
Delapan tahun kemudian
Apartemen Alice beberapa tahun belakangan ini, tidak pernah rapi, terutama di pagi hari. Para pekerja rumahnya akan datang pukul sembilan pagi dan pulang pukul lima sore. Jadi bisa dibayangkan bagaimana sibuknya ia sebelum matahari terbit dan sesudah tenggelam.
Sekarang saja ia tidak bisa mengikat rambut dengan benar, karena Jo Sun Hye, lebih akrab disapa Sunny, anak mereka satu-satunya itu, sudah menangis beberapa menit yang lalu sejak Marc pergi.
Baiklah, anaknya itu, bukan. Lebih tepatnya, anak Marc, karena Sun Hye mewarisi gen pria itu sekali. Alice bahkan bisa dibilang tidak kebagian apa pun kecuali mata kecoklatan Sun Hye dengan iris gelap yang sangat mirip dengan matanya.
Sun Hye menangis hebat di meja makan sambil memegang sendoknya.
"Sunny Jo, kita tidak punya waktu untuk menangis seperti itu, sayang. Ayo cepat habiskan sarapanmu dan-"
TRING.. TRINGGG!
Hah astaga! Hari ini ia pasti akan telat lagi. Ia harus meminta maaf kepada manager nanti, karena telat beberapa menit dari jadwal janji.
"Halo? Ah, ya, tentu. Aku akan tiba di sana beberapa menit lagi. Baik."
Pemotretannya untuk iklan baju musim semi akan dimulai tepat pukul sembilan. Tapi saat ini belum ada satu pun di antara mereka yang sudah selesai bersiap.
Meski ia sudah berpakaian rapi, rambutnya diikat asal beserta make-up tipis yang dilakukannya secepat kilat, ia masih harus berperang dengan anaknya.
Pasalnya, Jo Sun Hye, tidak terlalu menurut padanya. Ia masih harus menyuapi, berperang melawan tangan mungilnya itu yang mendorong-dorong tangan Alice karena tidak ingin makan. Anaknya lebih ingin bertemu Marc dari pada menghabiskan oatmealnya. Dan itu terjadi hampir setiap hari.
Belum lagi anaknya itu akan terisak-isak sambil memasang sepatunya. Kalau sudah seperti itu, maka ia akan mengeluarkan jurusan andalannya seperti biasa.
"Sayang, semakin cepat kau menghabiskan makanmu, semakin cepat bertemu dengan ayah."
__ADS_1
Alice merapikan kuncir dua anaknya, memasang pita, sebelum kemudian memasang kaus kaki Sunny.
Tangisnya yang meraung-raung itu mulai berhenti. Dia menatap ibunya dengan mata disipitkan, sedikit tidak percaya.
"Kalau kau cepat sampai di sekolah dan belajar dengan benar, Ayah akan datang menjemputmu."
Oke, sebenarnya belum tentu begitu. Ia tidak tahu apakah Marc akan sempat menjemput Sunny hari ini. Atau anaknya akan dijemput supir seperti biasa.
Isakan itu tidak terdengar lagi. Anaknya mulai menghapus sisa-sisa air mata yang menempel di pipinya, membuat Alice memiliki kesempatan untuk meraih sendok di tangan anaknya kemudian menyuapi dengan lihai.
"Bagus. Sekarang pakai sepatumu dan berpamitan pada nenek," ucapnya setelah selesai menyuapi Sunny, mengelap sudut bibir anaknya dan mengambilkan tas sekolah yang penuh dengan gantungan kunci sailor moon.
••••
Ia pasti akan terlambat kalau tidak berpapasan dengan Kim Hyun Soo saat membuka pintu. Ya, anaknya Mister Kim itu, setelah beberapa tahun lamanya dan sudah melewati banyak rintangan, sampai akhirnya berhasil menggamit Krystal sebagai pasangan hidupnya.
"Uncle!" teriak Sunny senang, langsung menghambur ke dalam dekapan Hyun Soo.
Hyun Soo dan Krystal bergabung dan kembali menjadi tetangga mereka setahun kemudian. Layaknya seperti sejarah terulang, tapi kali ini sudah saling berpasangan.
