
"Ibumu akan pindah hari ini?"
Seperti biasa, suara sendok beradu dengan secangkir kopi milik Krystal selalu berhasil membangunkan Alice di pagi hari. Dia menoleh sekilas pada Alice yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Kenapa harus pindah ke kamar lain? Aku tidak keberatan berbagi apartemen dengan ibumu dan kita bisa tinggal bertiga di sini."
Alice menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masih dengan mata setengah terpejam, ia duduk di samping Krystal, meraih cangkir dan menuang air. "Kau tidak akan tahan. Kau tahu, ibuku kadang-kadang bisa menjadi sangat cerewet," jawabnya setelah menenggak air hingga habis.
"Tidak apa-apa. Rasanya pasti seperti suasana rumah. Aku sudah lama tidak pulang, dan merindukan keluargaku."
Alice lagi-lagi tidak langsung menjawab. Ia meraih cookies coklat, mengunyahnya dengan gerakan lambat lalu seakan baru teringat sesuatu. "Tunggu. Di mana hadiah itu?"
"Hadiah...apa?"
Alisnya berkerut. "Ada yang menitipkan hadiah padaku. Aku sudah menyuruh mereka mengantarkannya ke rumah. Tapi... apa kau ada menerimanya?"
"Ahh, maksudmu kotak hadiah besar itu? Ada di meja televisi-"
Belum sempat Krystal menamatkan ucapannya, Alice sudah buru-buru menghambur ke ruang televisi. Menatap kotak besar berwarna merah yang sudah membuatnya penasaran dari kemarin. Aneh, saja. Ini dikirim oleh Tuan? Tuan siapa?
Tepat seperti yang dikatakan Krystal. Kotak besar berwarna merah, dilapisi pita merah muda berada tepat di atas meja ruang televisi. Ia sedikit ragu. Selama ia menjadi artis, tidak pernah ada yang mengirimkannya hadiah aneh. Beberapa artis lain, dari agensinya, pernah bercerita dikirimkan hadiah seram oleh penggemarnya. Mungkin orang seperti itu tidak pantas disebut penggemar.
Hadiah menakutkan? Tunggu. Beberapa minggu ini ia memang tidak merasa telah melakukan kesalahan. Maksudnya, tidak.. ia tidak banyak berbicara kepada orang lain selain rekan kerja, tidak banyak menyakiti hati orang lain sepertinya, juga tidak terlibat rumor aneh apapun kecuali dikabarkan menjalin hubungan dengan Marc. Jadi... apa ada alasan baginya untuk menerima hadiah menyeramkan? Semisal... boneka dengan tatapan mata ingin mengutuk, atau foto dirinya yang terbelah-belah, atau... Oh! Sebaiknya ia berhenti berpikir terlalu jauh.
__ADS_1
Alice menggeleng kuat. Ia menoleh kepada Krystal yang ternyata juga sedang menatapnya. "Kurasa... aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi.. tidak mungkin, kan? Apa kau merasa ada yang membencimu belakangan ini?"
Ada. Tentu saja. Beberapa penggemar Marc sepertinya sedikit-banyak masih menaruh kebencian padanya.
Sebagian akal sehatnya berteriak bahwa ini bukan pertanda baik. Ia sedikit memiliki insting terhadap hadiah ini. Selain kotaknya yang terlampau besar, diantar oleh orang semacam bodyguard, bukan kurir biasa, dan.. dari Tuan. Tuan Besar? Tuan Muda?
Alice menghembuskan napas. Tidak apa-apa. Toh, ada Krystal disini yang menemaninya. Setelah sedikit berdebat dengan diri sendiri, akhirnya Alice menarik pita, dan membuka kotaknya.
Ia tertegun sejenak. Sebelum pikirannya berpikir lebih jauh lagi, ia menoleh menatap Krystal yang sepertinya kali ini juga berpikiran sama dengannya.
•••
Sebelah tangannya memegang cangkir, dan sebelah lagi menyentuh sisi kepala. Ia tidak baik-baik saja sekarang. Sejak pulang dari rehearsal kemarin, ia langsung merasa tidak sehat. Tenggorokannya kering dan kepalanya sudah mulai pusing sejak kemarin malam. Hari ini bertambah sakit dan sepertinya ia juga sedikit demam.
