
Aku menatap kosong kearah depan. Mataku sudah terlalu lelah untuk menangis, dan kaki ku sudah tak sanggup untuk melangkah.
Aku mengenggam erat plastik bening yang kubawa. Mataku menatap kosong jalanan yang sepi, seolah tak ada kehidupan saja.
Aku tertawa hambar. Mencoba meluapkan semua pedih yang kurasa. Aku menoleh kearah samping ketika ada cahaya yang menyinarinya dibawah gelapnya malam.
Mobil. Aku tau aku akan ditabrak. Aku tersenyum seraya melambaikan tangan seolah menyambut mobil itu.
“Hai,” Sapaku lirih sedetik sebelum kecelakaan itu terjadi.
🌵
Piip piiip piip! Suara monoton itu sudah berputar entah berapa kali, mungkin seribu? Ah entahlah. Aku melirik jendela. Cuaca hari ini sedang bagus, cerah.
Aku melirik infus yang ada ditanganku. Tidak ada rasanya.
Ah, aku sudah tidak bisa merasakan apa apa sejak semalam, sepertinya. Kekeh ku hambar.
Mataku mencoba tertutup untuk tertidur, namun tidak bisa.
Aku menggerang kesal, seraya mengambil Headphone Bluetooth yang dibawakan mama. Aku menekan tombol ‘on’ seraya mencari lagu yang sekiranya bisa membuatnya tertidur.
That should be me .
“Everybodys laughin in my mind
Rumors spreadin about this other guy
Do you do what you did when you did with me?
Does he love you the way I can?
Did you forget all the plans that you made with me?
'Cuz baby I didnt..”
__ADS_1
Lagu itu berputar sempurna di telingaku. Aku mengambil segelas air lalu meneguknya dengan kasar. Aku terkekeh kencang dengan hambar.
“That should be me, holdin your hand
That should be me, makin you laugh
That should be me, this is so sad
That should be me, that should be me
That should be me feelin' your kiss
That should be me, buyin you gifts
This is so wrong, I cant go on.”
Tanpa sadar air mata menetes dari sudut mataku, namun aku masih tetap tertawa hambar.
Hai, Kaylina. Ternyata kamu sangat bodoh ya selama ini? Hahahaha Kekeh ku hambar. Lagu itu masih terus berputar dengan lembut di telingaku.
Hatiku sakit. Seperti ada yang menusuk dari dalam. Namun rasanya lebih baik.
Bahkan ketika kecelakaan mobil itu terjadi aku tidak merasakan apa apa. Semuanya hambar. Apa putus cinta seburuk itu?
“Said you needed a little time from my mistakes
Its funny how you used that time to have me replaced
Did you think that I wouldnt see you out at the movies
What cha doin' to me?
You're taking him where we used to go.”
Aku mengambil nafas panjang sejenak. Sesak, namun aku tak ingin berhenti menyakiti diri ku lagi. Apa ini? Kenapa rasanya lebih baik menyakiti diri sendiri dari pada tak dapat merasakan apa pun?
__ADS_1
“Now if you're trying to break my heart
It's workin, cuz you know.” Lirihku yang tanpa sadar adalah lirik lanjutan dari lagu itu. Aku tertawa hambar. Tatapan ku kosong menghadap depan seolah tak memiliki kehidupan.
“Hai, Kaylina. Apa kamu gila sekarang?” Lirihku pada diri sendiri. Aku mengusap layar ponselku dan detik itu juga air mata mulai muncul.
“Menyenangkan sekali.”
“Gerald!” Pekikku dengan kencang. Aku melangkahkan kaki mendekati seorang cowok yang menatapku heran.
“Hai! Bukan kah kita tidak sedang janjian disini? Kenapa kamu kesini?” Tanyaku dengan polosnya. Cowok itu berdehem, ia menatapku dari atas kebawah. Tanpa bicara.
Aku menoleh pada gadis disebelahnya. Ia tampak keheranan. Dan—anehnya kenapa mereka bergandengan? Aku mengambil nafas pendek, seraya mencoba tersenyum.
Kaylina, mereka mungkin saudara kan? Ayo berpikir yang baik!Batinku masih berusaha berfikir positif.
“Gerald—”
“Sayang, siapa dia?” Tanya gadis disebelahnya penasaran, ia melirik pada Gerald yang diam.
“Dia penganggu, Angeline. Tidak usah hiraukan ****** ini.” Sahut Gerald seraya berjalan pergi menggandeng cewek itu.
Apa? J—jalang? Batinku kaget. Apa maksudnya? Aku pacarnya!
“Gerald! Gerald! Apa yang kamu lakukan? Ulang tahunku masih lama! Tolong jangan berbohong begini..” lirihku dengan lemas, cowok itu menatapku tajam, sementara gadis disebelahnya berlari ke belakang Gerald, seolah meminta perlindungan.
“Apa yang kamu bicarakan?! Aku tidak mengenalmu!! Berhenti bersikap seperti wanita murahan!”
Aku terkekeh hambar mengingatnya. Tanganku terngkat untuk menarik infus yang tertempel di tanganku.
“Benda bodoh apa ini? Aku tidak memerlukannya.” Gumamku seraya melempar tiang infus itu hingga terjatuh dengan suara keras.
Beberapa suster datang menghampiri dengan panik. Aku tertawa senang.
Ah, astaga meluapkan emosi sungguh menyenangkan. Apa kau gila ya? Hahahaha!
__ADS_1