Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 45 [Flashback-4]


__ADS_3

Ini mungkin kunjungan ketiganya ke apartemen Marc. Meski mereka sudah bertunangan, tapi bagi Alice, saling memasuki apartemen adalah hal yang paling ia hindari. Sejak awal ia sudah mengatakannya pada Marc.


Bukan karena ia takut tertangkap netizen, tapi karena ingin menghindari hal-hal yang berbau ketidaksengajaan. Lagi pula sering-sering mengunjungi apartemen Marc, menurutnya bukan lah hal yang bagus.


Marc sendiri memang sering mengantarnya pulang, hanya sampai depan pintu apartemennya saja. Ia jarang mengizinkan pria itu menginjak lantai dalamnya. Meski tentu saja ada ibu di sana.


Untung lah Marc mengerti dengan permintaannya yang satu itu.


"Apa kau dulu ikut kursus memasak?"


Alice melirik Marc yang sedang sibuk mengeluarkan bahan-bahan dari dalam lemari es. Dirinya tidak menggunakan apron, hanya sarung tangan plastik. Sedangkan dirinya sendiri tidak seahli itu dalam hal memasak.


Ia memang sudah terbiasa tinggal sendiri, atau lebih tepatnya, tinggal berdua dengan Krystal yang sama tidak jago masaknya dengan Alice. Gadis dingin itu hanya tahu cara membuat kopi yang enak, oatmeal sehat dan salad segar.


Pernah Alice membiarkan Krystal mengambil alih dapur. Melihat gadis itu beradu dengan menu masakan yang digoreng. Alhasil tentu saja gosong. Luarnya terlihat menghitam dan dalamnya setengah matang.


Mulai dari kejadian tersebut Alice tidak pernah lagi mengizinkan temannya memegang penggorengan.


"Tidak pernah," sahut Marc sambil mengiris daging. "Aku hanya suka melihat acara memasak. Pertama hanya ingin mencoba memasak makanan yang kusukai, tapi kemudian menjadi hampir memasak seluruh menu."


"Benarkah?" ia tidak pernah menyangka Marc masih menyempatkan diri di sela-sela waktunya yang sibuk.


"Hmm. Sewaktu awal-awal menjadi aktor, aku punya banyak waktu luang karena belum kebagian job sebanyak itu. Akibat banyak menghabiskan waktu di apartemen, akhirnya aku belajar memasak sedikit-sedikit."


Ah, ya. Ia juga pernah mengalami hal itu. Sewaktu awal-awal menjadi artis. Ia punya waktu libur hampir di setiap weekend. Jadi ia bisa membantu ibunya di dapur.


Setelah ia tinggal dengan Krystal, ibunya juga sering membawakan makanan. Hal ini juga yang menyebabkan mereka berdua jarang memasak.


Mereka lebih sering makan di luar, atau dibawakan makanan oleh para kru dan teman-teman kerja yang rajin memasak berlebih. Terkadang juga atasan mereka mentraktir. Atau diberikan cuma-cuma oleh sponsor yang bekerjasama.

__ADS_1


"Aku hanya bisa membuat yang gampang saja."


"Tidak apa. Nanti lama kelamaan juga bisa membuat yang lain. Dulu aku sempat ingin membuat video dan membagi-bagikan resep ala aku sendiri. Tapi kemudian aku tidak punya waktu untuk itu."


"Wah! Tapi bukankah kau sempat hiatus? Kenapa tidak menggunakan kesempatan itu?"


Alice tidak bisa hanya diam di sofa ruang santai yang langsung terhubung dengan meja makan dan berbelok sedikit ke dapur Marc. Ia menjatuhkan diri di kursi bar terdekat.


"Ah, saat itu ada banyak kejadian yang aku alami. Seperti ayahku jatuh sakit dan sebagainya," Marc melirik sekilas ke arah Alice yang mulai menggulung rambut dan menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus.


"Kupikir kau pergi liburan juga."


"Tentu saja. Baru kali itu aku bisa merasakan pergi liburan sendirian. Cukup menyenangkan dan merasa bebas. Kau sudah pernah mencobanya, belum?"


Gadis itu tidak langsung menjawab. Ia menopang wajah dengan bibir mengerucut. "Ibu tidak pernah mengizinkanku. Katanya, hanya tinggal aku yang ibu miliki saat ini."


