
Sepanjang jalan hidupnya, Grace tak pernah memiliki teman lebih dari 5. Tidak, maksudku, semenjak kejadian di masa lalu-nya, ia tak pernah lagi berteman. Ia mengganti ponsel dan nomornya, sehingga teman teman di masa lalunya perlahan melupakannya.
Gadis itu kini lebih nyaman dengan kesendiriannya, tenang, tanpa harus terganggu dengan suara bising. Dan rumor-rumor jahat.
Ia kini lebih nyaman berteman dengan Alyn, dan bunda. Baginya, tak ada yang lebih menyenangkan dibanding membantu Bunda merajut syal, atau memasak, dan menemani Alyn Streaming segala hal berbau korea. Itu lebih baik.
“Aahh, Song Jong Ki ganteng banget! Kyaa!” Alyn memekik histeris setelah episode terakhir drama Descendent of the sun selesai terputar di Macbook-nya. Gadis manis dengan lesung pipit itu mengusap layar MacBook nya yang menampilkan gambar Song Jong Ki, salah satu peran utama di drama itu.
“Bukannya udah nikah, ya?” Gumamku, menatap wajah aktor yang terasa tak asing itu. Alyn melirik tajam.
“Udah cerai!” Pekiknya seraya lanjut menatap wajah aktor asal Korea Selatan itu, aku berdecak kemudian meng-iyakan saja.
Dari pada tambah halu, iyain aja lah. Gumamku pelan.
Ting! Ponselku berdenting, mengalihkan perhatianku, dan Alyn. Gadis itu menoleh penasaran.
“Siapa? Kak Davila ya?” Alyn berusaha mencari celah agar kepalanya bisa melihat isi balon chat yang tertera, aku menjauhkan ponselku seraya meletakkan jari telunjuk didepan mulutku.
“Sttt, anak kecil gak boleh tau,” Seruku kemudian membuka Lockscreen dan melihat isi pesannya. Alyn berdecih malas, kemudian lanjut memandangi wajah aktor kesukaannya itu. Ia berceloteh riang, tak penting, hanya berisi seruan-seruan halunya untuk menikahi aktor itu.
Nomor tak dikenal : Kaylina, sebentar lagi kamu akan merasakan akibatnya!
Aku mengerutkan kening, nomor yang sama dari semalam. Aku menutup ponselku, membiarkan chat itu bak terombang-ambing di tengah laut. Biar saja.
“Eh, kita nonton Goblin mau gak?” Aku berujar, memotong celotehan Alyn yang terdengar makin amburadul. Gadis itu menoleh, binar matanya terbuka lebar, ia mengangguk cepat.
“Boleh banget! Aku kangen Oppa Gong yoo, sama Lee Dong wok jugaa,” Alyn mulai menggerakan tangannya diatas Keyboard MacBook-nya, mengetik nama drama yang sudah ia ulang ulang. Goblin.
Alyn menggerakan Mousse nya menekan video dengan judul ‘Episode 1’. Suara opening video berputar.
Piiiippp! Piipp! Aku menoleh pada ponselku, berdering menandakan ada yang menelfon.
Astaga, apalagi sih? Aku ingin tenang menonton dramaa! Aku menggerutu, seraya meraih ponselku, Alyn masih asyik dengan layar laptopnya.
Davila!
“Halo, Davila,” Aku melangkah menjauh, agar tidak mengangguk Alyn, gadis itu menoleh sesaat namun aku memberinya kode yang berisi ‘kamu nonton dulu aja, aku mau angkat telepon’. Alyn langsung mengangguk mengerti dan kembali menonton serial itu.
“Apa yang kamu lakukan dirumah?” Davila mulai bersuara, terdengar suara pulpen yang bergerak diatas kertas, sepertinya cowok itu sedang tanda tangan kontrak.
“Aku tadi menemani Bunda merajut, Bunda membuatkanku Sweater, dan aku sedang menemani Alyn menonton drama, ada apa?” Aku berujar, mengucapkan dengan jujur semua kegiatan yang aku lakukan sepanjang hari.
“Tidak ada, bilang pada Alyn untuk menyudahi menonton para lelaki cantik kesukaan kalian itu,” Davila menyindir, menyindir para Oppa-oppa tampan yang sering Alyn singgung.