"Biar aku saja yang mengantar Sunny ke sekolah."
Saat itu ia merasa lega luar biasa, sebab gedung agensinya tidak searah dengan sekolah Sun Hye. Itu sebabnya setiap hari ia harus memutar balik, menjadi lebih jauh, dan terlambat.
Letak sekolah Sun Hye lebih dulu sampai dari pada kantor Hyun Soo. Jadi sudah pasti anaknya tidak akan terlambat jika diantar pria itu. Omong-omong, Krystal sedang off dari dunia entertainmentnya. Dia sedang mengandung setelah mengalami keguguran pada hamil yang sebelumnya.
"Terima kasih. Kau penyelamatku."
__ADS_1
Memang tidak jarang Hyun Soo mengantar Sun Hye sejak anaknya itu menginjak sekolah dasar. Bahkan dulu orang-orang sempat berpikir bahwa Hyun Soo adalah ayah Sun Hye. Padahal mereka tidak mirip sama sekali.
Alice membuka pintu ruangan, langsung duduk berhadapan dengan sang sutradara yang sudah menunggu. Semua kru sudah bersiap, tinggal menunggu lawan mainnya yang sedang dirias.
"Maaf, aku sedikit terlambat," ucapnya setelah tersenyum penuh penyesalan.
"Kau terlambat dua menit," sahut sang sutradara tanpa menatapnya.
Alice tidak terlalu menanggapi. Ia sudah pergi ke kursi riasnya saat melihat Lee Yu Ra tersenyum dan melambai.
"Aku yakin alasanmu terlambat pasti tetap sama seperti sebelum-sebelumnya," oceh Yu Ra sambil menyisir rambutnya.
Sudah bukan rahasia lagi kalau ia harus melewati pagi hari sebagai seorang ibu beranak satu. Sebenarnya ia bisa saja meminta anaknya untuk diantar oleh supir yang sama dengan yang menjemput Sun Hye. Tapi ia ingin terlihat seperti ibu yang sesungguhnya.
Ia ingin seperti ibu yang mengurus anaknya di pagi hari, menyiapkan makanannya, memakaikan seragamnya dan mengantar ke sekolah. Ia ingin melihat tumbuh kembangnya Sun Hye dengan sedikit waktu yang bisa ia habiskan dengan putri kecilnya itu dalam sehari.
Bayangkan saja pekerjaannya sebagai artis menyita banyak waktunya. Kali ini sebagai artis senior terkadang ia harus memberikan pelatihan kepada trainee, terkadang juga memberi penilaian terhadap performa mereka.
Ia tidak ingin Sun Hye mengalami kurang kasih sayang seorang ibu, terlihat tidak seperti anak ibu atau orang-orang mencibirnya seperi anak dari sang pengasuh, pekerja rumah mereka. Sun Hye adalah prioritasnya lebih dari apa pun, meski putrinya itu lebih dekat dengan suaminya.
"Ya, seperti biasa. Si putri kecil yang menangis karena ditinggal ayahnya kerja."
"Marc sudah sampai sejak tadi. Kini sedang memantau film baru yang akan segera tayang itu," ujar Yu Ra teringat ia berpapasan dengan Marc di ruang sebelah.
Marc sudah tidak memperpanjang kontraknya menjadi artis. Alasan pria itu adalah dia tidak ingin beradu akting dengan wanita mana pun saat sudah menikah. Jadi pria itu beberapa tahun belakangan ini menekuni dirinya menjadi sang produser dan terkadang melatih para trainee juga.
"Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Membuat Sunny terus bertanya padaku jam berapa ayahnya pulang."
__ADS_1
"Kenapa sesekali kau tidak membawanya kemari saja? Bukankah Marc lebih sering di sini sepanjang hari?"
Alice menghembuskan napas. "Sunny ada jadwal les piano. Dia memang mewarisi gen Marc sekali. Sudah pernah kukatakan, bukan? Aku nyaris tidak kebagian apa pun. Sunny saat berumur lima tahun pernah mendengarkan permainan piano Marc. Sejak saat itu dia menyukai piano," jelasnya panjang lebar sambil tersenyum membayangkan wajah putrinya.