
Aku memasukan satu sendok terakhir Ramyun cup yang aku buat dengan penuh perasaan.
Ramyun selalu menjadi yang terbaik... ahh
“Apa yang kamu lakukan?”
“Astaga!” Aku memekik kaget, hampir melempar cup ramyun dan sumpit di tanganku.
“Berhenti mengagetkanku! Davila!” Aku berdecak seraya bangkit dari sofa panjang di kamar Davila. Aku berjalan kearah tempat sampah depan seraya membuang cup Ramyun itu.
“Apa yang kamu makan?” Davila melirik cup kosong itu. Aku tersentak kaget.
“Kamu sudah mengagetkanku 10 kali!” Pekikku kesal. Seraya masuk kamar Davila dan memainkan ponsel.
“Kamu makan apa tadi?” Davila masih penasaran, ia bahkan tak menghiraukan aku yang kesal karena terus terusan di kagetkan.
“Hei!” Davila menarik kerah baju piyama miliku dengan kasar.
“Ahh! Sakit Davilaa!” Aku melepaskan tangannya. Cowok itu berdecih.
“Makanya jawab ketika aku berbicara.” Davila berujar mutlak. Aku mengangguk seraya merebahkan diriku di kasur.
“Apa yang kamu makan tadi?”
“Ramyun instan.” Balasku. Davila mengangguk.
“Jangan terlalu sering mengkonsumsi itu.”
“Iyaa..”
Davila asyik memainkan rambutku. Entah mengacak-acaknya, membuat menjadi cepolan, atau kepangan. Ia tampak sangat menyukainya.
“Oh iya.” Cowok itu berhenti memainkan rambutku seraya merampas ponselku.
“Hei—”
“Besok ada pesta. Kamu harus ikut denganku.”
🌵
__ADS_1
Davila bangun 2 jam lebih awal. Nafasnya tak teratur, ia terengah engah.
“Aku mencintaimu, Daveee..”
“Aku juga.”
Davila mengambil pil pil dari nakas dengan panik.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu terlalu sempurna untuk ditinggalkan, Dave.”
Davila mengambil pil itu dengan cepat seraya menelannya langsung.
“KATAMU KAMU TIDAK AKAN MENINGGALKAN KU?! LALU KENAPA KAMU BERMAIN DI BELAKANGKU? HAH?!”
Davila membanting gelas kaca di nakas dengan panik. Ia panik, takut, dia merasakan lagi luka itu.
Cowok itu mengambil keping kaca dilantai seraya mendekatkannya ke tangannya. Ia akan melukai dirinya lagi, malam ini.
Satu inci lagi kepingan itu menyentuh kulitnya namun gerakannya digagalkan oleh seseorang yang memeluknya dari belakang.
Hangat. Rasa hangat menyebar dari punggung hingga ke seluruh bagian tubuhnya. Davila mematung. Kaylina memeluknya dari belakang.
Kaylina.. Davila melirih, ia membalikan tubuhnya dan mengusap permukaan wajah Kay lembut.
“Jangan tinggalkan aku..” Lirih Davila. Suaranya yang memohon terdengar menyakitkan.
“Kay. Tolong jangan tingalkan aku barang satu langkah pun.”
Saat kau terlalu rapuh..
Pundak siapa yang tersandar?
Tangan siapa yang tak melepas?
Kuyakin aku
🌵
Aku terbangun ketika lagi lagi matahari menusuk pori poriku tanpa perasaan. Hangat. Aku membuka mataku dan tersadar bahwa rasa hangat yang kurasakan bukan hanya karena terik matahari. Tapi karena Davila memeluknya dengan erat.
__ADS_1
“Davila..” cowok itu hanya berdehem tanpa merespon lebih jauh. Aku berdecak malas seraya menatap wajah Davila.
Wajahnya sangat mulus. Putih tanpa cela dan manis. Sepertinya jika Davila bersikap manis seperti Goodboy senyumannya akan sangat memabukan.
Aku mengusap hidungnya, mancung sekali seperti perosotan. Alisnya tebal, dan bibirnya yang tebal.
Sulit untuk dikatakan bahwa wajah Davila memang diatas standar orang biasa. Cowok itu—terlalu tampan.
“Sudah puas mengagumiku?” Tiba tiba Davila bangun. Matanya terbuka sempurna. Aku tersentak seraya melepaskan tanganku.
Sialaaann!!
Davila tersenyum seraya menarik tubuhku dan memeluknya lagi.
“Davila—”
“Sebentar saja,” Cowok itu mengeratkan pelukannya, seraya meletakkan dahunya di bahuku. Nafasnya yang hangat mengenai telingaku. Geli.
“Kamu kenapa?” Aku bergumam lirih di dekapannya.
Kamu bahkan tidak menyadari yang semalam. Davila bergumam dalam hati.
“Aku ingin makan. Ayo.”
🌵
Davila menghabiskan sarapannya dengan cepat. Membiarkan Kay asyik mengobrol dengan mama-nya, dan Alyn.
“Padahal Davila itu anaknya ga pernah pacaran. Makanya mama kaget pas tau Davila mau nikah sama kamu.” Mama berseri antusias.
Kay tersenyum menanggapinya.
“Masa sih Bun?” Balas Kay seraya menyendokan makanan ke mulutnya.
“Iya! Makanya aku takut kalo Kak Davila itu—ya itu..” Ujar Alyn berbisik.
“Enak aja.” Davila memotong kesal. Alyn tertawa seraya menunjukan jarinya yang membentuk ‘V’. Peace.
“Ayo. Aku sudah selesai.” Davila menarik tangan Kay seraya membawanya naik.
__ADS_1