
Matahari mulai terbit dari ufuk timur, menyambut hari yang baru dengan sinarnya yang hangat. Beberapa burung berkicau ringan, ikut menyambut hari yang baru.
Beberapa muda-mudi terlihat santai dengan pasangannya, mengobrol di taman, dan beberapa jalan santai di jogging track. Mereka menyambut akhir pekan dengan ceria.
Sementara di kamar Davila, Grace tengah asyik menatap rambut Davila dengan sisir dan Hair dryer. Menata rambut coklat itu agar rapi seperti biasanya.
Davila tak memprotes apapun, ia hanya diam menikmati gerakan tangan Grace diatas kepalanya, gerakan jemarinya yang lincah bergerak.
“Selesai!” Grace memekik puas kemudian meletakan Hair Drayer dan sisir di tempatnya, Davila menoleh pada kaca, menatap pantulan dirinya di kaca yang sudah rapi dengan balutan kemeja formalnya.
Grace beranjak dari balik kamar mandi, mendekati Davila yang hanya diam terduduk di pinggir ranjang.
“Kamu mau kemana hari ini?” Grace bertanya penasaran, seraya mengigit snack yang ia bawa—snack ringan rumput laut pedas yang sering ia cemili, Davila menoleh kemudian mengambil rumput laut yang di genggam Grace, kemudian memakan sisanya dalam satu suapan.
Grace menggeram kesal, namun tak merespon lebih lanjut. Membiarkan Davila melakukan yang ia mau.
Terserahlah. Batin Grace seraya meraih rumput laut yang tersisa di pack.
“Apa aku terlihat seperti ingin mendaki gunung?” Sindir Davila kemudian memberikan Grace Dasi—meminta gadis itu memasangkan dasi untuknya.
Grace tak menolak, ia bangkit dari posisinya kemudian membersihkan tangannya—kemudian menggerakan tangannya untuk memasangkan Davila dasi.
Grace menggerakan pelan ujung dasi, kemudian mengikat dasi itu rapi hingga selesai. Gadis itu tersenyum senang melihat hasil ikatannya, gadis itu kemudian mendongak—menatao Davila.
“Lalu apa yang akan aku lakukan?” Grace bertanya tanpa sadar, Davila mengangkat satu alisnya kemudian menarik tangan Grace cepat.
“Tentu saja menemaniku.”
“E—eh!” Grace ingin menolak jika tidak ingat yang menyuruhnya adalah Davila. Cowok itu memutar bola mata malas dan dalam hati mengumpati Davila.
✎ᝰ
Seperti biasa, Grace tidak pernah betah menunggu lama di ruangan Davila, menunggu cowok itu selesai dengan pekerjaannya selalu membuat Grace bosan dan bosan.
Rasanya ia ingin meloncat turun dan pulang ke rumah untuk menemani Alyn menonton drama, atau membantu Alyn mengerjakan proyek dan tugas kuliahnya. Itu lebih baik, setidaknya ada hal yang bisa dikerjakan.
Tapi? Sekarang yang ia bisa lakukan hanyalah menunggu, duduk diam di kursi dan bermain ponsel. Membosankan. Rasanya ia ingin mengutuk Davila.
__ADS_1
Astagaa! Kenapa lama sekali? Aku bosaan! Aku mengeluh dalam hati, merenganggkan otot ototku, kemudian melirik ponselku bosan.
Aku bahkan sudah menjelajah seisi ruangan ini hingga bosan, apa lagi yang bisa aku lakukan? Lanjut Grace. Gadis itu mengambil ponselnya kemudian membuka Lockscreen ponsel itu.
Matanya memincing kala melihat satu notifikasi yang masuk di sana. Daniel.
Daniel 🤩 : Astaga, jika kamu kesal dengan wanita itu, kini aku menemukan gadis yang seharusnya lebih membuatmu kesal.
Aku bergumam tak mengerti, kemudian membuka pesan itu, membaca lengkap isi pesannya.
Aku mendengus malas kemudian menggerakan jemariku diatas keyboard, menggetikkan jawaban.
Me : oh ya? Jadi kamu masih memikirkan wanita itu bahkan setelah kamu mempunya pekerjaan, Tuan Daniel?
Aku memutar bola mata malas, membayangkan wajah sok wanitaitu.
Me : Baiklah lanjutkan! Sekalian sampai menikah sana.
Send.
Beberapa saat, tulisan “online” di kontak Daniel langsung berubah menjadi “mengetik”. Beberapa lama hingga aku dalam hati menebak nebak jawaban yang akan diberikan Daniel.
