
Alice memandang Marc dengan dahi sedikit berkerut. Ia meneliti mata Marc, berusaha mencari arti dari kata-kata yang dilontarkan Marc padanya belakangan ini.
Tetapi pria itu, dengan setelan kasual dan aura dirinya yang memang terpancar ke seluruh penjuru hingga orang-orang yang masih jauh pun bisa merasakan efek dari pesona Marc, balas memandangi Alice dengan tenang.
Ia tidak mengerti kenapa manusia seperti ini harus dipertemukan dalam hidupnya. Alice semakin menatapnya tajam agar pria itu berhenti memasang wajah palsu seolah dia tidak mempunyai niat buruk apapun.
Kenapa pria itu mengucapkan hal-hal tidak masuk akal begitu? Apa ini salah satu jebakannya?
Seorang Marc Hyun Jo yang menganggap dirinya harus dikenal semua orang karena kelegendarisannya, kini mengajak Park Hyo Alice berkencan hanya dalam hitungan beberapa hari. Orang gila mana yang seperti itu?
Apa dia kira Alice adalah orang yang gampang dirayu hanya karena kata-kata manis? Hanya karena dia artis terkenal lalu Alice akan mendadak berubah menjadi gadis pemuja Marc? Hah! Mimpi saja dia kalau begitu.
"Hei," panggil Marc menyentakkannya.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Marc akhirnya dengan bahu diangkat sedikit. Pria itu berbalik dan kembali menekan tombol lift.
Lalu apa artinya kalau Alice tidak mau? Skinship entah apa itu akan tetap diadakan?
"K-kalau aku tidak mau?"
"Jawabannya sudah jelas kan," balas lelaki itu masih tetap memunggunginya.
Kenapa Marc menjawab setenang itu? Memangnya dia tahu skinship jenis apa yang akan mereka lalukan? Apa dia biasa melakukan itu sebelumnya?
"Itu bukan ideku."
"Apa?" tanyanya tidak mengerti.
"Skinship itu bukan ideku, kalau-kalau kau berpikir demikian. Aku juga baru mendengarnya tadi."
Alice masih merengut. Ia tidak mengerti sama sekali jalan pikir Marc. "Jadi maksudmu kolaborasi ini akan dibatalkan?"
__ADS_1
Marc tidak menjawab karena liftnya sudah datang dan pintunya terbuka. Ia melangkah masuk, berdiri paling belakang dan bersandar pada dinding lift. Sedangkan Alice sendiri masih terpaku di tempatnya memandangi Marc.
"Terserah kau saja," ucapnya sebelum pintu lift tertutup dan meninggalkan Alice yang masih belum bergerak sesenti pun.
••••
"Menurutku, dia tidak akan membatalkannya begitu saja. Bukankah dia yang menginginkan kolaborasi ini?"
Gadis berambut lurus panjang, dengan wajah sedikit lonjong, hidung mancung, tinggi langsing, memiliki wajah cantik dan dingin serta suara yang menarik, adalah junior Alice, Krystal. Meskipun junior Alice tetapi kenyataannya gadis itu sudah duluan menjalani trainee di agensi ini sebelum akhirnya berhasil debut.
Krystal tentu sudah mengenal
Marc Hyun Jo lebih lama daripada Alice. Tetapi sayang sekali, gadis ini tidak mau mendekatkan diri kepada Marc. Menurutnya Marc adalah artis papan atas yang setiap gerak geriknya selalu diawasi oleh paparazzi. Krystal tidak ingin tersedot gosip apapun dengan Marc apalagi kalau gosip itu tidak menguntungkan baginya sama sekali.
"Dia terlalu berbahaya," gadis itu memotong steaknya sebelum memasukkan ke dalam mulut. "Dekat dengannya sebentar saja besoknya sudah ada berita baru. Aku tidak ingin terlibat seperti itu. Tapi kalau kau kurasa tidak masalah. Kau sangat terkenal, loh."
Alice mendengus sebelum menyuapkan makanannya sendiri ke mulut. "Lagi pula aku tidak ingin melakukan skinship dengannya."
"Ah ya, itu memang berbahaya. Tapi dalam video musik yang bergenre romantis kurasa tidak akan timbul gosip yang aneh. Mungkin hanya skinship berpegangan tangan? Atau pelukan?"