Marc menghentikan gerakannya sekilas. Setelah mendengar itu ia yakin hanya Alice satu-satunya harapan ibu. Sedangkan Marc tidak benar-benar yakin apa ibunya akan sekhawatir itu jika mendengarnya pergi liburan sendirian.


"Sukiyaki," jawabnya cepat. "Makanan khas jepang yang tidak ribet menurutku. Ah, aku lupa tanya kau suka makan ini atau tidak."


Sejujurnya Alice tidak terlalu lapar. Ia menghabiskan sendiri separuh isi pizza yang yang dibawakan Marc untuknya. Entah karena ia selapar itu atau karena Marc membawakan rasa pizza yang ia suka.


"Aku suka. Hampir semua makanan khas Jepang aku sukai. Bagaimana kalau lain kali kita mengunjungi restoran Jepang? Aku paling suka ramen di antara semuanya."


Marc terkekeh pelan. Ia justru menyukai semua makanan khas Jepang. Sebut saja seperti sushi, shabu-shabu, udon, ramen, sukiyaki, onigiri, apa saja. Marc bukan orang yang pemilih soal makanan. Asalkan tidak pahit dan tidak terlalu pedas.


"Baiklah. Besok jadwalmu padat tidak?"


Ia berpikir sejenak. Seharusnya besok ia tidak ada kegiatan apa pun. Iklan produknya sudah selesai sampai hari ini. Ia juga masih perlu mempertimbangkan tawaran main film baru-baru ini. Ia menyukai alur ceritanya, tapi ia belum yakin hal itu cocok dengan perannya.

__ADS_1


"Tidak. Kenapa?"


Setelah Marc selesai mengisi dua piring dengan sukiyaki, akhirnya pria itu melepaskan sarung tangan. Dia membasuh tangannya sekilas, mengusap rambutnya sebelum duduk di samping Alice.


"Kau mau nonton bersamaku? Besok jadwalku hanya sampai siang."


"Oke. Besok aku saja yang traktir bagaimana?"


Leher Marc berputar cepat. Raut wajahnya terlihat bingung dan alisnya terangkat. "Kau tidak perlu lakukan itu. Aku saja."


Dari awal Marc memang tidak suka dibayari makan. Kalau Alice perhatikan, pria itu tidak hanya tidak ingin dibayar makan olehnya, tapi juga berlaku hampir kepada setiap orang.


Mungkin Marc tidak bermaksud apa-apa. Pria itu seolah sudah punya kebiasaan tersendiri bila bersama orang terdekatnya.


"Kenapa kau tidak pernah mau aku traktir, sih? Kan aku juga ingin melakukannya."


Bukan karena ia tidak senang ditraktir oleh tunangannya sendiri. Hanya saja ia juga sesekali ingin berbalas budi. Tidak ada yang aneh kan kalau sang perempuan yang membayar?


"Sungguh tidak apa-apa," jawab Marc berusaha meyakinkan.


Alice tidak ingin mendebatkannya malam ini. Biar besok saja langsung ia yang bayar. "Ada film yang seru ya?"


"Film yang diangkat dari novel. Sebenarnya aku tidak membaca novelnya. Tapi sudah menonton semua seri sejak awal. Atau kau ingin nonton yang lain? Yang ini bukan film romantis," Marc menggaruk lehernya yang tidak gatal.


Rasanya tidak enak kalau film itu hanya ia yang menikmati. Bisa-bisa Alice mati kebosanan besok.


"Tidak apa-apa. Kita nonton itu saja. Aku suka semua genre. Kecuali fantasi. Kurasa imajinasiku tidak sampai kesana."


Hening sejenak. Hanya terdengar suara sumpit yang beradu dengan piring. Tapi kemudian ia teringat sesuatu. "Kalau besok aku menunggumu sampai selesai bagaimana? Aku juga ingin sesekali melihat-lihat pekerjaanmu dari balik layar."

__ADS_1


Sebelah tangan Marc terangkat ke puncak kepala Alice dan mengusapnya pelan. Dia tersenyum lebar lalu berkata, "Boleh saja, princess. Aku tidak keberatan."


__ADS_2