
Otak Davila mulai bergerak, memikirkan alasannya, hingga tiba tiba suara notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Matanya membelak kaget melihat isi pesan itu.
Itu Grace..
🌵
Davila keluar dari toilet dengan kasar, Hans menoleh begitu pula seisi resto. Davila melempar ponselnya begitu saja membuat Hans dengan sigap menangkapnya.
Hal pertama yang Hans lihat adalah Room Chat Tuannya dan Grace.
Setidaknya begitu yang tertera di nama kontaknya. Mata Hans menyipit melihat satu pesan baru.
Mata Hans membelak kaget melihatnya. Foto berbentuk persegi yang dikirim dari ponsel Grace, foto seorang gadis berambut panjang menggunakan Hoodie hitam dan celana Army yang terengah engah berdiri dengan borgol yang mengait tangannya dan rantai yang melilit badannya.
Tidak salah lagi. Itu Grace.
Tubuhnya basah kuyup, dan beberapa asap mengepul, sepertinya jika Hans tidak salah mengira, gadis itu disiram oleh air panas.
Pipi kiri gadis itu memerah, sepertinya ia ditampar berkali kali hingga membekas, begitu pula sekujur tubuhnya yang dipenuhi luka.
Davila berjalan kearah mobilnya. Lava kemarahan meledak membuat lingkungan sekitarnya terasa panas. Cowok itu benar benar marah. Marah pertamanya dari 5 tahun terakhir. Marah sehingga matanya berkilat kemerahan.
Hans mengikuti Davila, membukakan pria itu pintu.
“Hubungi The Mujabihage.” Davila memerintah mutlak.
Hans mengangguk.
Dan ini pertama kalinya The Mujabihage bangkit.
🌵
Grace lagi lagi hanya bisa diam tak berkutik ketika air panas menyapa sekujur tubuhnya.
Panas, panas sekali. Air mendidih itu secara langsung disiram ke tubuhnya.
“Jawab pertanyaanku! Apa kode keamanan De Gavellyn Crop?!” Seorang pria berbadan tinggi tegap menyentak. Pertanyaan yang sudah dilontarkannya 3 kali.
Aku mengambil nafas dalam dalam, mencoba menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa.
“Jawab!!”
BYUR!! Lagi lagi beberapa anak buahnya membanjur tubuhku dengan air mendidih. Aku menggeleng.
“Aku tidak tahu.” Balasku seadanya. Davila tak pernah membahas masalah perusahaannya sekalipun.
“Jangan berbohong! Aku tau kamu istri ******** itu!” Cowok itu bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekat, dan menarik daguku kasar.
“Sayang sekali, wanita secantik kamu harus menderita seperti ini.” Lirih cowok itu keji. Cowok berambut hitam pekat dan mata abu abu.
“Dekat dengan pengusaha paling sukses se amerika tidak mudah, kan? Nona?” Ejek Cowok itu kemudian menampar pipi kiriku lagi.
Perih.
“Baiklah, cukup bermain mainnya. Telepon orang itu.” Cowok itu beranjak menjauh, seorang wanita berpakain hitam datang, memberikan ponselku.
Cowok itu menekan tombol untuk mengakktifkan mode Loudespeaker.
“Sepertinya kamu ingin mendengar suara suamimu?” Cowok itu menoleh sinis. Kemudian suara ‘pip’ sebagai tanda telepon terhubung terdengar sehingga cowok itu menyeringai senang.
“Jangan menyentuh Grace,” Itu suara Davila. Suara dingin cowok itu persis saat ia menghabisi seseorang di hotel saat ada acara. Aku menoleh, begitu pula cowok itu.
“Oh, ya? Terlambat.” Cowok itu terkekeh pelan.
“Apa kamu mau melihat keadaan istrimu?” Cowok itu melirikku sebentar.
“Apa yang kamu inginkan?” Cowok itu tertawa. Tawa kejam yang memenuhi ruangan yang lebarnya setara dengan kamar Davila. Ralat, ini lebih kecil.
“Kamu sangat mengerti ya, Tuan Davila.”
“Kirimkan aku 10 juta dolar. Maka istri tercinta mu akan selamat.” Lanjut cowok itu enteng, ia meneguk satu gelas berisi alkohol.
“JADI KAMU HANYA MENGINGINKAN UANG?!!” Davila berteriak. Sehingga teriakannya memenuhi ruangan. Beberapa anak buah cowok itu menoleh, sementara cowok itu terkekeh.
“Oh ya. Bagi orang seperti mu uang itu membosankan. Bagiku, 10 juta dolar itu berarti.” Cowok itu berujar.
Aku tertegun. 10 juta dolar jika di rupiahkan maka jumlahnya setara dengan 148 miliyar lebih, hampir 150 miliyar!
Davila gila! Untuk apa menyelamatkan ku dengan uang sebanyak itu?
__ADS_1
“Dimana kamu?”
