
“Davilaa!! Pakai bajumuu! Aku mau mandi!”
🌵
Aku berdecak seraya mengambil asal baju yang ada di lemari. Aku baru tau, ternyata Sekertaris Davila sudah menyiapkan segala keperluanku bahkan sebelum kami menikah, wah.
Aku mengambil asal baju itu seraya berdecak malas, mengingat kejadian beberapa menit lalu.
“Davilaa!! Pakai bajumuu! Aku mau mandi!”
Namun, bukannya merasa malu, Davila malah maju berjalan mendekatiku dengan wajah menggoda.
“Apa kamu menyukai tubuhku? Hah?”
“Tidakk!! Menyingkirlah aku mau mandii! Davila!” Aku meronta kesal, Davila sudah berada di depanku, dan sialnya cowok itu terlalu tinggi hingga dada bidang cowok itu benar benar di depannya sekarang.
“Menyingkirlah..” lirihku memohon. Davila tertawa jahat, ia memeluk tubuhku dengan paksa. Aku meronta dengan membabi buta, namun kekuatan Davila terlalu kuat, tidak sebanding.
“Diamlah, sayang.” Goda Davila seraya terkekeh, aku berdecak seraya terus berusaha melepaskan tubuh Davila.
Akhirnya cowok itu melepaskan pelukannya, namun tangannya dengan iseng menarik daguku menghadap kearahnya.
“Kamu sangat pendek.” Ucapnya keji tanpa perasaan.
“Apa? Aku tidak pendek! Memang kamu yang terlalu tinggi! Tau?!” Bela ku tak terima, Enak saja!
“Cerewet sekali, ish! Telingaku sakit tau!” Protes Davila kesal, cowok itu mencubit pipiku dengan kejam, sakit!
“Keringkan rambutku!” Perintahnya seraya melempar handuk yang tadi, dan menunjuk Hair Dryer.
“Kenapa aku harus menurut?” Gerutuku, namun tetap mengeringkan rambut cowok itu.
“Aku suami mu, bodoh!” Cetus Davila.
Aku bergidik ngeri. Kejadian bodoh apa itu? Hih!!
Aku bergumam. Lemari itu sebagian besar berisi Dress, dan rok. Membosankan. Aku beralih pada lemari disebelahnya, baju Davila!
Banyak sekali baju yang menarik! Hoodie Oversize, kaos Oversize dan lainnya! Menyenangkan!
Aku mengambil satu kaos Oversize dan celana Jeans pendek di lemariku.
Ini akan sangat nyaman!
🌵
Davila mendengus sepanjang perjalanan. Cowok itu kalah beradu argumen denganku beberapa menit lalu, sehingga ia mendengus kesal.
Ah, biarlah. Kan yang penting aku senang.
Aku terkekeh dalam hati mengingat argumen yang terjadi beberapa menit lalu, lucu saja. Masa hanya karena pakaian cowok itu kesal? Tidak masuk akal!
“Davila, aku harus ke kantor untuk membereskan beberapa barangku yang—”
“Itu bajuku!” Davila memotong seraya menarik kaos putih yang aku pakai. Aku menoleh pada kaos itu seraya mengangguk.
“Ya. Kamu tidak memberiku kaos polos, aku tidak suka Dress dan rok!” Ucapku.
“Lagi pula kaos ini sangat nya—”
“Apa kau tidak memakai celana?” Davila menggeram, ia menarik kaos itu agak keatas sehingga memperlihatkan celana Jeans hitam pendek yang aku kenakan.
“Hei!” Aku menarik kaos itu dan aku aku
Aku menarik baju itu, mengembalikan pada tempatnya. Wajah Davila merah pias, ia menggeram marah.
__ADS_1
“Itu kaosku!” Davila menggeram kesal, ia menarik kaos itu, sehingga aku ikut tertarik dan menabrak dadanya.
“Sakit, Davilaa!” Cowok itu tampak melepas jaketnya seraya melilitkannya di pinggangku.
“Apa kamu pikir ini sedang musim panas? Apa bagusnya memamerkan paha? Hah?” Cowok itu menggerutu masih asyik melilitkan jaket hitamnya.
“Iya, maaf aku menggunakan kaosmu.” Ujarku meminta maaf, Davila mengangkat daguku seraya mendekatkannya pada wajah cowok itu.
“Aku marah karena kamu memamerkan pahamu! Kamu sudah menikah dengan ku, Kaylina Grace..” desis cowok itu, seraya menarik tanganku.
“Ayo.”
🌵
“Aku beri kamu waktu 15 menit.” Davila berujar langsung ketika mobil Lamborghini Veneno nya sampai di Perusahaan tempat ku bekerja.
“Kamu tidak mau ikut?”
“Tidak.” Balas Davila cepat. Aku mendengus seraya turun.
“Iya iya.”
🌵
“Kalo boleh jujur, sebenarnya saya kecewa jika kamu meninggalkan perusahaan ini. Kamu.. kamu adalah Pegawai kesukaan saya.” Tuan Franklin berujar formal, matanya fokus dan tegas.
