Liberosis

Liberosis
#12: Pesta


__ADS_3

Davila masih asyik menikmati tanganku yang bergerak mengeringkan rambut Light Blonde nya.


Cowok itu beberapa kali protes, meminta ini dan itu. Dasar menyebalkan.


“Davila, kenapa kamu tidak mengecat rambutmu menjadi coklat lagi?” Tanyaku dengan tangan yang masih fokus menggerakan Hair Dryer dan sisir.


“Kenapa?” Tanyanya balik.


“Rambutmu mencolok sekali.” Balasku jujur.


“Biar saja.” Balas Davila acuh. Aku berdecak malas.


Ya, ya. Terserah! Gerutuku dalam hati.


“Sudah.” Aku berujar, seraya mematikan Hair dryer itu.


“Pakai baju yang sudah kusiapkan. Ikut aku hari ini.”


“Apa? Kemana?”



🌵


Davila menyebalkan. Bagaimana bisa cowok itu menyuruhnya untuk mengikuti Davila selama bekerja? Membosakan.


Davila turun dari mobilnya seraya menarik tanganku untuk ikut turun. Aku mengikuti langkah panjang cowok itu.


Kantor megah itu tampak lumayan ramai. Orang orang berpakaian formal tampak menyapa dengan ramah. Tidak buruk.


“Selamat pagi, Tuan.” Seorang cowok berujar seraya membungkukkan badanya. Davila hanya berdehem ringan. Cowok itu mengangkat tubuhnya.


“Eh, kamu—” Aku tanpa sadar berucap, hampir memegang wajah cowok itu. Davila dan cowok itu menatapku heran. Aku menggaruk tengkuk ku malu.


“Maaf.” Aku berucap lirih, tapi Davila tetap tak diam. Ia mengangkat kepalaku.


“Apa kamu mengenalnya?” Davila bertanya penasaran. Rahangnya mengatup, marah.


“Apa kamu mengenalnya, Hans?” Davila mengalihkan pandangannya. Menusuk.

__ADS_1


“Tidak tuan.”


“Lalu—”


“Dia mirip kakak ku.” Aku memotong ucapan Davila. Cowok itu menoleh, begitu pula cowok bernama Hans itu.


“Apa?” Davila menggeram seraya menatapku lekat.


“Dia mirip kakakku, Davila. Nih lihat.” Aku mengambil ponselku, membuka Lockscreen dan memperlihatkan foto seorang cowok berbadan tegap dengan balutan jas formal.


“Daniel. Mirip kan?” Aku menunjukan foto itu, Davila mengangguk kecil.


“Hm.” Davila menarik tanganku seraya membawanya ke satu ruangan. Sepertinya itu ruangan Davila.


“Apa kamu marah? Maaf.” Aku bergumam pelan di balik punggungnya. Davila membalikan badanya seraya mengusap rambutku pelan. Ia menghembuskan nafas pelan.


“Jangan pernah menyentuh siapa pun. Kamu hanya miliku.”


🌵


“Nona, silahkan di makan kuenya,” Seorang wanita cantik dengan balutan kemeja dan rok formal berucap sopan seraya meletakkan beberapa kue.


“Ah, apa Davila masih lama?” Aku bertanya sembari mengambil satu Cookies dan memakannya.


“Tuan Davila masih ada satu Meeting dengan klien nona.”


“Baik. Terimakasih.” Aku mengambil air putih dan meneguknya pelan.


Pintu terbuka, menampakkan Davila yang sudah melepas jasnya.


“Apa yang kamu lakukan disini?” Davila berujar seraya duduk di sofa. Ia mengambil satu kue yang ada ditanganku. Aku mendengus seraya mengambil lagi Cookies.


“Aku masih ada satu Meeting. Malam ini kita ada acara. Kamu ikut denganku.” Davila berujar, seraya meraih botol air.


“Apa? Kenapa aku harus ikut?”


🌵


Davila sialan. Bagaimana bisa cowok itu dengan teganya menyuruhnya memakai Dress?! Gila apa?

__ADS_1


Aku melirik gaun putih itu tanpa minat. Davila tiba tiba masuk ke kamarnya. Sudah rapi dengan jas formal seperti biasa.



Cowok itu mengerutkan kening, heran kenapa aku masih memakai Pajamas.


“Kamu tidak mengganti baju mu?”


“Kenapa harus Dress, Davila?” Aku mengeluh, melirik Dress putih itu. Terlalu anggun untuk aku yang memakainya. Aku menyentuh gaun itu.



“Apa kamu berpikir mengikuti pesta menggunakan Hoodie?” Ejek Davila, ia memainkan rambutku.


“Itu ide bagus, aku akan mengambil Hoo—”


“Tidak. Cepat ganti bajumu. Dalam 3 menit.”


🌵


Davila turun dari mobilnya seraya memegang tanganku, seolah membantu ku turun.


Apaan sih? Aku bisa turun sendiri kali!


Tapi aku tetap meraih tangannya. Cowok itu berdehem, seraya mengusap bahuku yang tak tertutupi kain.


“Jaga tubuhmu.” Bisiknya pelan seraya memasuki Security Check hotel itu.


“Tuan Davila, tuan Frederick sudah menunggu..” Petugas itu berucap seraya membungkukkan badanya hormat.


Davila mengangguk sekali, seraya membawaku masuk Ballroom hotel.


“Tuan Davila,” Beberapa orang menyapa. Dan mengajak mengobrol. Aku tak mengerti. Jadi hanya membiarkan Davila melingkarkan tanganya di pingangku dan mengobrol.


“Ini pasti nyonya De Gavellyn,” Salah seorang cowok berucap pada Davila. Cowok itu mengangguk dan mengucapkan beberapa kata. Aku hanya diam dan tersenyum kikuk.


“Davila aku mau mengambil minum dulu.” Bisikku. Cowok itu mengangguk seraya melepaskan tangannya.


“Hati hati.” Pesan Davila ditelingaku.

__ADS_1


__ADS_2