“Aku tidak sebodoh itu. Kirimkan uangnya pada rekening yang aku berikan. Aku menunggumu, atau istrimu akan mati kurang dari 25 menit.” Cowok itu menyeringai licik.
“Terlambat. Aku sudah tau dimana posisimu.”
Kemudian telepon itu terputus. Cowok itu menggertak marah, tapi tetap diam.
“Aku dengar, perusahaan De Gavellyn menghasilakan 982 miliar US$ permenit.” Cowok itu berujar, menatapku.
Aku tersentak.
Gila?! Pantas Davila selalu hidup semudah itu!
“Seharusnya 10 juta US$ adalah uang receh untuknya.” Cowok itu berujar.
“Mari lihat apa suami mu akan datang atau tidak.”
Aku menghela nafas pasrah.
🌵
“Perhatian! The Mujabihage Team!” Seorang pria berujar tegas, memukul pelan meja sehingga terdengar suara pukulan.
5 orang yang ada di ruangan itu langsung diam. Menatap patuh pria itu.
“Waktu kita tidak banyak, jadi dengarkan dengan benar!”
“Siap! Komandan!” Serempak 5 orang itu berujar tegas berbarengan.
“Lokasi lengkap penyekapan sudah saya kirim. Periksa senjata kalian, cadangan peluru,” Pria itu berujar, ruangan itu kini dipenuhi suara pistol.
Mereka mengecek jumlah peluru, dan cadangannya.
“Sandera kali ini—” Pria itu menggantungkan ucapannya, menutup mata beberapa saat kemudian menghela nafas pendek.
“Istri Tuan Davila. Semoga berhasil.”
🌵
Cowok dengan manik mata abu abu itu membuka lakban hitam yang sengaja ia tempelkan di bibirku, ia menariknya dengan kasar, kemudian tersenyum licik.
“Kamu tau? Berdekatan dengan orang bersenjata seperti suamimu meningkatkan resiko mu terluka.” Bisik cowok itu.
“Cepat pasang bom itu.” Cowok itu berujar pada salah satu anak buahnya, orang itu mengangguk patuh kemudian keluar dari ruangan.
Bom? Untuk apa?
“Kita harus segera pergi setelah menerima uang itu. Biarkan gadis itu mati disini bersama Davila.”
🌵
Davila melangkah masuk kedalam rumah besarnya. Menghiraukan sapaan pelayan yang ada disana.
Berjalan cepat kearah kamar kemudian mengambil satu box berukuran sedang berwarna hitam.
Davila meraih pistol itu hati hati. Pistol berwarna coklat dengan lapisan besi diatasnya, ada ukiran ‘The Mujabihage’ di tengah tengahnya.
Davila memasukan pistol itu disakunya, kemudian mengambil satu pulpen hitam disana. Pulpen yang terdapat racun di ujungnya.
Cowok itu berjalan cepat, menghiraukan Alyn yang memekik keras memanggilnya.
“Kak! Kak Davilaa!” Hans lebih dulu mendekat. Menghalangi Alyn yang akan mengejar Davila.
“Maaf, nona, tapi suasana lagi tidak tepat. Tuan Davila tidak sedang ingin bercanda.” Hans berujar formal, kemudian berjalan pergi meninggalkan Alyn yang tak mengerti.
Davila mengambil ponselnya, kemudian menekan satu kontak yang ia perlukan saat ini.
“Sekarang.”
🌵
Aku sudah pegal. Dipaksa berdiri dengan rantai yang melilit tubuhku. Rantai itu sangat berat.
Cowok itu masih asyik menyiapkan segala persiapan, tapi tetap menyiksaku. Setiap 3 menit sekali, air panas akan di banjur, kemudian wanita berpakaian serba hitam itu akan menamparku 3 kali.
Lagi lagi, air itu dibanjur. Wanita itu berdiri hendak menamparku tapi suara cowok dengan manik abu abu itu lebih dulu memotong.
“Tunggu.” Potong cowok itu hingga wanita dengan pakaian serba hitam itu diam di tempat.
“Air panas itu tidak akan terasa bila ia menggunakan pakaian setebal ini,”Cowok itu menunjuk Hoodie milik Davila. Wanita itu mengangguk mengerti kemudian berjalan ke meja untuk mengambil gunting.
__ADS_1
Apa yang akan mereka lakukan dengan gunting setajam itu?
Wanita itu berjalan mendekat, tersenyum picik kemudian menggunting Hoodie tebal itu. Aku memelotot kaget.
Gila?! Hoodie setebel ini bisa digunting?
Wanita itu melempar Hoodie hitam itu kemudian berjalan mendekat, membawa satu bak air panas.
“Say hi sweety,”
BYUR!!
🌵
Seumur hidupku, ini pertama kalinya aku merasa kelelahan sampai berharap mati saja detik itu juga. Oh, ralat, kecuali saat kejadian masa lalunya, hanya itu.
