
Sepertinya ini adalah kali kedua ia memasuki ruangan Marc. Pria itu entah bagaimana caranya bisa menjadi anak emas perusahaan hingga mungkin semua kebutuhan Marc difasilitasi bahkan sampai disediakan ruangan senyaman ini.
Ia diam saja ketika ditarik Marc masuk ke dalam, di dudukkan pria itu di sofa yang berdampingan dengan dinding kaca. Dari ekor matanya ia melihat pria itu berjalan ke sudut ruangan, membuka lemari yang menggantung di dinding dan mengambil kotak kecil.
Hal pertama yang dirasakan Alice setiap kali memasuki ruangan Marc adalah aroma ruangan yang sama persis dengan aroma lelaki itu. Tidak menyengat dan sangat menenangkan. Seolah aroma itu membuat siapapun yang menghirupnya ingin menghirup lagi dan lagi.
Lengan bajunya digulung hingga siku. Lagi-lagi ia membiarkan pria itu melakukan apapun yang dia mau terhadap dirinya saat ini. Marc duduk di samping Alice dengan tubuh sedikit mengarah kepadanya, dengan kotak obat diatas paha.
Alice tidak lihat apa saja yang dikeluarkan pria itu dari dalam kotak, ia seperti dengan sukarela menyerahkan tangannya kepada Marc yang mendadak beralih profesi menjadi dokter. Ia juga mengabaikan rasa perih ketika Marc membersihkan luka cakar yang dibuat para bedebah sialan tadi. Ia hanya fokus pada wajah Marc. Hanya wajah Marc.
Poni pria itu jatuh menjuntai melewati dahinya saat dia menunduk untuk membersihkan luka. Meskipun saat ini Alice bisa memandang wajah Marc dari dekat tapi ia tidak bisa membaca raut wajah pria itu.
Untuk pertama kali baru Alice ketahui kalau mereka bisa diam-diaman dalam jarak beberapa centi seperti ini. Dia tidak seperti Marc Hyun Jo yang biasanya. Yang ributnya mengalahkan omelan Alice, yang bicaranya asal-asalan, yang menjahili Alice dan menjungkir balikkan hatinya sesuka pria itu.
Ya, benar... Marc memang tampan. Baru ia lihat dari jarak sedekat ini kalau pria itu memang tampan. Pantas saja banyak gadis yang mengejarnya hingga rela adu jambak-menjambak seperti yang ia alami barusan. Kemana saja ia selama ini...
Dan yang membuat Alice takjub adalah... pria itu tidak bertanya apapun. Kenapa? Atau dia sudah mendengar semuanya tadi? Atau dia memberi waktu kepada Alice untuk menjernihkan pikiran terlebih dahulu?
"Apa yang membuatmu kembali?"
Alice terkejut dengan ucapannya sendiri. Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibirnya tanpa dipikirkan terlebih dahulu dan tanpa disaring. Apa bibir memang tidak memiliki filter? Atau ini desakan dari dalam hatinya?
Marc mengangkat wajah, menampilkan kedua alisnya yang sedikit terangkat dan ekspresi bertanya. Dia tidak langsung menjawab, lebih memilih menunduk kembali untuk fokus mengobati luka Alice. Kali ini Alice ikut menunduk, menatap tangannya yang sedang diolesi Marc dengan obat salap anti bekas luka.
"Aku pergi untuk mencari tau kebenaran dari masa lalu."
Sambil meniup-niup luka Alice yang baru saja dioles obat, Marc kembali melanjutkan. "Tentang kematian Soo Jin. Orang yang paling aku sukai di dunia ini."
Soo Jin? Siapa itu?
"Beberapa tahun sejak aku terkenal di industri hiburan, ada skandal yang menimpa. Mereka mempertanyakan siapa yang membunuh Soo Jin? Apa itu murni kesalahan teknis? Atau ada oknum dibalik layar? Atau jangan-jangan pihak Marc yang melakukannya? Seperti itu."
Alice bergeming. Ia masih belum mengerti. Tentu saja beberapa tahun yang lalu, akibat insiden bertemu Marc di luar negeri, ia menjadi tau kalau pria itu memang pria terkenal. Di mulai dari seorang wanita gila yang mengejar Marc dan mengikuti kemanapun pria itu pergi.
"Kasus itu kubuka lagi. Orang-orang yang dulu pernah dianggap terlibat dan diwawancarai kini aku mencarinya lagi dan bertanya. Benar-benar hanya bertanya tanpa mau menjebloskannya ke penjara manapun. Aku hanya ingin tau, bukan untuk menguak ke publik. Saat kejadian itu terjadi aku hanya anak berusia belasan tahun yang tidak mengerti apa-apa dan tidak bisa melakukan apapun. Jadi saat orang-orang sudah mengenalku dan ada yang mengungkit hal itu, aku rasa aku harus melakukan sesuatu."
__ADS_1
Marc mengangkat tangan gadis itu, menunjukkan padanya bahwa ia sudah selesai membalut dengan perban. Membuat Alice mengerjap karena baru menyadari sedari tadi hanya menatap wajah Marc.
Ya... sampai diperban. Cakaran mereka mengerikan. Bagaimana caranya ia menutupi luka-luka ini untuk konser yang hanya tinggal satu hari lagi?
Dia bangkit dari duduknya, mengembalikan kotak obat pada tempat semula kemudian menghilang di balik lorong yang menuju pantry sepertinya.
"Kau mau minum apa?" tanya Marc dari balik tembok sana.
"Apa saja," jawabnya baru menyadari kalau ternyata ia haus juga.
Marc kembali dengan dua minuman kaleng di tangan, menyodorkannya pada Park Hyo Alice sebelum menjatuhkan dirinya lagi di sofa. Kali ini jaraknya sedikit lebih jauh dari yang sebelumnya.
