Liberosis

Liberosis
#11: Kabar kematian Jeffery


__ADS_3

Pagi itu, aku terbangun ketika Davila tanpa sadar memelukku dengan erat. Cowok itu menggeram pelan seraya menarik kepalaku untuk tenggelam di dadanya.


“Davila..,” Aku melirih seraya mencubit pipinya pelan. Cowok itu hanya membalas ‘hm’ pelan namun tetap tertidur.


“Davila, aku lapar.” Aku melepaskan pelukannya seraya memainkan pipi cowok itu. Ia menggeram kesal kemudian membalikan tubuhnya. Memunggungiku.


“Ck,” Aku berdecak kesal seraya bangkit dari kasur dan menyibak selimut yang masih digunakan Davila.


Aku mengambil ponselku seraya duduk di sofa panjang di kamar Davila.


Walau bagaimana pun, kalau bisa aku akui kamar Davila itu sangat nyaman dan luas. Dekorasinya yang tak norak malah terkesan sederhana namun mewah.


Dasar orang kaya.


Aku membuka Lockscreen ponselku, seraya membuka salah satu aplikasi chat yang entah kenapa sangat ramai pagi itu.


Padahal kontak yang ia punya di ponselnya hanya sedikit.


Apa ini? Grup perusahaan The Franks? Aku kan sudah keluar..


Aku bergumam seraya membuka grup chat itu. Ramai sekali, ada sekitar 200 pesan baru.


Nomor tak dikenal (1) : mengirim foto


Aku terperangah melihat foto itu. Tanganku gemetar ketakutan.


Itu foto Jeffery! Dia masuk ke berita lokal dengan teks ‘Seorang pegawai perusahaan The Franks tampak tergeletak tak bernyawa di Apartement nya pada pukul 12:30, setelah melakukan aksi bunuh diri.’


Aku menutup mulutku kaget. Tiba tiba sekelebat bayangan Davila yang tampak berbisik di telinga Jeffery terputar.


“Seharusnya kamu merasakan akibat dari perbuatanmu dalam 3 hari.”


Davila mengucapkan itu. Aku mendengarnya.


“Tapi aku tidak tau apa kamu masih sanggup bertahan setelah itu atau tidak.”


Aku terduduk diam di sofa.


Davila tidak pernah main main dengan ucapannya.

__ADS_1


Aku melanjutkan membaca rentetan chat itu. Heboh.


Nomor tak dikenal (2): astaga! Bagaimana dia bisa melakukan bunuh diri?


Nomor tak dikenal (3): Padahal dia orang yang sangat ceria. Aku pikir dia tidak akan melakukan hal itu:(.


Nomor tak dikenal (4): Tunggu, apa hanya aku yang berfikir kalau—


Nomor tak dikenal (5): Apa?


Nomor tak dikenal (4): apa ini berhubungan dengan suaminya Kaylina?


Nomor tak dikenal (1): Astaga! Itu bisa jadi kan???


Nomor tak dikenal (3) :Oh my god...


Nomor tak dikenal (3): Tapi aku penasaran. Bagaimana Jeff bisa bunuh diri? Apa yang di lakukan suaminya Kay?


Nomor tak dikenal (6) : Apa kalian belum membaca berita ??


Nomor tak dikenal (6): Mengirim 10 foto


Skandal, aib, dan tindak kriminal yang dilakukan Jeffery tertera disana. Ramai sekali komentar para pembaca. Mereka menghina Jeffery, dan menghakiminya.


Tapi, coba lihat.


Siapa yang tidak marah dengan tindakan yang dilakukan Jeffery?


Pelecehan seksual anak dibawah umur, pedofil, pembunuhan warga sipil, Korupsi dana penyumbangan, dan banyak lagi.


Jeffery benar benar baik menutupi semua sikap busuknya selama ini.


Tapi tunggu, apa Davila ikut dalam urusan ini?


“Apa yang kamu lakukan?” Davila tiba tiba sudah berdiri di hadapanku seraya mengambil ponselku.


“Bajingan itu—”


“Kenapa kamu masih ada di grup perusahaan ini? Bukannya kamu sudah Resign?” Davila membaca balon chat itu dari atas.

__ADS_1


“Benarkan? Dia tidak akan bertahan lebih dari 3 hari.” Davila berujar enteng seraya mengembalikan ponselku. Davila tersenyum smirk.


“Apa—jadi kamu yang membunuh ******** itu?” Aku bertanya, cowok itu menatap mataku.


“Apa? Tidak. Dia bunuh diri sendiri.” Balas Davila, ia menyelipkan rambutku di belakang telinga. Aku termenung.


Apa maksudnya? 3 hari?


“Lalu, apa yang kamu lakukan dalam 3 hari itu?”


“Aku tidak melakukan apa apa.” Balas Davila acuh, ikut duduk di sofa.


“Lalu—”


“Aku hanya mengungkap semua tindak kriminal ******** itu. Seharusnya hari ini tepat pukul 11:30, dia ditangkap, dan menjalani proses hukum. Tapi sepertinya dia masih ingin mempertahankan nama baiknya.” Davila berujar pelan, dia menatap depan kemudian menatap mataku.


“Kalau pun dia menjalani proses hukum. Hukumannya akan tetap sama. Tembak mati.” Lanjutnya. Aku berusaha menutup mulutku namun cowok itu segera menyela.


“Biarlah. Dia pantas mati. Dia membunuh dirinya sendiri.” Ucap Davila keji. Ia menarik tanganku seraya mengajakku pergi.


“Ayo, aku lapar.”


🌵


Davila sudah selesai menghabiskan sarapannya. Aku secara spontan berdiri dari kursi meja makan dan mengikuti Davila, dan tak lupa mengucapkan pamit kepada Alyn dan Bunda—Ya, ibunya Davila yang memintanya memanggil beliau Bunda.


“Davila,” Aku berusaha menarik tangannya. Cowok itu menoleh namun tetap melanjutkan langkahnya.


“Apa?”


“Memang apa saja tindak kriminal yang dilakukannya? Kenapa kamu bisa tau?” Aku berceloteh, tak menyadari bahwa cowok itu sudah diam ditempatnya dan menghadapku.


“Dav—Auch!” Aku mengusap dahiku yang menabrak Dada bidang Davila.


“Pelecehan Seksual, pedofil, korupsi, dan perdagangan manusia.” Balas Davila lancar seolah ia sudah menghafal inci masalah.


“Wah—” Aku bergumam menggantung. Davila mendekatkan wajahnya.


“Kenapa kamu mengungkap semuanya? Apa cuma karena dia memegang tanganku?”

__ADS_1


“Ya. Aku tidak suka miliku disentuh orang lain. Jangan coba coba kabur dariku.”


__ADS_2