Legendary Idol In Love

Legendary Idol In Love
Part 37 [Bertemu Ibu Marc]


__ADS_3

"Jadi namamu Park Hyo Alice?"


Ia pikir mereka akan pergi ke bandara untuk menjemput, ternyata ibunya Marc sudah tiba sejam yang lalu dan baru menghubungi anaknya setelah duduk di salah satu restoran mewah.


Ibunya Marc terlihat masih muda, tapi umur wanita itu tidak semuda wajahnya. Ia pernah dengar kalau ibu Marc adalah wanita multitalenta dan bergerak di bidang seni.


Tidak heran kalau wanita itu berpenampilan modis, tubuh dengan lekukan sempurna, dan ada aura tersendiri yang memancar, seperti ibu Marc sudah terbiasa tampil di depan banyak orang, menghadapi orang baru.


Wanita itu terlihat tenang, menyeruput minumannya dan gerak-gerik tubuhnya terkendali. Tidak hanya itu, Alice bisa melihat ibu Marc mengendalikan raut wajah dengan baik.


"Benar. Senang berjumpa dengan Anda," Alice tersenyum cerah.


"Aku menyukai beberapa drama yang kauperankan. Mungkin kau tidak terlalu ingat, tapi aku juga pernah menjadi salah satu penulis naskah ceritanya. Saat melihat aktingmu untuk pertama kali, aku yakin kau akan menjadi aktris hebat."


Marc tidak berkata apapun sejak tadi. Dia hanya terlalu sibuk dengan ponselnya seperti sedang berusaha menghubungi seseorang. Sampai kemudian Marc merasakan ada tapak sepatu berukuran runcing yang mendarat di kakinya di bawah meja.


Ia mendelik pada ibunya dengan tatapan apa-yang-ibu-lakukan?!


"Aku membawa Alice karena ibu bilang ingin berkenalan dengan kekasih versiku."


Alis ibu Marc terangkat begitu mendengar satu kata di kalimat terakhir. "Lalu dimana kekasihmu versi lain?"


Marc menggeleng dengan tidak sabar. "Kekasihku versi ibu, sudah kulempar jauh-jauh. Levelnya justru bukan kekasih lagi," sindirnya kemudian menghela napas begitu wajah Im Nana terlintas di benaknya.


Ibunya meletekkan cangkir sebelum melipat tangan dan bersandar. "Im Nana penggemarmu sejak kau debut. Ibu pikir tidak ada salahnya mengenalkanmu pada Nana selagi kau belum memiliki kekasih."


"Itu sebabnya aku membuat Im Nana pergi sejauh mungkin karena sudah memiliki Alice. Kami berencana menikah, Bu. Bagaimana?"


"Wah," seru ibu Marc pendek dengan bibir tertarik ke atas membentuk senyuman. "Sudah sejauh itu ya?"


Alice yang duduk di samping mematung begitu mendengar penuturan pria itu.


Kenapa dia bisa berkata segampang itu? Tanpa basa-basi terlebih dahulu, tanpa mendengarkan obrolan antara Alice dengan ibunya? Apa Marc pikir ibunya sudah setuju di pertemuan pertama? Apa dia pikir ibunya tidak akan mengujinya terlebih dahulu?


Misalnya seperti apakah masakan Alice enak? Atau apakah ia gadis yang telaten? Atau apakah ia gadis berhati baik dan setulus hati akan berada di sisi Marc apa pun yang terjadi? Apa Marc pikir menikah semudah itu? Mendapat restu secepat itu?

__ADS_1


Alice kembali terdiam begitu ibu Marc menatapnya.


"Tidak perlu terkejut, Alice. Marc Hyun Jo memang mewarisi gen-ku sekali. Berbicara semaunya."


Ia memaksakan senyum yang semoga saja tidak terlihat konyol. Mungkin sifat ibu dan anak ini memang mirip.


"Terima kasih, tapi sayang sekali aku memang tidak mengingat semuanya."


"Bukankah ibu senang kalau aku cepat menikah? Kami akan menikah dalam waktu dekat dan segera memberikan cucu yang cantik dan tampan untuk ibu."


Apa?!


Sepertinya sepulang dari sini nanti ia akan menceramahi Marc, mencubit pria itu sampai mengadu kesakitan dan meminta ampun. Untuk sekarang ia hanya akan menyumpahi di dalam hati karena bibir Marc memang sudah tidak tertolong lagi.


