Liberosis

Liberosis
#34: Pernyataan


__ADS_3

“Bawa Grace pulang. Panggil dokter Albert. Aku akan mencari team itu.” Davila menoleh kepada kaca mobil kemudian berlalu pergi.


✎ᝰ


Grace tidak tau harus melakukan apa. Ia hanya dapat terduduk diam di jok belakang mobil, seraya menatap nanar punggung Davila yang kian menjauh, hingga tak lagi terlihat.


Matanya menatap tangan kanannya. Ada sisa darah yang masih menetes. Membasahi roknya, namun ia tak dapat merasakan sakit.


Hanya ada satu nama yang berputar di otaknya. Davila.


Berbagai pertanyaan sudah muncul memenuhi otaknya, namun enggan ia ajukan. Ini bukan saat yang tepat untuk bertanya.


Dalam diam, Hans menoleh, ia mengerti, Grace pasti kebingungan, bingung, cemas, dan takut. Pria berpakaian jas lengkap itu meremas kemudinya.


“Nona, tuan Davila akan baik-baik saja,” Hans berujar, memutus keheningan. Grace menoleh kemudian tersenyum, senyum paksa yang sering Grace sungging jika ia sedang gelisah.


“Bagaimana bisa kamu tau dia akan baik baik saja?” Lirih Grace, membuat Hans terdiam. Ia ingin menanggapi tapi ia tau, jawabannya malah akan membuat Grace semakin tak mengerti. Jadi ia memilih diam.


“Kenapa kau membeli size yang begitu kecil?” Davila melirik cup yang di bawa Grace, gadis itu menatap Davila tak percaya.


“Ini sudah sangat cukup untukku, kau tau?” Grace berujar kesal, kemudian meletakan cup ice cream itu di atas meja.


Grace memejamkan matanya, bayangan kejadian itu berputar di otaknya, seolah secara sengaja menyiksanya lebih dalam lagi.


“Ada sesuatu di rambutmu,” Davila berujar seraya menunjuk sejumput rambut di dekat telinganya, Grace mengangkat satu alis heran, seraya menggerakan tangannya untuk mencari “sesuatu” yang di maksud Davila.

__ADS_1


DOR!!


Gadis itu mengambil tasnya, mencari pil yang biasa ia konsumsi, keringat mulai bercucuran di pelipisnya.


“Apa itu sakit?” Bisik Davila pelan, ia menarik kemejanya kemudian menggunakan kemeja itu untuk mengelap darah yang berceceran. Grace mendongak, badanya bergetar ketakutan, dengan mata yang memerah. Gadis itu perlahan menggeleng kepalanya.


“T—tidak..—aku..” Ia tak melanjutkan kata katanya, membuat Davila makin yakin bahwa Grace takut. Tentu saja, ini pertama kalinya bagi Grace.


Dengan cepat, Davila bergerak memeluk Grace, menenangkan gadis itu.


Hingga mobil berhenti di depan rumah megah itu, kesadaran Grace masih melayang jauh. Dengan satu nama yang berputar di kepalanya tanpa henti. Davila.


✎ᝰ


Seorang pria dengan pakaian jas putih khas dokter memasuki kamar Davila dengan perlahan, pria itu membuka pintu dan mendapati Grace hanya diam di atas kasur dengan mata kosong.


“Aku tidak apa apa, Ini hanya..” Grace menoleh pada tangan kanannya.


“Luka kecil.” Lanjutnya, kemudian menoleh kearah Hans. Pria dengan jas putih itu berjalan mendekat.


“Tapi jika tidak di bersihkan, akan menimbulkan infeksi, nona.” Pria itu berujar seraya mendekat, ia membuka kotak medianya kemudian mencari alat yang ia perlukan.


“Dan Tuan Davila akan marah jika nona tidak diobati,” Lanjut Dokter itu, Hans berlalu keluar dari kamar, seraya menutup pintu.


Grace tak menolak lagi. Ia hanya diam, membiarkan Dokter Albert membersihkan lukanya.

__ADS_1


“Apa Davila akan baik-baik saja?” Gumam Grace tanpa sadar, membuat dokter itu menoleh. Ia tersenyum kecil.


“Saya adalah dokter keluarga De Gavellyn, ayah saya dulu adalah dokter papanya Tuan Davila,” Dokter itu berujar pelan, membuat Grace menoleh. Ia diam menunggu kelanjutan cerita Albert.


“Ini pasti pertama kalinya bagi nona terlibat semacam ini, tapi—” Albert diam, bergeming antara melanjutkan atau tidak ceritanya. Grace menggerakan tangannya pelan, membuat dokter itu tersadar.


“Kenapa berhenti? Lanjutkan,” Ujar Grace pelan, namun Albert tetap bergeming. Bergelut dengan pikirannya sendiri, sebelum akhirnya ia lanjut membersihkan luka Grace.


“Nona tidak akan mau mendengarnya,” Balas Dokter itu, Grace mengerutkan kening.


“Aku mau. Lanjutkan ceritamu, dokter.” Balas Grace pelan, Albert mengangkat kepalanya beberapa saat.


“Ini bukan pertama kalinya Tuan Davila terlibat masalah semacam ini. Biasanya, itu sebuah pembunuh bayaran yang secara sengaja mengincar orang yang dekat dengan Tuan Davila.”Akhirnya Albert membuka mulutnya, memberikan fakta yang tak pernah Grace tau.


Gadis itu mematung, seluruh tubuhnya seolah tak bisa bergerak.


“J—jadi..?”


“Tuan Davila sudah biasa dengan situasi ini, nona. Jadi percayalah, bahwa ia pasti kembali.” Albert berujar, melanjutkan ucapannya kemudian menjauh.


“Jangan sampai luka itu terkena air, tunggu dalam seminggu dulu. Saya pamit,” Kemudian pria itu berjalan keluar dari kamar.


Meninggalkan Grace sendiri dengan pikirannya sendiri. Ia mematung, tak bisa bergerak.


“Ini bukan pertama kalinya Tuan Davila terlibat masalah semacam ini. Biasanya, itu sebuah pembunuh bayaran yang secara sengaja mengincar orang yang dekat dengan Tuan Davila.”

__ADS_1


Pernyataan itu terus berputar di otaknya, tanpa tau jalan keluar. Grace tak tau, apa yang bisa ia lakukan sekarang. Ia hanya memikirkan satu kalimat dan nama.


Davila.


__ADS_2