Awalnya ia ingin mengabaikan sakit ini karena seperti biasa yang sudah pernah ia alami berkali-kali, bisa sembuh dengan sendirinya asalkan ia istirahat beberapa jam. Tapi, untuk kali ini, tidak berhasil.
Marc menghembuskan napas. Mungkin kali ini ia harus minum obat. Ia tidak bisa membayangkan kalau sakitnya menjadi lebih parah dari ini hingga mengakibatkan tidak bisa melakukan konser esok hari. Minum obat dan tidur seharian adalah satu-satunya jalan keluar. Ia sangat tidak berdaya untuk pergi ke rumah sakit, ia juga tidak punya dokter langganan karena memang jarang jatuh sakit, dan mengenai obat.. sepertinya ia juga tidak menyimpan obat apapun. Astaga. Parah sekali. Dasar pria single yang malang.
Ia duduk di sofa. Cangkir di tangannya sudah kosong, yang membuatnya mengerang karena masih merasa haus dan terlalu lelah untuk berjalan ke dapur. Sambil menatap langit-langit ruangan, tiba-tiba ia terbersit sesuatu.
Marc meraih ponsel di atas meja dan menekan kontak seseorang. "Halo, Alice," Ia bisa mendengar seberapa parah suaranya sendiri.
"Ada apa dengan suaramu?" Bukannya membalas sapaan Marc, Alice sudah mencecarnya lebih dahulu. Membuat senyum Marc terukir.
__ADS_1
"Aku sakit," jawabnya masih dengan senyum di bibir sampai suaranya bahkan sedikit terdengar riang di telinganya sendiri.
"Sakit?"
"Ya, sakit."
"Sakit apa?" tanya Alice akhirnya dengan nada sedikit khawatir. Hal ini justru memperparah senyum Marc. Ia tidak bisa menghentikan lengkungan bibirnya yang bertambah lebar.
"Entahlah. Aku sudah merasa sakit sejak kemarin malam. Sepertinya juga demam," Marc terbatuk sebentar kemudian menyerah begitu melihat cangkirnya benar-benar kosong. Hanya untuk mengambil air di dapur saja sepertinya butuh tenaga besar.
"Kau pasti tidak meminum obatmu."
"Benar!" seru Marc berusaha mati-matian untuk meredam nada riangnya. Ternyata Alice sudah mengenal dirinya. "Kau tau artinya itu kan?"
"Akan kutagih balasan terima kasihmu nanti. Jadi, dimana apartemenmu?"
Ia sempat tertidur sebentar sebelum Alice benar-benar datang menjenguknya. Ia tidak tahu kalau Alice akan menolongnya semudah itu. Ia benar-benar akan berterima kasih padanya nanti.
Alice melepas sepatu, menggantung coatnya, sebelum melangkah ke ruang santai Marc. Ini pertama kalinya ia memasuki apartemen pria. Dan apartemen Marc terkesan... kosong. Pria itu hanya meletakkan perabotan yang diperlukan dan tidak ada hiasan apapun.
"Aku membawakanmu obat dan vitamin. Aku juga membeli sup di jalan kemari tadi. Kau seharusnya tidak jatuh sakit. Aku tau musim dingin akan datang sebentar lagi, jadi kau harus menjaga pola makan dan tidur. Kau tau, jatuh sakit di musim dingin itu lebih parah daripada di musim yang lain. Aku pernah mengalaminya dan- hei! Kau baik-baik saja?"
Ia sama sekali tidak merasa terganggu mendengar gadis itu mengomel padanya bahkan sambil mengeluarkan obat dan makanan dari paper bag yang dibawa. Marc hanya berusaha berjalan mendekati Alice yang sedang duduk di sofa sambil membuka penutup makanan, tapi ternyata ia tidak kuat berjalan lebih dari ini. Denyut di kepalanya tidak mau berhenti hingga pandangannya menjadi kabur.
__ADS_1
Ia hampir terjatuh di sofa kalau Alice tidak dengan cepat menahan tubuhnya. Ia bisa merasakan kepalanya jatuh ke salah satu bahu gadis itu, lengannya dipegang oleh Alice dan sebelah tangan gadis itu menahan pinggangnya. Dengan posisi seperti ini ia bisa merasakan hangatnya tubuh Alice dan wangi rambut gadis itu.
"Sebentar saja," bisik Marc dengan kedua tangan kini memeluk gadis itu lebih erat. "Terima kasih sudah datang, princess."