***


Krystal melepas sepatu, menggantinya dengan sandal rumah sebelum melangkah masuk. Konsernya baru selesai beberapa jam yang lalu, kini rasa lelah mengguyur setiap inci tulangnya.


Ia tidak ingin melakukan apapun malam ini kecuali memakan sisa kue pie yang tadi pagi ia masukkan ke dalam lemari es. Besok ia hanya ingin bermalas-malasan.


Selebihnya, ia ingin menghabiskan waktu bersama teman-teman, menghirup udara segar ke daerah-daerah pegunungan. Tapi sebelum itu, ada satu hari yang sangat ia nantikan. Pernikahan sahabatnya, Park Hyo Alice.


Rumor pernikahan Alice dengan Marc ternyata bukan rumor belaka. Kali ini, seminggu setelah kabar simpang-siur itu, mereka berdua mengadakan konferensi pers dan membenarkan hal tersebut.


Undangan sudah tersebar beberapa hari yang lalu. Kini, mereka semua hanya tinggal menghitung hari.


"Apa yang dilakukan calon pengantin sendirian di sini?"


Alice dan Krystal dulunya memang tinggal bersama. Tapi meskipun sekarang Alice sudah pindah ke sebelah dan tinggal bersama ibunya, Krystal tetap mengizinkan gadis itu memasuki apartemennya kapan pun dia mau. Ia juga tidak mengganti kata sandinya.


Sepotong pie sudah dalam gigitan Krystal. Gadis itu berdiri di dinding balkon sambil mengunyah dengan bibir penuh.


"Makan lah pelan-pelan. Tidak ada yang akan mencuri pie-mu," omel Alice melihat tingkah temannya.


"Khauw berhtekngar lhagi dkhengan Marckh?" ucapnya tidak jelas karena sambil makan.

__ADS_1


"Tidak," sahut Alice cepat. Ia dan Marc memang sudah terbiasa berdebat bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Tapi tidak pernah lagi benar-benar marah seperti dulu.


Hubungan mereka jauh lebih baik sekarang. Meski Marc tetap saja bertingkah sesukanya dan bicara semaunya. Dan ada satu hal yang mengganggu pikirannya saat ini.


Marc berencana tidak memperpanjang kontraknya dan berhenti menjadi artis. Pria itu lebih ingin menjadi produser film.


Sebenarnya bukan masalah untuknya. Tapi, ia suka melihat Marc beradu akting seperti biasa, terlebih lagi jika ia masih diberi kesempatan untuk beradu akting dengan Marc usai menikah nanti.


"Tidak ada hal serius. Hanya gugup mendekati hari pernikahan."


Krystal berjalan menghampirinya setelah berhenti mengunyah. "Semua calon pengantin pasti seperti itu. Tapi tidak perlu dipusingkan. Keluarga Marc baik padamu, bukan? Marc juga sudah berhenti bersikap jahat padamu."


"Hhmm."


"Kau tetap akan bekerja seperti biasa? Tidak berhenti menjadi artis?"


Alice menggeleng. "Kita masih bisa sering bertemu walau aku sudah menikah. Tenang saja, Marc sudah membeli apartemen di sini."


"Benarkah?" tanyanya antusias tidak bisa menyembunyikan nada bahagianya. "Tapi.. bagaimana dengan ibumu?"


"Apartemen kami tepat di depan apartemen ibu. Jadi hanya butuh berjalan dua langkah. Marc awalnya berencana membeli apartemen yang lebih mewah dan besar tapi aku tidak mengizinkannya. Jadi untuk saat ini seperti itu dulu."


Krystal mengangguk mengerti.


"Sayang sekali aku tidak punya pasangan untuk diajak pergi bersama ke pesta pernikahanmu. Sepertinya aku akan datang sendiri," gumamnya lesu.


"Apa aku harus mulai mencari pasangan di pesta nanti? Omong-omong Kim Hyun Soo pergi bersama siapa, ya? Tetangga sebaiknya harus pergi bersama, kan?"


Alice tertawa kecil sebelum kemudian menyikut lengan Krystal.


"Kau menyukainya ya?" tanyanya menggoda.


"T-tidak! Tidak begitu!"


"Benar kan? Hohoho, akhirnya Krystal jatuh cinta!"

__ADS_1


"Tidak! H-hey astaga! Bukan begituuu!"


__ADS_2