sempat vakum beberapa tahun, jadi tentu saja aku tidak ingat."
"Aku akan menanyakannya pada Krystal. Bisa saja mereka satu angkatan dengannya, gadis itu memiliki banyak kenalan."
Hening sejenak. Marc masih sibuk berpikir cara apa yang harus ia lakukan untuk mengerjai para gadis-gadis itu, atau bagaimana caranya ia melindungi Alice agar kejadian yang sama tidak terulang lagi. Ia tidak bisa menempel di samping gadis itu secara terus-menerus. Jadwalnya dan Alice bisa jadi berbenturan, lagi pula orang-orang akan berpikir aneh dan berasumsi bahwa gosip itu benar jika ia terus berada di dekat Alice.
Ah persetan dengan gosip itu.
"Tentang Soo Jin.."
Mendengar nama Soo Jin disebut-sebut, membuat Marc memutar leher dengan cepat. Apapun yang dipikirkannya tadi sudah buyar sekarang. "Kenapa?"
__ADS_1
"Apa Soo Jin dulu juga bisa memainkan piano? Maaf kalau lancang, tapi.. aku pernah melihat tanganmu gemetar di atas tuts."
Marc mengerjap. Ia sudah berusaha agar tidak kelihatan di depan Alice. Ia juga selalu memasang wajah baik-baik saja dan bisa memainkan piano dengan sempurna, tapi ternyata gagal, ya? Ia tidak bisa menyembunyikan dari gadis ini kalau ia, sang idola legendaris, juga punya kekurangan.
"Kau melihatnya, ternyata. Soo Jin tewas saat kompetisi piano diadakan. Lampu sorot jatuh tepat di atas kepalanya, darah gadis itu mencuat dan muncrat mengenai piano. Itu pertama kalinya aku melihat darah segar sebanyak itu, dan sebagiannya lagi juga mengenai baju yang kupakai. Aku hampir saja pingsan kalau tidak ada yang menarikku menjauh."
Alice menarik napas tertahan. Ia tersentak hingga tidak tahu harus mengatakan apa. Pantas saja Marc terlihat tersiksa dan menatap piano dengan nelangsa. Pria itu pasti mencoba mati-matian dan berusaha seprofesional mungkin demi profesinya.
"Aku saat itu takut sekali."
"Hm?"
"Saat gadis itu, mereka, menyerangku di toilet tadi. Aku takut sekali. Aku pernah dipukuli hingga hampir tidak bisa membuka mata, aku yakin tadi kalau kau tidak cepat datang, pertahanan diriku sudah lenyap."
Dahi Marc berkerut tidak suka. "Siapa?" tanyanya dengan tidak sabar. Ternyata tidak hanya para bedebah tadi yang pernah memukulnya. Masih ada orang lain yang berani? Mendengarnya saja sudah membuat kepala Marc mendidih.
"Ayahku pergi meninggalkan aku dan ibu. Tidak hanya meninggalkan kami berdua, dia juga meninggalkan hutang dengan jumlah besar."
"Berapa?" tanya Marc lagi. Kesabarannya sudah habis. "Akan kulunasi semuanya."
Alice tersenyum mendengar kesungguhan di dalam ucapan pria itu. "Sudah lunas. Aku sudah terkenal dan punya banyak uang."
Oh, ya. Tentu saja, pikir Marc. Ia sudah mencari tahu tentang Park Hyo Alice dan melihat pengalamannya dalam berakting sejauh ini.
"Kau kan harus punya orang yang bisa melindungimu," ucap Marc mengingat beberapa hari yang lalu Alice hampir saja tertabrak motor kalau tidak dilindungi oleh pria bedebah yang mengaku miskin dan menjadi barista itu. Mengesalkan sekali. Ia akan membalas pria itu nanti karena sudah berani peluk-peluk Alice.
"Aku sudah ada bodyguard, kok."
Marc berdecak. "Pokoknya kau harus punya orang yang selalu ada di sampingmu."
"Selalu ada di sampingku? Misalnya seperti apa?" kini Alice memiringkan sedikit kepalanya. Ia berpikir keras. Orang yang selalu berada di samping itu misalnya pacar? Sahabat? Keluarga?
"Misalnya seperti aku."
__ADS_1
Hah? Apa? Gimana-gimana?
"Apa?" tanyanya tidak mengerti. Maksudnya? Apa ia tidak salah dengar? Atau ia sudah salah mengartikan?
"Boleh, kan?" tanya Marc lagi membuat Alice beserta jantungnya kembali tidak normal.
••••
"Tuan Muda sudah pulang?"
Hyun Soo melirik sekilas pada pelayan rumahnya. Kembali ke rumah ini sama saja seperti kembali ke neraka. Ia tidak suka Ayahnya sejak dulu.
Sebagai anak satu-satunya, dan penerus satu-satunya, mungkin kebanyakan orang kalau sedang berada di posisinya saat ini akan sangat bahagia. Tapi ia, hanya mengalami sengsara batin sejak dulu. Ayahnya orang yang kejam, tidak peduli cara bersih atau kotor asalkan hasil akhirnya seperti yang dia inginkan.
Dia sudah mendidik Hyun Soo dengan keras. Mereka bilang Tuan Muda harus bisa ini bisa itu. Menyebalkan sekali. Ia tidak bisa hidup normal layaknya usia para anak pada umumnya. Umur sekian ia harus bisa ini, umur sekian bisa itu, umur sekian sudah begini-begitu. Bikin gila saja.
Ia membuka kasar pintu ruang kerja ayahnya tanpa permisi terlebih dahulu. "Apa yang Ayah inginkan?" tanyanya tajam, to the point hingga membuat ayahnya mengangkat wajah dari kertas yang dipegangnya.
"Apa ayah harus menggunakan cara itu untuk menyeretmu pulang?"
"Kenapa ayah harus mengganggunya! Dia tidak bersalah dan ayah hampir melukainya!"
Ia mengingat dengan jelas kejadian itu. Saat Alice hampir saja ditabrak dengan motor yang melaju kencang. Ia yakin, dengan firasatnya, kalau itu atas suruhan ayahnya.
Ayahnya menaikkan alis melihat putra satu-satunya menaikkan suara satu oktaf hanya karena masalah wanita.
"Park Hyo Alice. Gadis berusia tiga puluh tahun. Artis dengan bayaran cukup mahal. Berkuliah di luar negeri, ayahnya sudah tiada dan beranjak dari orang susah. Kau ingin memberikan Ayah menantu sampah seperti ini?"
Rahang Hyun Soo mengeras. Kalau saja yang berkata seperti itu bukan ayahnya, ia pastikan orang itu tidak bisa berbicara lagi sepanjang hidupnya.
"Cari yang lain, Hyun Soo. Ayah tidak suka yang ini."
"Cari saja anak ayah yang lain," jawabnya ketus menatap tajam ayahnya yang sama sekali tidak pernah memikirkan perasaan Hyun Soo. Sama sekali tidak pernah memikirkan apakah Hyun Soo menyukai hal itu atau tidak. Ia hanya bisa menerima dan tidak boleh mengutarakan keinginannya. "Karena aku juga tidak menyukai ayah."
__ADS_1
Ia tahu setelah mengucapkan ini ia akan merasa menyesal karena telah menyakiti hati ayahnya. Tapi ia ingin sekali saja, ayahnya juga memikirkan apa yang ia rasakan.
Hyun Soo berbalik, meninggalkan ayahnya. Ia membuka pintu kemudian berkata lagi, "Jangan sentuh Alice. Atau ayah tidak akan pernah melihatku lagi."