
Aku membuka mataku perlahan ketika merasakan rasa hangat yang selalu ku rasakan di pagi hari. Rasa hangat dari cahaya matahari yang berusaha mencari celah di balik tirai jendela, dan pelukan erat Davila.
Aku perlahan mengusap mataku pelan, berusaha memfokuskan pandanganku yang masih buram. Perlahan pandanganku mulai fokus, pandangan pertama yang kulihat adalah wajah sempurna Davila.
Cowok dengan rambut yang kini berwarna coklat itu tengah memejamkan matanya dengan tenang. Nafas hangatnya terasa menyapu wajahku dengan lembut.
Aku tersenyum kecil. Wajah Davila begitu polos saat ia tertidur, seolah ia tak memiliki beban. Aku menggerakan tanganku pelan, mengusap dahi Davila yang putih dan mulus, tanpa satu pun jerawat atau bruntusan. Benar benar mulus, tanpa cela.
Tanganku mulai turun kearah hidung, hidungnya yang mancung seperti perosotan di taman kanak kanaknnya dulu.
Apa hidung ini oprasi? Ah, aku tidak yakin Davila mau repot repot melakukan operasi dan segala galanya. Aku membatin tak yakin.
Tanganku bergerak kearah pipinya. Pipi yang lebih Chubby dari pertama ia bertemu Davila di restoran. Diam diam Aku tersenyum senang, seraya mencubit pipi itu pelan.
Terdengar suara erangan, namun Davila masih tertidur. Aku menggerakan jemariku kearah tengah, menyentuh bibir Davila yang penuh.
Those lips look good.. Aku membatin tanpa sadar, membuka bibir Davila pelan. Aroma mint mulai tercium, menyeruak di indra penciumanku.
Pasta gigi apa yang ia gunakan, ya? Aku bergumam dalam hati, memainkan bibir Davila yang penuh dan tebal.
Bagaimana bibir ini bisa merah ya? Padahal Davila tidak pernah terlihat merawatnya sama sekali! Dalam hati aku mulai membandingkan warna bibir cowok itu dengannya.
Bibirku mengerucut sebal kala sadar bahwa bibir Davila tampak lebih terawat daripada dirinya.
Tidak adil! Padahal setiap malam aku memakai Lip Mask!Aku juga sering memakai Lip Balmdan Lip Tintyang bagus! Aku mengerutu kesal. Kemudian menyenderkan kepalaku pada dada bidang Davila.
Tuhan, apa aku egois jika tidak mau tubuh ini disentuh oleh orang lain? Aku memejamkan mataku pelan, menikmati hembusan nafas Davila yang tenang.
Maaf aku egois.
✎ᝰ
Aku mengeringkan rambutku perlahan dengan Hair Drayer dan sisir di kanan dan kiri tanganku. Aku menatap kaca dengan fokus, berharap rambutku akan rapi.
“Cepatlah. Aku lapar.” Davila sudah mengeluh didepan. Aku berdecak malas, sepertinya sudah 4 kali cowok itu mengeluh—oh ralat—ditambah satu jadi sudah 5 kali.
“Kamu duluan sajaa,” Aku berujar enteng, namun tiba tiba pintu toilet terbuka lebar. Davila sudah berdiri di sana seraya berkacak pinggang, malas.
Aku meneguk ludahku pelan.
“Baiklah ayo, tuan Davila.” Aku tersenyum menahan kesal, Davila tersenyum mendengarnya, cowok itu menarik tanganku tanpa dosa.
__ADS_1
✎ᝰ
“Bunda mau buat Cookies?” Aku bertanya antusias, seraya meneguk segelas susu strawberry didekatku. Aku tidak pernah menyangka, ternyata selama ini Cookies yang di berikan Davila saat ia menunggu di kantor adalah buatan Bunda.
Pantas sangat enak! Aku membatin berapi api, sangat bersemangat untuk membuat kue itu bersama. Pasti menyenangkan!
Wanita paruh baya yang berwajah cantik dan awet muda itu mengangguk.
“Iya, sayang.” Balas Bunda ikut senang. Wanita itu berujar, memberi tahu bahan bahan yang akan digunakan.
“Wah! Pasti menyenangkan! Aku mau ikut!” Alyn berseru senang, gadis itu tersenyum lebar hingga lesung pipitnya timbul cukup dalam. Bunda tertawa kemudian mengangguk.
“Tentu saja.” Balas Bunda. Aku tersenyum, membayangkan membuat Cookies bersama Bunda dan Alyn, pasti menyenangkan! Astagaaa aku tidak sabar!