Membayangkannya saja sudah membuat dirinya merinding. Tidak, tidak. Bukannya Alice belum pernah melakukan skinship yang lebih dari itu baik dalam sebuah drama ataupun video-video musiknya yang lain, tetapi bukan berarti ia menyukainya. Ia tidak ingin berada di posisi itu.
Posisi di mana dirinya seperti gadis yang luluh-lantak dengan pesona Marc, walau dalam video musik sekalipun.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Aku yakin dia hanya mau mengganggumu. Syuting video musiknya tinggal sekali lagi bukan? Bertahanlah senior Alice."
Ah benar. Tinggal sekali lagi. Kemudian mimpi buruknya ini akan segera berakhir.
••••
Marc duduk tepat di depan piano miliknya. Sudah lama sekali ia tidak bermain piano. Sejak kejadian itu ia tidak pernah bermain piano lagi. Pasti jarinya sekarang terasa kaku.
__ADS_1
Kesepuluh jari Marc sudah berada di atas tuts. Ia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya hanya untuk memainkan piano ini demi video musiknya. Durasi yang diperlukan tidak lah lama. Lebih kurang semenit. Ia hanya perlu memainkan piano sebentar saja. Jadi semoga ia bisa melakukannya dengan sempurna.
Marc beberapa hari yang lalu sudah mempelajari not-notnya. Bagi dirinya yang sudah belajar piano lebih dari sepuluh tahun, seharusnya bukan hal yang sulit. Tetapi setiap kali ingin memainkan piano...
Tidak boleh! Ia tidak boleh terus menerus tenggelam di masa lalu dan merasa seperti dihantui. Ia sudah memikirkannya ribuan kali jadi sudah saatnya ia berhenti merasa seperti itu.
Marc mulai menekan tuts piano. Suara dentingan piano yang merdu menerjang gendang telinganya. Membuat saraf-saraf otaknya yang tadi sempat kusut kini terasa membaik. Meskipun saat bermain piano seperti ini sebagian pikirannya melayang jauh ke masa lalu tetapi sebagian pikirannya lagi seolah tidak mau kembali ke sana.
Ia artis terkenal. Ia sang legendaris. Ia harus bisa memainkan ini. Video musiknya bersama Alice akan berakhir sebentar lagi. Ia harus menunjukkan pada gadis itu betapa hebatnya pesona seorang Marc Hyun Jo.
kriiiieettt...
Otomatis permainan piano Marc langsung berhenti. "Aku kan sudah bilang tunggu aku selesai baru masuk, manager!" protesnya dengan nada galak.
"I-ini aku."
Alice berdiri di belakang Marc dengan raut wajah terkejut. Gadis itu berdiri canggung dan terlihat enggan bercampur merasa bersalah karena mengganggu latihan Marc.
Bagaimana bisa Alice masuk kemari? Ini kan ruang latihan khusus milik Marc.
"A-aku.. itu.. t-tadi.."
"Kenapa kau jadi gagap begitu?"
Iya benar kenapa ia jadi gagap begini?! Alice bodoh!
Berdeham berusaha menghilangkan kegugupannya, Alice berkata lagi, "Manager bilang kita harus latihan bersama. Kau memainkan pianonya dan aku akan sambil bernyanyi mengikuti nada piano."
Astaga! Latihan sendiri saja ia masih sulit mengendalikan diri bagaimana jadinya kalau mereka harus latihan bersama?! Ia tidak ingin Alice melihat dirinya yang kadang-kadang bisa gemetaran hanya dengan menyentuh tuts-tuts piano. Ia juga tidak ingin gadis itu membaca gerak-geriknya dan menimbulkan kecurigaan.
"Eh, tidak apa-apa kalau kau masih ingin latihan sendiri. Aku juga belum membaca lirik lagunya dengan teliti dan-" ucapannya Alice terputus saat Marc bergeser sedikit dari tempat duduknya dan menepuk pelan bagian kursi yang kosong.
__ADS_1
"Duduk disini. Kita akan latihan."
Tadi sebelum ia masuk ke dalam ruangan, ia mendengar permainan piano Marc. Dan harus ia akui permainan piano pria itu sangat... sangat bagus.