Kamu hanya iri padanya! Aku memekik dalam hati tak terima.
“Hm ya, kenapa kamh menelfon?”
“Aku tak perlu alasan untuk menelfon istriku.” Jika saja aku masih gadis periang di masa lalu, mungkin aku sudah meleleh mendengar ucapan manis itu, tapi sekarang aku malah memutar bola mata sebal.
“Dasar.” Gumamku pelan.
“Sebentar lagi Hans akan menjemputmu, kita akan pergi kesuatu tempat, jangan menggunakan baju kurang bahan!” Davila berseru, memerintah dengan mutlak.
“Iyaa, sudah dulu ya, aku mau mandi..,” Sambungan telepon terputus, aku berjalan kearah Alyn, melihat gadis berlesung pipit itu yang masih asyik dengan ‘duniannya’.
“Alyn, Davila bilang cukup menonton dramanya hari ini,” Ujarku, gadis itu menoleh, mengerucutkan bibirnya sebal.
“Kak Davila hanya iri pada Oppa-oppa ku!” Seru Alyn berapi-api, aku berdecak kemudian menutup web drama korea yang sering digunakan Alyn.
“Sudah sore, mandi sana.” Ujarku, gadis itu mencebik, mengeluarkan umpatan pada Davila. Aku menganggkat bahu tak peduli kemudian berjalan keluar kamar. Tentu saja untuk mandi.
🌵
Aku menatap pantulan kaca, tak ada yang spesial, hanya ada dirinya dalam balutan pakaian casual yang aku pilih secara acak.
Yang penting nyaman!
Ting! Aku menoleh, ada satu chat yang masuk, aku membuka Lockscreen seraya menekan aplikasi chat itu.
Davila : kamu pakai baju apa?
Ting!
Davila : Jangan memakai baju yang kurang bahan! Aku punya uang untuk memberi mu baju yang layak!
__ADS_1
Aku berdecak tak percaya, kemudian membuka kamera ponselku dan mengarahkan kamera belakang kepada kaca yang terdapat di kamar Davila.
Cekrek!
Aku melihat foto itu, kemudian mengirimnya kepada Davila, agar cowok itu tidak terus-terusan bawel.
Me : Aku hanya memakai baju sesuai kenyamananku, dasar menyebalkan.
Me : (Sent a photo)
Tiba tiba pintu diketuk pelan, berlanjut dengan suara formal yang terdengar lumayan keras.
“Nona, tuan Hans sudah menunggu,” Aku tersentak kaget, kemudian memasukan ponselku di saku.
“Baik,”
🌵
Davila duduk dengan tenang di kursi kerjanya, tatapannya yang tajam menghunus membuatnya terlihat seperti malaikat maut, menyeramkan!
Aku melangkah patah patah mendekati Davila, cowok itu menatap tajam perutku yang sedikit terlihat.
“Bukan kah aku sudah bilang untuk memakai pakaian yang Layak?” Sindirnya, cowok itu berdiri dari kursinya kemudian mengusap perutku pelan.
“Apa kamu sengaja menantangku?” Bisiknya, ia berjalan menjauh kearah lemarinya, mencari pakaian yang bisa aku pakai.
Aku menelan ludahku sendiri, sementara Davila masih fokus mencari baju.
Sret! Cowok itu menarik kasar salah satu Hanger, seraya melempar hanger dan mengambil Hoodie panjang miliknya.
Davila memakaikan Hoodie itu secara paksa. Aku pasrah, membiarkan Davila melakukan apapun yang ia mau.
“Sudah. Ayo pergi, tapi sebelum itu aku lapar,”
🌵
Davila tampak seperti singa, sedari tadi ia menatap tajam orang orang yang menatapku, ah berlebihan.
Aku mendengus jengkel.
“Davila, sudahlah,” Aku menarik tangannya, agar menghadapku, cowok itu mengatup rahangnya, marah.
“Mereka hanya iseng, biarkan saja,” Ujarku pelan, berusaha menenangkan Davila yang terlihat emosi.
“Tapi mereka menatapmu!”
