
Sepertinya ia harus mengurangi diri terlalu sering masuk ke apartemen Marc. Bukan karena apa-apa, hanya saja masih terasa asing baginya. Selama ini ia tidak pernah masuk ke apartemen pria manapun, terlebih lagi menginap di sana. Sama halnya dengan keadaannya saat ini.
"Kau benar-benar tinggal sendiri?"
Alice sibuk menatap ke sekeliling. Sewaktu pertama kali ia mampir kemari, ia tidak terlalu memperhatikan perabotan pria itu, karena terlalu sibuk mencemaskan Marc, mengenai konsernya esok dan pindahan ibunya. Sekarang ia baru menyadari kalau Marc menggunakan perabotan mewah.
"Hmm. Sejak aku menjadi artis," jawabnya singkat sambil mengaduk masakannya.
Ia sudah menyiapkan oatmeal untuk Alice beserta minuman pereda mabuk selagi menunggu sup buatannya matang.
"Kalau begitu aku tidak heran kau pintar memasak."
Alice sudah duduk di mini bar Marc dan menatap botol-botol bir yang terpajang di sana. Ternyata rumor kalau Marc kuat minum, bukan bohongan belaka. Berbeda sekali dengannya yang sudah mulai merasa melayang pada botol kedua.
"Apa jadwalmu hari ini?"
"Tidak ada," sahutnya setelah mengingat-ingat sebentar. "Aku hanya ingin pergi belanja bunga."
"Bunga?" Marc membeo. Pria itu menuang sup ke mangkuk sebelum kemudian duduk di sisi Alice. "Ternyata kau suka membeli bunga untuk dirimu sendiri."
Alice mengangguk membenarkan. "Dan merangkainya di vas. Kau tau, apartemenmu terkesan kosong," ucapnya tidak tahan untuk tidak berkomentar.
"Aku bahkan hampir tidak punya waktu untuk memperhatikan apartemenku sendiri. Ah, omong-omong, aku sudah menelepon ibu-mu pagi ini."
Gerakan tangan Alice yang hendak menyuap sesendok oatmeal terhenti. Lehernya berputar dengan cepat diikuti bibir yang terbuka sedikit. "Apa? Kau menelepon ibu-ku?"
"Apa aku harus menyebutnya ibu kita?"
Ia sudah terbiasa dengan jawaban Marc yang asal-asalan. Jadi untuk yang barusan ini, bukan apa-apa. Tidak akan mempengaruhinya. Tidak akan mempan padanya.
Tapi kenapa pipi ini tiba-tiba terasa hangat?
Melihat ekspresi Alice yang tidak berubah, membuat Marc berdeham lalu mengalihkan pandangan. "Aku cuma mengatakan kau sedang bersamaku jadi beliau tidak perlu khawatir."
"Apa ibu-ku mempercayaimu begitu saja?"
"Tentu. Kenapa kau bertanya begitu?"
Tidak. Faktanya tidak begitu. Marc tentu saja tidak hanya mengucapkan satu kalimat yang menandakan kalau Alice sedang bersamanya sehingga tadi malam dia tidak pulang ke rumah.
Ibu dari penjuru dunia manapun, tidak akan percaya kalau si pria adalah lelaki baik-baik.
Tapi ia dengan segala pesona memabukkannya, mengerahkan seluruh jurus persilatan lidah yang sudah ditekuninya, berhasil membuat ibu Alice percaya.
Gadis itu menggeleng tidak percaya. "Kenapa ibu begitu baik padamu?"
"Mungkin karena aku lolos seleksi menjadi calon menantu?"
Alice tersedak kuah sup. Tangannya buru-buru meraih gelas, dan meneguk air sampai habis.
Marc memasang senyum tidak berdosa begitu melihat Alice menatapnya menyala. Tidak apa. Mungkin di hari-hari berikutnya ia akan terbiasa menerima pelototan dari Alice di pagi hari.
"Kau seharusnya berhenti menjawab asal-asalan."
__ADS_1
Marc mengaduh kesakitan menerima pukulan di bagian kiri lengannya. Tapi justru membuat senyumnya mengembang. "Apa tidak boleh?"
"Apa?! Bicara asal-asalan?!"
Tangan kanan Marc terangkat menopang dagu, posisi duduknya berubah menjadi sedikit miring, dan pandangannya menatap lurus ke arah Alice. Beserta senyum memikat itu lagi.
Gadis itu menghabiskan oatmealnya dengan patuh, meminum habis obat pereda mabuknya, dan kini memakan sup yang sudah tinggal setengah. Harus Alice akui masakan Marc selezat itu.
