Liberosis

Liberosis
#9: Film horor


__ADS_3

Davila menyerahkan satu tempat besar Nachos. Aku tersenyum menunjukan deretan gigiku dengan senang.


“Terimakasih!” Aku berujar kencang membuat cowok itu menutup telinganya.


“Jangan teriak teriak!” Ketus Davila sebelum kemudian ikut duduk di sebelahku.


Cowok berambut Light Blonde itu tidak bohong. Dia benar benar memiliki Studio sendiri dirumah. Studio private yang memiliki desain interior yang berdominasi warna Abu - abu dan emas.


“Kamu mau menonton apa?” Davila berujar acuh. Ia membiarkan gadis disebelahnya berfikir.


“The fault in our stars!” Ujarku senang, film yang sangat mengharukan. Aku sudah menontonnya berkali kali namun tak pernah bosan.


“Hm.” Davila bukannya mengetik ‘the fault in our stars’ di ruang chat malah menulis ‘The Conjuring’ pada orang yang mengatur pemutaran film itu.


Ia tersenyum membayangkan ekspresi gadis bawel disebelahnya nanti.


“Kamu sudah pernah menontonnya?”


“Apa?” Davila menoleh seraya mengahapus senyumannya.


“The Fault In Our Stars.” Sebut ku pada film kesukaan ku.


“Tidak. Aku tidak tertarik film romantis.”


“Tapi kamu akan menontonnya hari ini.” Ledekku seraya mencubit pipinya. Lucu sekali ekspresi kagetnya!


“Kamu berani menyentuhku?” Davila berujar kaget, ia menoleh padaku.


“Kamu menyentuhku duluan.” Balasku acuh seraya memasukan satu Nachos kedalam mulutku.


“Terserahlah.”


🌵


“Aaakkh!!” Aku berteriak takut seraya memeluk Davila tanpa sadar.


“Kenapa malah The Conjuring?! Aku kan mau TFIOS!” Aku berteriak kaget.


Davila tersenyum di tengah kegelapan.


“Entahlah. Tapi coba lihat film ini seru.” Ujar Davila enteng sembari mengambil Nachosku.


“Ah! Apa kau gila? Aku tidak akan bisa tidur nanti malam....” Aku mengeratkan pelukanku pada badan cowok itu. Ia tertawa seraya memainkan rambutku dengan enteng.


“Tenang saja.”

__ADS_1


“Tenang dari mana?!” Aku memekik kesal. Cowok itu menyentil dahiku seraya menggeram.


“Nikmati saja filmnya. Jika kamu tidak bisa tidur nanti malam aku akan bertanggung jawab.” Lanjut Davila acuh.


“Benar?!”


“Iya..”


🌵


Aku meletakkan handuk yang masih bersih itu kembali ke loker kecil.


“Lama banget.” Davila tiba tiba masuk ke kamar mandi dengan rambutnya yang acak acakan dan masih basah.


“Kamu juga kalo mandi lama.” Sindirku seraya mengambil sisir dan menyisir rambutku.


“Cepat. Keringkan rambutku.” Davila mengambil sisir di tanganku saraya membuangnya asal.


“Dasar pemaksa.” Tapi aku tetap melakukan yang dia mau. Cowok itu melempar asal handuk yang sudah dipakai seraya merebahkan diri di kasur.


“Kamu sudah mau tidur?” Aku bergumam lirih di sebelahnya.


“Hmm.” Balasnya acuh. Ia seolah sudah tidur.


“Hmm.”


“Hah, sudahlah.”


Hening. Aku mendekati tanganku pada wajahnya, kemudian memainkan rambut Light Blonde Davila.


“Kenapa aku bisa semudah ini dekat denganmu?” Gumamku masih dengan tangan yang bermain di rambut cowok itu.


“Seharusnya aku membencimu. Memakimu. Tapi aku malah nyaman seperti ini.” Lanjutku dengan tangan yang mulai turun ke dahi.


“Tapi aku tetap tak akan percaya dengan cinta. Cinta itu kebohongan dan mencintaimu itu sama dengan membuat luka secara sengaja.” Aku mendengus seraya membaringkan badanku disebelahnya.


“Aku bisa gila kalau terus bicara dengannya.” Aku memilih menutup mataku dan mencoba untuk tidur.


Selamat malam.


🌵


Tanpa Kay sadari, sedari tadi Davila belum tertidur. Ia memainkan rambut Kay. Gadis itu sudah tertidur pulas.


Katanya tidak bisa tidur. Lalu ini apa? Davila berdecak seraya merapikan rambut Kay.

__ADS_1


Dasar lemah.


Davila bangkit dari kasur seraya mengambil ponselnya.


“Seharusnya kamu tau apa yang harus kamu lakukan.” Davila berujar langsung ketika sambungan telefon mulai tersambung.


“3 hari.” Davila berujar lirih. Seraya menatap langit malam yang dihiasi bintang, indah.


Setelah sambungan terputus. Cowok itu meletakkan ponselnya di kantung seraya menatap langit malam lekat.


“Jeffery Whatsons.” Lirihnya pelan.


“Apa kamu pikir aku akan membiarkan mu untuk menganggu miliku?”


Davila tertawa remeh.


“Tidak.”


🌵


Aku mengeringkan rambutku dengan Hair dryer seraya mendumel dalam hati.


Kenapa harus nonton film horor kemarin?! Kan aku jadi—


“Lama sekali.” Protes Davila seraya mengeluarkan kepalanya dari pintu.


“AAKKHH!!” Pekikku kaget seraya terduduk dilantai dengan tangan menutupi mata dan telinga.


Davila mencoba menahan tawanya, ia mendekatiku yang tampak ketakutan.


“Mbaakk! Mbaak Valak! Jangan deketin aku mbak.. ampun....”


“Angkat kepala mu, bodoh.” Aku mengangkat kepalaku walau takut.


Ctak! Cowok itu malah menyentil dahiku. Sakit!


“Sakit..” lirihku seraya mengusap dahiku. Ia merdecak seraya bangkit dan menarikku.


“Itu hanya film.”


“Dan itu based on true story!” Balasku takut. Cowok itu tertawa tak percaya.


“Stt.., diam lah. Aku bisa jadi lebih menyeramkan dari hantu.” Davila mengancam seraya menyerahkan handuk.


“Keringkan rambutku.”

__ADS_1


__ADS_2