Ting! Suara notifikasi lebih dulu memotong tebakanku. Aku menoleh kemudian membaca jawabannya.
Daniel 🤩 : Kamu benar benar sangat membencinya padahal aku tidak menyebut namanya.
Me : sebut saja namanya, maka kamu tidak akan lagi mengenal seorang Kaylina Grace : ).
Brak, pintu terbuka lebar, memperlihatkan Davila yang tampak berjalan santai di dampingi Hans yang berjalan di belakangnya.
Cowok itu masih menggunakan jasnya dengan rapi, namun dasinya sudah sedikit berantakan, aku menoleh, kemudian bangkit dari kursi Davila.
“Apa yang Tuan Davila inginkan, tuan?” Hans bertanya sopan dari ujung pintu, kemudian menunggu Davila membalas. Cowok itu melirik Hans kemudian menggidikan bahunya acuh.
“Apa yang kau mau?” Davila malah balik bertanya padaku, aku menoleh kesana kemari, berusaha mencari jawaban yang pas.
“Aku ingin Caramel Java Chip Frappuccino extra whip cream,”Gumamku lirih, Davila menoleh pada Hans yang langsung di sambit cowok itu dengan anggukan cepat.
__ADS_1
“Baik tuan,” Hans dengan cepat berjalan keluar ruangan, seraya menutup pintu. Davila melirik, kemudian melepas jasnya—dan melemparnya asal di sofa.
“Bagaimana harimu?” Davila menoleh, ia membuka tutup botol seraya meneguk isinya hingga tandas. Aku mendesah malas.
“Aku bosann! Orang mana sih yang masih bekerja saat akhir pekan? Astagaa, apa seperti ini keseharian orang sibuk? Membosankan sekali!” Aku menggerutu malas, menumpahkan segala makian yang sudah kusimpan.
Davila terkekeh pelan, kemudian mengusap kepalaku gemas, cowok itu berjalan mendekat kemudian duduk di kursinya.
“Aku ingin pulang,” Rengekku pelan seraya menarik bahu Davila agar ia berdiri dari kursinya. Cowok itu mengangkat satu alisnya tapi tak berkutik.
“Kamu benar benar bosan?” Davila balik bertanya, kemudian menarik tanganku hingga aku terjatuh dan terduduk di pahanya. Di pangkuan Davila.
“Ya! Lagi pula orang mana yang akan bekerja pada akhir pekan? Mereka biasanya akan berkencan, menonton film, atau jogging di taman.” Aku menggerutu pelan, membayangkan berkencan dengan pria kaya raya yang tampan dan murah senyum.
Kya! Itu akan menyenangkan huhuu! Aku membatin iri, andai sajaaa!
Davila mengangkat satu alisnya heran.
“Ken-can?” Davila menoleh penasaran,
Kemudian mengerutkan keningnya heran. Aku menoleh, kemudian mengangguk kecil.
“Ya, kencan alarakyat biasa , kau tidak pernah kan?” Aku tersenyum menantang, tentu saja, mana ada seorang Davila yang gila kerja berkencan? Bah! Bahkan jika bertaruhan 10 juta Grace berani.
Ditambah lagi, Davila itu hidup dalam kemewahan, sehingga sangat tidak mungkin cowok itu melakukan kencan ala rakyat biasa, yang biasanya hanya jalan jalan keliling mall, makan di food court, dan menonton bioskop. Cowok itu pasti akan menyewa satu mall. Dasar orang kaya!
“Jadi kau mengajakku berkencan huh?” Davila menyeringai, kemudian menarik daguku mendekat. Aku menarik tangan Davila dari daguku dengan kesal.
“Itu lebih baik dari pada menunggu mu selesai bekerja!” Mulutku dengan otomatis berseru, membuat Davila tersenyum, kemudian bangkit dari kursinya.
Brak! Suara pintu terbuka, Hans berdiri disana dengan paper bag dengan logo perusahaan kopi, Starbuck. Cowok itu meletakan paper bag nya diatas meja depan sofa, kemudian membungkuk singkat.
“Caramel Java Chip Frappuccino, dan Americano satu, Tuan,” Hans berujar dengan pandangan lurus kedepan, Davila bangkit dari kursinya kemudian menjentikkan jari nya beberapa saat.
“Batalkan semua meeting yang ada setelah ini,” Aku membulatkan mata kaget, begitu pula dengan Hans yang hampir tersedak, pria itu memejamkan matanya beberapa saat kemudian fokus menatap Davila, membiarkan Davila melanjutkan ucapannya.
“Aku akan berkencan dengan gadis cerewet ini.”
__ADS_1
Bola mataku seakan ingin meloncat keluar.