
"Kapan Marc kembali?"
Krystal muncul setelah beberapa menit yang lalu gadis itu keluar kamar dan meninggalkan Alice yang uring-uringan. Ia tidak terlalu bersemangat karena tidak bisa melihat Marc.
Ia yang sejak tadi telungkup sambil membaca salah satu koleksi novel misteri milik Krystal, kini mengubah posisi menjadi telentang.
"Masih seminggu lagi dihitung mulai hari ini," jawabnya lesu.
Biasanya kalau ada Marc, pria itu akan menjawab asal ucapan Alice, mengganggunya dengan seribu kelakuan pria itu yang tidak terduga, dia tahu benar cara bersikap menyebalkan namun bersikap hangat di detik selanjutnya.
Kadang Alice tidak mengerti larutan apa yang sudah dicampurkan ke kepala Marc hingga tercipta manusia setengah devil seperti itu.
"Ternyata kau sangat menyukainya ya sampai lesu begitu," ocehnya meletakkan kue kering dan jus jeruk di dekat Alice. "Jadi dia belum menelepon?"
Belum. Rasanya kesal sekali. Ia juga terlalu gengsi menelepon Marc lebih dulu.
Marc mendapatkan tawaran main film yang latar tempat ceritanya, sebagian berada di Paris. Meskipun bukan menjadi pemain utama, dan Alice benar-benar bersyukur akan hal itu kalau tidak ia bisa tidak bertemu Marc lebih lama lagi, pria itu punya beberapa adegan yang harus diambil di sana.
Sebenarnya Marc bisa pulang lebih cepat karena adegannya tidak banyak, tapi ia memilih tinggal lebih lama karena mereka membutuhkan tenaga lebih yang bekerja di balik layar.
"Belum. Dia sudah sampai beberapa jam yang lalu di Paris, aku sudah menghitungnya. Tapi sampai detik ini belum juga memberi kabar."
"Lelaki memang kalau sudah jauh tidak bisa dipercaya, ya," Krystal ikut berbaring di sampingnya sambil memainkan ponsel. "Tapi, kenapa tidak kau saja menanyainya lebih dulu?"
"Karena bukan style-ku."
Krystal berdecak. "Omong-omong, bukankah si barista itu juga menyukaimu? Kupikir kau akan memilihnya karena sedikit membenci Marc. Apa selama ini asumsi-ku salah?"
Ia mengerti jalan pikir Krystal. Ya, benar, kalau dibandingkan dengan sikap Marc itu, Hyun Soo terlihat jauh lebih tenang dan dewasa.
Tapi entah apa yang meracuni isi kepalanya sampai ia tidak mengerti jalan pikirnya sendiri. Sampai ia rela memilih Marc, si setengah siluman itu.
"Tidak," jawabnya melirik Krystal sebentar. "Sepertinya aku memang sudah gila."
"Apa?"
__ADS_1
"Karena berhasil masuk ke dalam pesona Marc. Ternyata menghindar dan membenci berlebihan itu bisa menimbulkan efek kebalikannya, ya."
Krystal menghela napas kemudian bangkit dari rebahannya. "Kalau Marc disana bersenang-senang dan menikmati kota Paris yang indah itu, kita juga harus bersenang-senang di sini. Ayo, bersiap pergi keluar."
"H-hei!"
Alice tentu protes ketika tangannya ditarik seolah memaksanya untuk bangun dari kasur yang nyaman. Tapi tentu saja, Krystal bukan orang yang mudah untuk dibantah.
••••
Marc berjalan menuju pintu kamar hotelnya dengan langkah terseok-seok. Ia mengalami jetlag, ditambah harus membantu sedikit mengenai persiapan syuting mereka di balik layar, sebelum akhirnya bisa istirahat di kamar hotel sendiri.
Ia baru selesai mandi, merebahkan dirinya sebentar dan nyaris terlelap ketika seseorang menekan bel pintunya tanpa henti.
Marc mengerang. Seharusnya ia hidupkan saja mode tidak ingin diganggu, tidak bisa dibunyikan bel itu.
Dengan sekali hentakan pintu berhasil terbuka, walaupun Marc hanya membuka sedikit pintunya sama sekali tidak sedang dalam mood menerima tamu dengan tangan terbuka.
"Marc Hyun Jo?"
Ia menahan mati-matian untuk tidak menutup pintu kamarnya saat ini juga dan berdecak.
Gadis itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya tanpa benar-benar melepaskan, lalu berkata, "Kau pasti tidak mengenaliku. Aku Im Nana, tunanganmu."
Tunangan my ***.
"Nuna," sengaja Marc memanggilnya demikian agar wanita itu naik darah dan segera pergi dari hadapannya.
Dengan tersenyum kecil, Marc berkata lagi, "Nuna cantik luar biasa, tapi sepertinya ada yang salah dengan isi kepala Nuna. Selamat malam."
Kemudian ia menutup pintu kamarnya tanpa menunggu balasan dari wanita itu yang sudah mengerutkan dahinya, melepas kacamata dan bibir sedikit menganga.
Biar saja. Ia terlalu lelah untuk meladeni orang sakit jiwa yang mengaku-ngaku tunangannya.
Ia kembali berbaring di kasurnya ketika ponselnya berdering. Nama ibunya terpampang disana, ia butuh beberapa detik sebelum menjawab panggilan itu. Sejauh ini, sejak ia hidup sendiri, keluarganya tidak akan menelepon kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan. Menanyakan kabarnya juga tidak.
__ADS_1
"Hyun Jo, ini ibu."
Aku tahu.
"Apa gadis itu belum datang menemuimu?"
Gadis yang mana?
"Im Nana. Ibu sudah pernah memberitahumu lewat chat, kan? Dia tunanganmu. Sudah ya-"
"Ibu."
Marc menarik napas. Sejak tadi ia tidak mendapat kesempatan untuk berbicara, lalu kini ibunya ingin memutuskan telepon begitu saja.
"Aku merindukanmu."
Setelah berkata begitu Marc mematikan teleponnya. Moodnya berubah menjadi semakin buruk. Selama ini ia tidak terlalu memperdulikan apapun rencana orang tuanya padanya. Tapi kali ini, apa yang mereka rencanakan? Menjodohkannya? Menginginkannya menikah dalam waktu dekat?
Rasa kantuknya sudah menguap entah kemana. Kalau saja di sini ada Alice, ia akan dengan senang hati menghabiskan waktu bersama gadis itu dan menjahilinya seperti biasa. Tidak ingin memikirkan hal-hal yang tidak perlu untuk dipikirkan.
Setelah menghembuskan napas kasar sekali lagi, Marc beranjak dan meraih coatnya. Ia membuka pintu kamar hotel kemudian...
Melihat gadis itu masih berdiri di sana.
"Mau keluar bersamaku?" tawarnya dengan penuh percaya diri.
Marc menatapnya tajam namun tidak berkata apapun. Ia akan membiarkan gadis itu melakukan apapun yang dia mau. Ia tidak akan memperdulikannya asalkan gadis itu tidak menyentuh privasinya.
Ia tidak akan segan-segan bersikap kejam pada gadis manapun kalau memang dibutuhkan.
Marc berjalan begitu saja dan membiarkan Im Nana mengikutinya di belakang. Sepertinya dia tipe gadis agresif yang tidak gampang menyerah. Apa kata agresif dan tidak tahu malu memiliki perbedaan setipis kulit ari?
Dia belum tau saja bagaimana aku akan mengerjainya kalau berani menggangguku.
Apa dia ingin membangunkan setan yang tertidur?
__ADS_1