"Lalu..." setelah berdeham dan ingin melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda, Alice bertanya lagi. "Apa yang kau temukan setelah mencarinya?"
Gerakan tangan Marc yang hendak minum terhenti. Tiba-tiba nyeri di dadanya kambuh lagi setelah beberapa waktu yang lalu ia mencoba meredamnya. Ternyata rasa sakitnya masih saja sama. "Wanita itu sendiri yang membunuhnya."
"Siapa?"
"Ibunya."
"Apa?!" Alice tidak bisa menahan rasa terkejutnya dan teriakannya keluar begitu saja.
Marc sedikit meremas minuman kaleng di tangannya yang sudah kandas. "Aku menemui wanita itu. Dia mengalami depresi berat. Orang-orang hanya tau kalau dia depresi karena telah kehilangan putrinya, orang-orang selama ini beranggapan kalau dia sangat amat menyayangi putrinya, walaupun yah... aku sedikit meragukan hal itu."
"Soo Jin bukanlah anak suaminya. Setelah menikah, ibunya berselingkuh dengan pria lain, menghasilkan Soo Jin yang suaminya kira selama ini Soo Jin adalah darah dagingnya." Dia bahkan tega membohongi suami dan anaknya. "Ayah biologis Soo Jin seorang pianis, sudah menikah dengan wanita lain dan tidak memperdulikan ibu Soo Jin. Jadi yah.. mungkin ibu Soo Jin berada di posisi yang sulit dan serba salah hingga tega membunuh Soo Jin."
Pasti setiap melihat Soo Jin dia teringat pada selingkuhannya. Pasti saat melihat suaminya sendiri ia merasa bersalah. Pasti saat melihat selingkuhannya sudah bahagia dengan wanita lain dan tidak memperdulikannya beserta anak yang mereka hasilkan, pasti membuatnya sangat marah. Setidaknya begitu yang bisa ditangkap Marc.
"Aku pernah mengalami masa-masa sulit saat masih kecil. Dan Soo Jin satu-satunya teman yang kumiliki yang mengerti seperti apa keadaanku."
Ia harus merespon apa sekarang? Rasanya ia hanya bisa tertegun diam mendengarkan alasan kenapa Marc sempat berhenti.
"Jadi kau... bukan benar-benar meninggalkan dunia hiburan?"
"No," jawab Marc cepat. "Aku bahkan tidak pernah terpikir untuk meninggalkan ini."
__ADS_1
"Lalu kenapa kau tidak mengklarifikasi bahwa bukan kau atau pihak darimu yang melakukan insiden itu? Kenapa kau diam saja saat semua orang menerka-nerka dan menjelekkanmu?"
"Tidak apa-apa. Toh, orangnya sudah tiada, kan? Wanita itu juga sudah mengalami depresi. Untuk apa? Saat ini yang kubutuhkan adalah mengobati perasaanku dan melanjutkan hidup."
Alice menatap tangannya yang diperban. Ada benarnya juga ucapan Marc. Tapi sekarang justru ia yang kesal mendengar semua ucapan orang-orang di luar sana. Rasanya ia ingin teriak bahwa Marc bukanlah orang yang seperti itu.
"Omong-omong.. ini.. terimakasih," ucapnya seraya menunjuk tangannya sendiri.
Marc mengalihkan pandangannya, merasa kesal pada gadis-gadis tadi dan ingin mencongkel mata mereka satu persatu. Apa memang begitu cara berkelahi wanita? Tidak bisa ya kalau tidak keroyokan?
"Haahh, mereka itu akan kuberi pelajaran," desis Marc.
Marc beranjak, berdiri di depan Alice yang kini menengadahkan kepalanya. "A-a..apa?"
Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan memandang gadis di depannya dengan kesal. "Jangan memancing amarah mereka. Aku tadi dengar kau mengatakan, sudah sampai mana ya aku dan Marc bersentuhan. Benar kan?" omel Marc sambil menirukan cara bicara Alice beberapa saat yang lalu.
Rona merah menjalar di sekujur wajahnya dengan cepat. "H-hei! A-aku tidak bilang begitu!"
"Apa? Kau memang berkata begitu. Aku tidak salah dengar."
"T-tidaaakk! Pokoknya tidak!" bantahnya cepat menahan malu.
Marc mencibir. "Tidak perlu malu. Memangnya kita..."
Tiba-tiba Marc menjatuhkan diri di sampingnya, dengan mengikis jarak di antara mereka, dan badan yang sedikit condong kepadanya. Alice otomatis menarik bantal sofa untuk menutupi bagian depan tubuhnya entah supaya apa.
Pria itu mendekatkan wajahnya lagi, hingga Alice memundurkan kepalanya namun gerakannya terhenti saat menyadari wajah Marc benar-benar dekat.
Astaga. Astaga. Astaga. Ambyar sudah pikiranku!
"Kita kan sudah pernah..." Marc sedikit bibirnya mempraktekkan gaya kissing, tanpa wajah berdosa. Catat. Tanpa rasa berdosa. Bisa gila aku!
"T-tapi k-kan... itu tidak..." harus sekali ia mengingat kejadian itu lagi dan memperjelasnya di depan Marc?!
"Tidak sengaja?" sambung Marc. Manik kecoklatan pria itu menyipit membentuk senyum penuh arti dan ada kilatan jenaka-jahil yang terpancar.
__ADS_1
Ia pasti sudah disengat sesuatu hingga saat melihat bibir Marc yang berwarna merah menggemaskan itu, membentuk senyum miring, jantung Alice seakan melonjak dan hampir melompat dari tempatnya. Tahan. Tahan. Tahan!
"Yang sengajanya, kapan? Boleh sekarang?"