Mereka benar benar keterlaluan. Menyiram dengan air panas, menampar, bahkan menggunting Hoodie?! Mereka gila!
Uang itu menyeramkan. Aku membatin ketika merasakan lagi lagi air panas terguyur. Kata kata yang pernah di ucapkan oleh kakek saat aku berusia 6 tahun. Dan—itu benar. Sial.
“Apa kelemahan Davila?” Cowok itu terus terusan menanyakan pertanyaan seputar Davila. Aku bosan.
“Aku tidak tahu.” Jawaban yang sudah ku lontarkan entah berapa kali. Aku jujur, aku tidak mengetahui apapun tentang Davila. Anggap saja aku tidak berguna, karena itu memang benar.
Cowok itu mengertak marah, kemudian menyuruh wanita itu menyiram air panas. Lagi.
DOR!!!
Semua anak buah cowok itu seketika terjatuh, dengan luka tembak di jantung dan kepala. Hanya tersisa cowok itu sekarang. Sendiri, dan wanita itu yang kini tampak sekarat.
Aku terbelak kaget, tapi tak mampu merespon. Tubuhku terlalu lemah untuk itu.
“Salam kenal, Erlangga Tirta,” Davila berujar enteng, menenteng satu koper berwarna hitam kemudian berjalan masuk ke ruangan.
Cowok itu berjalan patah patah, mengambil pistolnya kemudian menekannya di kepalaku, seolah menggunakannya untuk senjata agar Davila tidak membunuhnya.
Davila tertawa. Ia masuk diikuti 5 orang dengan pakaian serba hitam.
Davila menoleh padaku, pandangannya menajam ketika tau aku hanya memakai Crop top hitam yang tadi, juga karena luka dan sekujur tubuhku yang basah, dengan asap yang mengepul di ruangan itu.
Davila melempar koper hitam itu, tepat mengenai perut cowok itu, yang langsung dengan sigap di tangkapnya.
“Ambil semua uang itu, dan lepaskan sanderanya.” Perintahnya tajam.
Aku mencoba mendongak, tanpa sengaja melihat salah satu wajah pria dengan pakaian serba hitam itu, dia—orang korea!
“Nae mal deul-eo bwa, neohuideul-i hangug salam ingeol al-a,” Aku berujar lirih, membuat salah satunya melepaskan alat yang terpasang di telinganya. Dia mendekat kearah Davila, membisikan sesuatu yang kalau aku tebak adalah translatenya.
“Dengarkan perkataanku, aku tau kalian orang korea.” Bisik orang itu pada Davila. Davila menoleh kearahku.
“Da billaleul yeogiseo ppaenaesibsio. i bang-eun 15 bun hue pogbal hal geos-ida. gyohwalhan namjaga bang juwie pogtan-eul neoh-eossseubnida.”
“Bawa Davila pergi dari sini. ruangan ini akan meledak dalam 15 menit lagi. orang licik itu memasang bom di sekeliling ruangan.”
“Nan yeogiseo jug-eoyadoendamyeon gwaenchanh-a da billaleul delyeoga.”
Orang berpakaian serba hitam itu mengambil nafas pelan sebelum membisikan kalimat yang kuucapkan.
“Aku tidak apa jika harus mati disini sekarang. bawa Davila pergi.”
Salah seorang pria berbaju hitam membuka alat yang menutupi telinganya, ia menatapku.
“geu salam-i gyehoeg han gyehoeg-eul algo issseubnikka?” Pria itu bertanya, membiarkan 3 orang lainnya mengarahkan senjata ke cowok berambut hitam itu. Ia menurunkan senjatanya.
“Apa nona tau rencana yang sudah diatur orang itu?”
“ye, geudeul-eun-i bang juwie pogtan-eul neoh-eossseubnida. 15 bun hue pogbal hal geos-ibnida. pogtan-i teojigi jeon-e ppalli tteonayahabnida—”
“ya, mereka memasang bom di sekitar ruangan ini, bom itu akan meledak dalam 15 menit. seharusnya kalian cepat pergi sebelum bom itu meledak atau—”
“Maaf aku terlambat.” Davila berujar lirih. Dia berbicara dengan bahasa Indonesia?! Astaga!
“Aku tidak akan membiarkan mu mati.” Lanjutnya, kemudian mengarahkan senjata kearah cowok itu, cowok itu mendekatkan pistolnya ke arah kepalaku.
“What are you doing? I will kill her!” Cowok itu hendak menembakkan pistolnya, namun suara lain lebih dulu memotong.
DORR!!
Cowok itu terjatuh, bersimbah darah ketika 3 peluru berhasil menembus tubuhnya.
__ADS_1
Mataku terasa berat, dan perlahan tertutup. Suara teriakan memanggilku terdengar,tapi aku terlalu lemah untuk sekedar membalasnya.
Kini aku tau arti air panas, borgol, rantai, dan pistol yang dimaksud.