Liberosis

Liberosis
#3: Bertemu


__ADS_3

“Apa kamu panik?”


APA?!


🌵


Aku melangkah turun dari mobil, seraya berjalan kearah rumah papa. Rumah keluarga yang sudah kutinggalkan sejak lama. Karena merasa jengah bertemu beberapa orang. Jengah dan risih.


“Papa..” gumamku menggantung setelah memasuki ruang tamu keluarga. Papa dan Mama sudah duduk di sofa seraya menatapku penuh harap.


“Kay, sudah datang ya? Ayo nak, sini duduk.” Papa menyambut, beliau bangkit dari sofa seraya mengajakku duduk.


“Pa—”


“Kay, Papa harap kamu bisa menerima keputusan ini. Papa benar benar terdesak. Maafin papa ya nak?” Potong Papa, ia menatap lekat mataku. Mama menuangkan secangkir teh disebelah papa.


“Maksud papa apa?” Ucapku terbata.


Tolong. Jangan menjodohkan ku, pa.


“Nak,” Papa memegang tanganku. Ia mengelus lembut tanganku.


Sudah lama sekali, aku tidak merasakan kasih sayang ini.


“Sudah lama ya kita tidak bertemu?” Mama tiba tiba berucap. Ia tampak menerawang jauh.


“Tapi mama juga tidak tau kalau kita harus bertemu karena situasi ini.” Lirih Mama dengan senyum paksa.


“Ma? Ini kenapa?”

__ADS_1


“Kay,” Papa lagi lagi menatapku serius, aku meneguk ludahku susah payah. Mulutku terbuka untuk berbicara namun ia segera menyela.


“Maaf. Kamu harus menikah dengan pemilk perusahaan De Gavellyn.”


🌵


Aku terududuk dengan pandangan kosong di jok belakang mobil papa. Mataku menyorotkan seolah tak memiliki kehidupan.


Nyatanya benar. Dunia tak pernah menoleh padaku untuk berbaik hati. Gumamku dalam hati.


Kakiku lemas. Dan aku tidak tau harus bereaksi apa pun. Rasanya, seperti lebih baik mati dari pada seperti ini.


Seharusnya aku kecelakaan saja tadi.


“Kay, kita sudah sampai.” Mama memutus keheningan. Mobil berhenti tepat di depan pintu lobby restaurant mewah yang sangat megah itu.


Mereka berjalan lebih dulu sehingga aku hanya perlu mengikuti dari belakang.


Kay, apa begini kehidupanmu?


Kay memilih duduk di kursi asal restoran itu. Ia menatap kosong seisi restoran megah yang sepi itu.


“Jadi ini, Kaylina Grace?” Kay mendongak spontan mendengar suara dingin itu. Matanya langsung bertemu mata elang yang tajam menatapnya.


Tolong. Jangan dia.


🌵


Aku melempar kerikil kecil ke dalam sungai dihadapannya. Matanya kosong menatap depan. Sorot hampa yang tidak menyiratkan kehidupan didalamnya.

__ADS_1


Pluk!


“Apa kamu menolakku?” Suara laki laki itu bahkan tak lagi aku hiraukan. Cowok itu berdecak seraya melempar kerikil dengan kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Plukk!!


“Apa aku bisa menolakmu?” Balasku tanpa minat. Cowok itu ikut duduk di rerumputuan. Disebelahku.


“Aku benci cinta. Cinta itu pembohongan. Untuk apa aku mencintai orang yang akan berakhir menyakiti diriku sendiri lagi? Untuk apa, tuan?” Lirihku tanpa sadar, cowok dengan rambut Light blonde itu menoleh sembari tersenyum. Smirk.


“Aku rasa kita sama.” Lirih cowok itu.


“Aku membenci cinta. Cinta itu pembodohan diri. Dan mencintai seseorang adalah pembuatan luka paling disengaja.” Tambah cowok itu.


“Lalu kenapa kamu menerima pernikahan ini?”


Cowok itu mengambil kerikil lalu melemparnya lagi dengan lebih keras.


🌵


“Jadi ini, Kaylina Grace.” Cowok itu berucap remeh, namun tak duduk.


“Tuan, ini anak saya, Kaylina Grace..” papa berucap sembari bangkit dari duduk seraya membungkukkan badan hormat, begitu pula mama.


Namun aku tetap duduk bergeming. Cowok itu mengangkat satu alis heran.


“Kalian makan saja.” Perintah Cowok itu mutlak. Mama dan papa mengangguk seraya duduk kembali. Cowok itu masih melirik Kay yang bergeming.


“Dan kamu, ikut aku.” Perintahnya pada Kaylina.

__ADS_1


__ADS_2