Liberosis

Liberosis
#2: Perusahaan papa


__ADS_3

Aku menenteng beberapa map bening yang biasa aku pakai untuk proposal yang ditugaskan beberapa atasan kerjaku.


Menyusahkan, tapi itu kewajibannya.


Aku mengambil segelas soda seraya meneguknya habis.


Pagi dimulai lagi. Burung burung mulai berkicau ringan seolah menyapa seisi Apartement megah itu.


Langit pagi ini tak bersahabt. Langit kelabu yang seolah memberi tanda akan ada hujan.


Menarik.


Aku menutup pintu apartement seraya berjalan kearah Lift. Aku ingin cepat menyelesaikan pekerjaanku. Aku ingin berdiam diri dirumah untuk hari ini saja.


🌵


Aku berjalan santai di kantor. Suara derasnya hujan terdengar kencang, seperti menyenangkan. Aku menekan tombol lift menuju lantai yang kumau, lantai 10.


Lantai 10, tepat yang sangat nyaman untuk mengerjakan proposal dan berkas. Ruangan itu selalu menjadi tempat favorit pegawai di perusahaan itu, namun akhir akhir ini mereka tak sempat mengerjakan berkas mereka disana karena mengejar deadline dan segala macamnya.


Perusahaan ini menerapkan sistem bila sudah selesai mengerjakan berkas berkas sudah boleh pulang dengan izin petingginya. Sehingga aku selalu bisa pulang lebih awal dan mengurung diri.


Aku meletakkan bokong ku di sofa kecil yang empuk di pojok ruangan. Sepi.


Aku mulai membuka Macbook ku dan membuka beberapa revisian yang diminta Tuan Franklin.

__ADS_1


🌵


Hujan masih dengan tenang mengguyur kota Los Angeles. Seolah tak berhenti, bahkan tambah deras di setiap beberapa menit.


Aku meletakkan kertas kertas itu. Selesai. Akhirnya aku bisa menikmati satu cup mie instan di kamar seraya mendengarkan musik. Ah, menyenangkan!


Aku merapikan berkas itu seraya berjalan cepat kearah lift. Mataku menjelajah ke seisi lorong. Sepi sekali, apa para pegawai masih berada di meja masing masing? Rajinnya.


Aku mengambil ponselku seraya melihat media sosial, mencari informasi menarik yang sedang Booming akhir akhir ini.


Tanpa sadar jemarinya menekan satu berita terbaru yang sedang hangat. Ia menatap berita itu dengan santai. Namun sedetik kemudian matanya membulat kaget.


Perusahaan Airlangga group hampir mengalami kebangkrutan. Perusahaan Airlangga Group tampak sedang berusaha menyelamatkan perusahaannya. Begini rinciannya


Airlangga Group. Perusahaan papa.


🌵


Aku meletakkan berkas itu di meja Tuan Franklin, pria itu memutar kursi kerjanya menghadapku yang menatap kosong.


“Kaylina.”


“I—ya tuan?” Lirihku tersadar, aku menoleh pada pria itu seraya menegakkan punggungku.


“Aku tau perusahaan ayahmu sedang dalam ujung tanduk.” Ucap Tuan Franklin pada intinya, ia menatap ku serius.

__ADS_1


“Tapi. Setelah aku menghubungi beberapa rekan ku, ternyata tidak.”


“Apa maksud tuan?” Gumamku tak mengerti, pria itu berdehem pelan


“Kay, perusahaan ayahmu sudah dibantu oleh De Gavellyn Crop.”


🌵


Aku melangkah cepat keluar dari lift setelah pintu terbuka, langkahku yang tergesa mengundang rasa penasaran beberapa karyawan.


“Kay kenapa ya?” Gumam seorang gadis, ia menoleh pada gadis disebelahnya dengan penasaran.


“Gatau.”


“Kay, sini, papa mau bicara.”


Aku berlari dengan cepat, jantungku sudah berdebar tak karuan memikirkan apa yang akan papa sampaikan.


Papa gak mungkin jodohin aku sama pemilik perusahaan De Gavellyn kan? Jerit batinku penuh tanya, aku membuka pintu mobilku dengan cepat dan menyalakannya dengan cepat.


Hujan masih terus turun. Seolah takdir sudah tau bahwa hari ini memang sepantasnya hujan turun, untuk seorang Kaylina.


Piiiippp! Piip! Ponselku bergetar, seseorang tak dikenal. Aku menoleh seraya mengambil ponselku denagn tergesa.


“Apa kamu panik?”

__ADS_1


__ADS_2