“Baiklah. Gaji mu bulan ini aku sudah transfer. Kamu boleh pergi.”
“Tuan—anda tidak perlu mentransfer—”
“Kamu pegawai kesukaan saya.” Potong Franklin, aku mengangguk kaku seraya keluar dari ruangan.
Jadi, begitu... Lirihku, aku berjalan menuju mejaku seraya membereskan beberapa barang disana.
“Kay! Aku sudah lama tidak melihatmu! Aku kangenn..” Suara Jeff menggema, hingga beberapa karyawan berseru menggoda.
Aku menggeleng seraya mempercepat gerakan tanganku.
“Aku sudah menikah.” Potongku sarkas seraya menata ulang barang barangku.
Celetukan celetukan karyawan menggema ramai, Jeffery menelan ludahnya sendiri.
“Kay, ayo lah jangan berbohong, aku tau—”
“Jangan menyentuhku, ********!”
BRAK!
Cowok itu terjatuh karena tendanganku. Kurang ajar! Bagaimana bisa ia semurahan itu menyentuhku!
“Owhh!!” Para karyawan tergelak kaget, Jeffery memegang sudut bibirnya yang berdarah.
“Kay, aku—”
“Sayang, kenapa kamu lama sekali?” Suara khas Davila terdengar dekat. Aku menoleh kaget cowok itu berwajah masam.
“Kamu siapa?” Jeffery berujar, ia menatap Davila lekat.
Jeffery bodoh. Davila tak akan suka jika kamu menatap matanya seperti itu. Gumam ku seraya mendekatkan diri pada Davila.
“Aku suami sah Kaylina. Salam kenal, Jeffery Wathsons.” Davila tersenyum sinis seraya mendekatkan wajahnya pada Jeffery.
“Seharusnya kamu merasaka akibat dari perbuatanmu dalam 3 hari kedepan.” Desis Davila lumayan kencang.
“Tapi aku tidak tau apa kamu masih bisa hidup setelah itu atau tidak.”
Whus! Seisi ruangan hening. Jeffery mematung kaget.
__ADS_1
“Ayo,” Davila merangkul ku dengan santai keluar dari kantor lamanya.
“Davila...” cicitku takut sembari memegang lengannya.
“Diam.”
🌵
Davila mengendarai mobilnya dengan cepat, wajahnya masam dan rahangnha mengatup.
“Maaf.” Lirihku takut. Cowok itu berubah ketika sedang marah.
“Siapa dia?” Davila berseru dingin, tatapannya fokus kedepan.
“Dia satu kantor denganku. Aku tak sudi memanggilnya teman. Murahan, mengerjarku seolah aku adalah harta.”
“Mengangguku hingga aku memilih membanting ponselku, hari itu.” Lanjutku menatap matanya. Cowok itu mulai melunak, ia mengambil nafas dalam.
“Maaf.” Lanjutku.
“Aku tidak suka miliku disentuh orang lain, Kay.” Davila melirikku sebentar.
“Dan kamu milikku Kaylina Grace.”
🌵
Davila berakhir di pusat perbelanjaan. Cowok itu memaksa Kay untuk membeli baju yang ia mau, dengan catatan: tidak berbahan minim.
“Davila, ini sangat lucu..” Gurau ku seraya menunjukan Tank top.
“Lihat.” Seruku seraya meletakkan Tank top itu di dadaku.
“Tidak.” Tolak Davila spontan, aku mendengus seraya meletakkan Tank top itu pada tempatnya.
Aku beralih ke tempat Hoodie.
“Davila! Ini sangat lucu! Ayo kita Couple!” Aku menyerahkan dua Hoodie kolaborasi dengan Shawn mendes yang terlihat lucu.
Davila meraihnya seraya mengangguk.
“Hm.” Ujar Davila seraya memasukan dua Hoodie itu kedalam keranjang.
Apa? Davila mau Couple denganku? Yay!
Davila meletakkan Keranjang itu di kasir seraya membayar beberapa pakaian dengan cepat.
🌵
“Kamu mau kemana?” Davila mengeluh malas, ia sudah memberikan pakaian yang di beli Kay kepada sekertarisnya.
“Kamu mau menonton?” Aku berucap seraya menyedot minuman Xing Fu Tang kesukaanku.
“Aku sudah memiliki bioskop dirumah.” Balas Davila acuh. Ia melirik minuman yang aku minum.
“Eh, iya ak—”
Srottt! Davila meminum Brown sugar boba itu. Namun dalam sekejap rautnya berubah, lucu.
“Apaan ini? Terlalu manis!” Davila merampas minuman itu seraya melemparnya dan tepat ke tempat sampah.
“Eh! Yah! Padahal bobanya masih banyaaak...!” Cetusku kesal. Davila mencubit pipiku kencang.
“Diam. Katanya mau menonton?” Davila berujar seraya berjalan lebih dulu.
__ADS_1
“Di rumahmu sungguh ada?” Tanyaku seraya berjalan mendekat.
“Hm.”