
Aku mengambil gelas kosong seraya mengisinya dengan sirup berwarna merah yang ada. Aku meneguknya pelan, membiarkan kerongkongan ku merasakan dinginnya sirup itu.
Ah, ini lebih baik dari pada berbasa basi. Gumamku dalam hati, sebelum kemudian meneguk sirup itu hingga tandas.
Aku mengisi ulang sirup itu dan meneguknya sampai setengah. Aku memainkan gelas berisi sirup itu dan menatap sekitar.
Ramai sekali. Orang orang berpakaian formal, apa mereka semua adalah pengusaha? Pantas saja.
“Kaylina?” Suara yang tak asing itu membuyarkan lamunanku, aku menoleh, mendapati Franklin disana. Astaga! Tuan Franklin.
“Ah, Tuan Franklin.” Aku berujar sopan seraya menghadap pria itu. Ia tersenyum formal.
“Kamu istri Tuan Davila. Jangan memanggilku Tuan.” Franklin berujar, ia meneguk sesuatu bening di gelasnya, Vodka.
“Ah, tidak—”
“Tuan Franklin, ya?” Davila tiba tiba berdiri dibelakangku. Tangannya melingkar di pinggangku.
“Ah, Tuan Davila.”
Mereka berbincang cukup lama. Ujaran-ujaran formal, yang cenderung basa basi.
“Tentang Jeffery,” Davila menghentikan ucapannya sejenak, ia mengambil gelasku dan meneguk sirup itu hingga tandas.
“Saya turut berduka.” Ujar Davila. Terdengar menyeramkan, ia tersenyum keji. Kemudian memberikan ku gelas yang sudah kosong itu.
“Iya, tuan.” Franklin berucap, ia meneguk Wine di botolnya hingga tandas.
Aku turut berduka. Kenapa ia hanya merasa depresi selama tiga hari? Seharusnya itu bisa lebih. Itu pasti menyenangkan. Dalam diam, Davila membatin, ia tersenyum keji.
“Saya pamit dulu, Tuan.” Franklin berjalan pergi. Davila mengangguk pelan kemudian menatapku, dan menyentuh bahuku.
“Apa kamu kedinginan?” Davila berujar. Nafasnya yang hangat menyentuh permukaan wajahku. Ia hampir melepaskan jasnya jika aku tidak menahan.
“Tidak.” Aku memotong pergerakan Davila. Cowok itu mengangkat kepalanya.
“Ah, kamu tidak menemui temanmu? Aku akan menunggu disini.” Aku melepaskan tangannya. Davila mengambil rambutku, dan meletakkan di belakang telingaku.
“Jaga dirimu.”
🌵
Aku tidak tau sudah berapa banyak mengisi ulang sirup itu. Aku bosan.
Davila masih melayani beberapa orang yang mengajaknya bicara ini itu.
__ADS_1
Aku tersenyum kecil, wajah Davila lucu.
Ternyata tidak mudah ya, menjadi Davila... Aku bergumam, seraya meneguk Sirup itu.
“Hai nona, apa anda sendirian?”
“Uhuk uhuk!” Aku berusaha menelan sisa sirup di kerongkonganku. Cowok dengan pakaian formal itu mendekat.
“Tidak.” Aku membalas acuh. Seraya meletakkan gelasku dengan kasar di atas meja. Membuat suara dentingan yang lumayan keras.
Davila melirik.
“Ayo lah, kamu butuh berapa untuk menghabiskan satu malam denganku?” Cowok itu berujar menggoda. Mulutnya yang bau alkohol membuatku tak nyaman.
******** ini, apa dia pikir aku semurahan itu?
“Tidak tuan. Tolong berhenti.” Aku mendorongnya, cowok itu menatapku tak percaya dari atas kebawah. Ia mendekat dan membelai bahuku.
Plak! Aku menampar cowok itu. Kurang ajar!