"Bukan."
"Jadi?"
"Menjadi calon menantu, apa tidak boleh?"
Sekali lagi Alice menoleh dengan cepat ke samping. Matanya berkedip beberapa kali, tapi kemudian Alice tidak langsung menjawab.
Ia meniru cara Marc. Ia mulai mengibaskan rambutnya, mengubah posisi duduk menjadi menyamping, dan tangan kirinya terangkat untuk bertopang dagu. Setelah memasang senyum memikat, barulah ia membalas.
"Kenapa tidak langsung tanyakan pada ibu-ku saja?"
Kemudian Marc tertawa.
Satu sama, Marc Hyun Jo.
•••
"Jadi siapa cinderella itu?"
"Cinderella apa?"
"Kau pura-pura lupa?"
Gerakan tangan Hyun Soo yang sedang mengetikkan sesuatu di laptop, terhenti. Dahinya berkerut sedikit mencerna perkataan Hyung.
"Kita pergi membeli sepatu kaca, yang itu, ingat?"
Ah! Beberapa minggu yang lalu ia memang meminta bantuan Hyung untuk menemaninya memilih sepatu. Ia langsung tertarik pada sepatu kaca yang di pajang di salah satu toko di sana.
"Ah.. itu.."
"Kau belum memberikannya?"
Suara Hyungnya terdengar lagi. Selama ini ia memang belum pernah membeli barang wanita, dan tidak pernah memberi hadiah pada wanita mana pun. Jadi tidak heran kalau Hyungnya penasaran saat ini.
"Hyung benar-benar ingin tau, ya."
Yong Hwa di ujung sana terkekeh pelan. "Apa kau sudah menemukan Alice-mu itu? Kalau kau sampai membelikan hadiah berarti dia wanita spesial."
"Aku sudah bertemu dengannya. Tapi tidak bisa disebut Alice-ku."
"Apa?" tanya Yong Hwa tidak mengerti.
Hyun Soo menjauhkan tangannya dari keyboard. Ia bersandar pada kursi, menghembuskan napas, lalu menggumamkan sesuatu.
__ADS_1
"Aku menemukannya, tapi dia sudah menjadi milik orang lain."
Astaga. Kenapa pembicaraan mereka menjadi sedih dan canggung begini? Ia tidak ingin terdengar menyedihkan. Lagi pula semua baik-baik saja.
Ia sudah mengutarakan perasaannya, meskipun Alice tidak merasakan hal yang sama. Yang pasti hubungannya dengan gadis itu terjalin dengan baik sejauh ini. Alice tidak berusaha menjauhkan diri darinya dan tidak melarangnya menyukai gadis itu.
"Hyung sibuk hari ini? Mau pergi makan bersama?" Hyun Soo berucap lagi sebelum Yong Hwa sempat menanggapi pembicaraan sebelumnya.
••••
"Aku belum menjelaskan apa pun pada ibu-ku."
"Tentang?" tanya Marc menekan tombol lift. Mereka baru saja tiba di gedung apartemen Alice beberapa saat yang lalu.
"Kita."
"Tidak apa. Aku yang akan menjelaskan dan meminta restu."
Meminta restu?
Ia memiringkan kepala sedikit. Apa ia yang salah menanggapi ucapan Marc? Apa ia yang berpikir terlalu jauh?
"Apa kau selalu seperti ini?"
"Seperti ini bagaimana?"
"Meminta restu pada ibu wanita-wanitamu sebelumnya?"
Marc belum sempat menjawab karena lift berhenti di lantai yang mereka tuju. Baru saja mereka akan melangkahkan kaki keluar ketika pandangan mata mereka bertemu dengan mata Hyun Soo.
Dia tersenyum pada mereka berdua lalu hendak melanjutkan langkah namun dicegah oleh Alice.
"Kau akan pergi bekerja?"
"Ini minggu. Aku off, Alice."
Oh, ya, benar juga.
Setelah tersenyum lagi kepada Alice dan juga Marc, baru lah pria itu menghilang di balik pintu lift.
"Dia tinggal di sini?"
"Hhmm. Kamarnya di sebelah sana," tunjuknya pada lorong sebelah kanan.
"Apa aku sebaiknya juga pindah kemari?"
"Apa?"
Marc memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sebelum menggumamkan sesuatu. "Lebih dekat dengan sainganku sepertinya lebih bagus."
"Kau ini menggumamkan apa, Marc?"
"Tidak ada, princess. Aku hanya bilang tidak ada wanita-wanita sebelumnya seperti yang kau maksud."
__ADS_1