“Kapan bunda?” Aku bertanya, seraya meletakkan sendok dan garpuku di atas piring yang sudah kosong, wanita itu menopang pipinya sebentar.
“Bagaimana sore ini? Nanti siang kita akan membeli bahan-bahannya,” Bunda memberi usul, yang langsung aku dan Alyn setujui.
Davila melirik, seraya meneguk gelas terakhirnya.
Piipp piip! Suara ringtone ponsel bergema cukup keras, membuat Aku, Alyn, dan bunda menoleh pada asal suara, ponsel Davila.
Cowok itu menoleh acuh seraya mengambil ponselnya, aku sempat melihat nama kontak yang tertera disana. “Anak pungut”,
“Apa?” Davila berujar langsung, tanpa salam dan sopan. Aku berdecak malas tanpa sadar.
Tidak sopan!
“Jadi kamu masih ingat rumah?” Davila melanjutkan, cowok itu hendak bangkit dari kursinya.
“Tentu.” Davila berujar seraya berjalan menjauh, aku berjalan pelan, menguntit cowok itu dari belakang.
Aku penasaran..
“Kapan?” Davila bertanya pelan, pada orang di balik sambungan telepon itu. Aku melirik. Mendekatkan telingaku.
“Jangan terlambat.” Kemudian cowok itu mematikan sambungan. Ia membalikkan badanya dengan cepat.
Bruk!
“Awhh!” Aku melirih kesakitan ketika merasakan dada bidang cowok itu menubruk dahinya. Sakit!
__ADS_1
Davila mengangkat satu alisnya bingung, kemudian sedikit membungkuk untuk mengusap dahiku.
“Kamu mengikutiku.” Ucapnya pelan, seraya menyentil dahiku.
“Awh! Sakit!” Aku berucap kesal, cowok itu tersenyum pelan, membuat tubuhku seolah tersengat sesaat.
Davila mendekatkan bibirnya pada dahiku. Menciumnya lembut. Aku terlena hingga beberapa saat sebelum akhirnya cowok itu menarik tanganku pelan, menuju meja makan.
“Siapa tadi, Davila?” Bunda mulai bertanya, Davila kembali duduk dikursinya.
“Saga akan pulang.”
✎ᝰ
Aku menoleh mendapati Davila sudah berdiri dibelakangku, cowok itu memeluk tubuh ku dari belakang seraya menggesekan hidungnya di lekukan leherku.
“Geli, Davila!” Aku berusaha menjauhkan leherku, namun sia sia, cowok itu sudah memelukku erat, mustahil untuk pergi sekarang.
Davila menjauhkan hidungnya pada leherku, kemudian meletakan dagunya di bahuku. Cowok itu kini bersikap manja, aku tidak tau kenapa.
Mungkin dia salah minum obat. Aku membatin, berusaha berfikir positive.
“Jangan terlalu dekat dengan Saga nanti,” Bisik Davila di telingaku. Aku bergidik pelan kemudian menggeleng.
“Tidak,” Balasku patuh, Davila tersenyum senang kemudian mencium lekukan leherku singkat.
“Good girl.”
✎ᝰ
“Tuan, Tuan muda Saga sudah sampai,” Suara formal itu terdengar lumayan keras, aku menoleh pada Davila, seraya menoel-noel pipinya.
“Davila, apa kamu dengar itu?” Aku bertanya pelan, Davila melirik tanpa minat.
“Hmm,” Balasnya acuh, masih asyik dengan siaran televisi dihadapannya, cowok berambut coklat itu menggerakan kepalanya yang berada di atas pahaku perlahan, mencari posisi yang nyaman.
Aku berdecak malas, seraya mengusap rambutnya, mengacak acak rambut coklat itu.
“Terserah.” Aku berujar putus asa, seraya ikut menonton film yang terputar di televisi.
Jangan membayangkan film yang terputar adalah film biasa yang sudah biasa terputar di channel-channel biasa di televisi, karena nyatanya Davila memiliki semacam “Netflix” dengan beragam film kelas atas yang lengkap. Sungguh, hidup cowok itu benar benar bergelimang kemewahan.
__ADS_1
Tiba tiba pintu kamar terbuka paksa, menimbulkan suara yang cukup keras. Aku menoleh spontan, begitu pula Davila. Cowok itu mengerutkan kening, seraya bangkit dari posisinya ketika melihat seorang cowok dengan rambut light blonde berdiri terengah engah disana, dengan senyuman menyeringai.
“Jadi ini, Graciliya De Gavellyn?”