Aku berjalan cepat. Menghampiri Davila, mencari cowok berambut Light Blonde itu diantara lautan manusia itu.
Bruk! Tanpa sadar aku menabrak punggung seseorang.
“Davila, Davila.. T—tolong aku.” Aku tanpa sadar memeluk punggung Davila. Cowok itu berbalik. Mengusap dahiku yang berkeringat, takut.
“Ada seseorang, d—dia, melecehkanku.”
Apa?! Davila mengatupkan rahangnya marah.
“Apa yang dia lakukan padamu?” Davila melepaskan jasnya. Seraya menaruhnya pada tubuhku. Menutup tubuhku.
“Dia—dia, bertanya berapa uang yang aku perlukan jika ia ingin menghabiskan satu malam denganku—” Aku berucap lirih gemetar. Memegang baju Davila.
“Dan dia menyentuh bahuku—Davila..” Aku bergetar. Davila mengatup rahangnya marah. Matanya berkilat. Sangat menyeramkan.
“Itu—D—dia..” Aku bersembunyi dibalik tubuh Davila, cowok itu berbalik, menemukan orang yang tadi. Davila menggengam tanganku, seraya menatap orang itu.
“Tuan Edward? Apa yang anda cari?” Davila berdesis. Cowok berambut coklat itu menoleh, seraya tersenyum formal.
Itu pria yang tadi! ********! Sentakku dalam hati. Meremas tangan Davila erat.
“Ah, Tuan Davila. Saya mencari seorang wanita. Wanita yang akan saya pakai malam ini.” Cowok itu berucap tanpa dosa. Davila tersenyum Smirk.
“Oh ya? Terdengar menyenangkan.” Desis Davila sinis. Ia menatap lekat cowok di depannya.
__ADS_1
“Saya punya satu ide proyek, apa anda mau bekerja sama untuk proyek ini?” Cowok bernama Edward itu membulatkan matanya senang.
“Tentu tuan,”
“Mari bicarakan ini diluar.” Davila menunjuk taman kecil di belakang hotel. Pria bernama Edward itu melangkah lebih dahulu.
Davila membalikan badanya. Ia mengusap pipiku lembut.
“Kamu tetap bersama Hans. Jangan kemana mana, ikuti Hans.” Bisik Davila pelan.
Hans sudah berdiri dibelakangku. Ia membawaku pergi.
“Mari, nona..”
🌵
Davila duduk di salah satu kursi. Ia mengambil gelas berisikan Vodka dan meneguknya kasar hingga tandas.
Aku duduk diam. Dari atas. Hans menyuruhku untuk tetap diam di lantai atas. Dan membiarkan Davila berbincang dengan orang itu.
Aku dapat melihat kedua orang itu dengan jelas. Hans memberiku Earhook Wireless Bluetooth, katanya sudah disambungkan sehingga ia bisa mendengar pembicaraan Davila, dan Edward.
“Tentang proyek itu, aku masih tidak yakin bisa bekerja sama dengan mu.” Davila berdesis pelan, seperti ular. Edwar membulatkan matanya Gawat!
“Tuan, saya berjanji proyek ini akan aman bila saya berpartisipasi.” Edward masih berusaha meyakinkan Davila.
“Oh ya?” Davila meneguk Vodka nya hingga tandas. Seraya membanting gelas kaca itu.
PRANGG!!
Aku bergetar diatas. Memeluk badanku sendiri. Takut.
“Lupakan pekerjaan.” Davila bangkit dari duduknya, Edward yang sudah bergetar ketakutan menelan ludahnya.
“Ayo bertarung.”
“Maaf, tuan?”
BUG!
Edward memegang sudut bibirnya yang berdarah. Ia menatap Davila bingung.
“Aku pernah membantumu agar Perusahaan mu tidak bangkrut, tapi ini balasanmu?” Lirih Davila di telinga Edward. Cowok itu bergeming tak mengerti.
“Aku tidak suka miliku disentuh orang lain.”
__ADS_1