Liberosis

Liberosis
#1: tak ingin bangkit


__ADS_3

Aku meletakkan berkas yang sudah selesai diatas meja kerjaku. Aku meneguk satu cup Caramel Machiatto dengan perlahan.


“Kay, sudah mau pulang?” Seorang cowok berucap dengan nada santai, ia berjalan mendekatiku. Aku mengangguk seraya dengan cepat mengambil setumpuk berkas itu dan berjalan cepat untuk meletakkannya di meja CEO perusahaan itu.


“Wah, aku tidak percaya Kay menolakmu lagi, Jef!” Kekehan para pegawai lainnya juga terdengar nyaring. Jeffery—cowok itu—tersneyum kesal.


“Kay? Apa kau ada waktu malam ini?” Teriak Jeff kencang. Aku menggeleng. Tak menyahuti cowok itu dengan ucapan.


Maaf. Aku tidak percaya cinta. Cinta terlalu ******* untuk dirasakan lagi. Batinku tenang. Aku mengetuk pintu ruangan petinggi perusahaan itu dengan pelan.


“Masuk.” Aku mendorong pintu ruangan itu dengan lengan seraya masuk dan meletakkan berkas itu di meja Franklin. Salah seorang petinggi perusahaan ini.


“Sudah selesai tuan.” Ucapku tanpa basa basi, bosnya itu melirik seraya mengangguk.


“Kamu boleh pulang sekarang. Selamat beristirahat.” Ucap Tuan Franklin formal. Aku menunduk hormat kemudian berjalan pergi untuk pulang.


Selamat beristirahat? Apa itu.


🌵


Aku mengucir rambutku dengan karet seraya merebahkan diriku pada kasur.

__ADS_1


Dingin sekali, ini menyenangkan. Batinku dengan senang.


Piip! Suara alaram monoton terdengar nyaring, aku mendesah kesal seraya bangkit dan membuka loker kecil di bawah nakas. Aku mengambil beberapa pill seraya menelannya dan meneguk segelas air di atas nakas.


Tentu saja. Semejak kejadian di masa lalu ia harus rajin rajin meneguk pil pil obat. Itu tak berguna. Tidak memberi pengaruh apapun.


Aku memilih mengambil beberapa pakaian olahraga. Sepertinya melakukan gym akan menyenangkan untuk malam ini.


🌵


Aku mengambil ID Card yang kubawa, setelah melakukan Scan seperti biasa, gadis itu melangkah masuk dan mengambil kunci untuk lokernya.


“Nomer 81.” Seru petugas itu seraya menyerahkan kunci loker. Aku mengangguk ringan seraya berjalan cepat.


“Hai, apa kamu sendiri?” Seorang cowok berucap genit. Aku meliriknya tanpa minat lalu menggeleng dan berjalan cepat.


Apa kamu melihat teman teman ku? Tuan bodoh. Jengkelku dalam hati. Orang gila macam apa dia? Apa menurutnya di samping dan diatasku ada seseorang?


“Nona, kamu sangat sombong ya,” Sinis pria itu, ia berjalan mendekat.


“Dasar ja—”

__ADS_1


KREK!


Aku mengambil nafas panjang. Pria itu sudah terbujur kaku di lantai dengan erangan kesakitan. Aku berdehem seraya berjalan cepat meninggalkan pria itu.


Lemah sekali. Hanya diberi gerakan dasar saja tangannya sudah patah sepertinya. Batinku kesal. Cowok itu memegang tangan dan beberapa tubuhnya yang terlihat mengenaskan.


“Kasihannya. Tapi aku tidak mengkasiani iblis.” Lirihku di telinga pria itu. Aku mengambil langkah meninggalkannnya namun menyempatkan untuk menginjak jari jarinya hingga terdengar suara ‘kretek’.


Aku mengambil handuk seraya meletakkannya di belakang leherku, dan mulai menyalakan mesin Treadmill.


🌵


Dulu aku adalah gadis polos yang ceria. Selalu mudah percaya pada orang dan tidak pernah bersikap kasar barang satu kali. Namun sikap itu memudar hanya dalam satu malam.


Detik itu juga aku mulai latihan segala ilmu bela diri. Aku mulai mengurung diri dan tak pernah bersosialisasi.


Menghindari keramaian dan bersikap kasar. Bahkan aku memilih tinggal sendiri karena merasa terlalu bising untuk tetap tinggal di rumah keluarga.


Pada malam itu juga aku tau seberapa kejamnya dunia. Dunia selalu berbaik hari pada orang yang cantik dan kaya, hanya kepada orang yang sempurna sehingga sisa nya harus berusaha demi mendapat kehidupan.


Lucu jika di bayangkan masih ada orang yang masih asyik dengan kekasihnya dan janji janji.

__ADS_1


Tolong. Cinta itu keji. Tidak ada keindahan yang abadi dalam cinta. Satu pelajaran yang ia dapat pada malam itu.


__ADS_2