“Astaga, tolong lihat kearah samping dan belakangmu. Bahkan banyak gadis yang menatapmu lebih banyak!” Aku berujar jengkel, menarik dagu cowok itu menghadap para gadis gadis yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Davila berdecih, kemudian meneguk sodanya.
“Ah, Davila apa aku boleh bertanya?” Aku berujar, menarik tangan Davila agar cowok itu tak terus terusan melirik tajam beberapa cowok yang menatapnya.
“Apa?”
“Apa kau memiliki adik?” Davila menoleh, mengangkat satu alisnya heran.
“Alyn.” Balasnya cepat. Aku menggerakan tanganku, Bukan itu.
“Maksudku, apa kamu memiliki adik selain Alyn? Aku pernah melihat seorang laki laki di meja makan, tapi aku tak pernah melihatnya lagi,” Ujar ku memperjelas, Davila sempat mengangkat alisnya bingung namun sedetik kemudian ia mengangguk mengerti.
“Oh, itu Saga. 3 tahun lebih tua dari Alyn,” balas Davila acuh. Aku mengangguk.
“Tidak kah dia terlihat tampan?” Gumamku tanpa sadar, Davila memincing kan matanya.
“Apa?!”
“T—tidak, maaf..” Aku menatapnya takut, Lihat lah, Rahangnya mengatup, mata memincing tajam.
“Jangan memuji orang lain! Dan jangan membicarakan pria lain!” Davila berujar, ia menarik daguku menghadap wajahnya.
“Mengerti?!” Sentaknya.
“I—iya, maaf.” Aku berseru, menyesal membiarkan mulutku berceloteh.
__ADS_1
“Lagi pula kamu lebih tampan.” Lanjutku pelan, aku berujar jujur.
Davila mulai melunak, ia mengusap rambutku pelan.
“Permisi, tuan, nona, makanan sudah datang,” seorang pramusaji berujar sopan, ia meletakkan beberapa piring di meja.
Aku mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih, pramusaji itu kemudian berjalan pergi.
“Ehm, Davila, aku ketoilet dulu ya?” Davila menatapku beberapa saat kemudian mengangguk.
🌵
Aku mematikan kran yang ada di toilet kemudian berjalan pelan untuk mengambil Tissue. Aku fokus menatap kaca, memeperhatikan Hoodie hitam milik Davila yang lucu.
Aku terkekeh pelan, di pantulan kaca itu, aku seperti tenggelam dalam Hoodie panjang itu. Tapi aku enggan menata nya. Biarlah.
“Kaylina Grace?” Suara tegas seorang perempuan mengintrupeksi, aku menoleh mendapati perempuan dengan tinggi semampai menggunakan High Heels dan Outfit berwarna full hitam.
“Sepertinya iya. Ikut kami.” Gadis itu melenggang pergi dengan anggun. Aku mengangkat satu alis heran.
“Kita?”
PRANG!! Satu batangan logam besar berhasil mengenai kepalaku. Cukup keras hingga pandanganku mulai mengabur.
🌵
Davila memasukan satu potong kecil Steak terakhirnya. Ia terus terusan menoleh kearah toilet wanita.
Dimana Grace? Kenapa dia lama sekali? Gumam Davila penasaran.
Gadis itu sudah cukup lama belum juga kembali. Davila melirik arlojinya.
Dua menit lagi dia belum kembali, aku akan mendatanginya. Lanjut Davila mengamati pintu toilet itu.
Dua menit terlewati, namun Grace tetap tidak muncul. Davila mengambil nafas gusar.
Oke, cukup.
Davila bangkit dari kursinya dengan kasar, sehingga Hans dan dua Bodyguard berdiri dengan spontan dari kursi mereka.
Hal yang membuat pengunjung lain dan pelayan menatap keheranan.
Hans mendekat, ia memberi hormat kemudian menanyakan apa yang Davila inginkan.
“Dimana Grace?” Balas Davila, ia berjalan pelan kearah toilet, namun pelayan lebih dulu menghalangi.
“Maaf, tuan tapi ini toilet wanita, toilet pria ada di sebelah sana,” Pelayan itu berujar sopan, namun Davila tak menggubris, ia membuka pintu itu dengan kasar.
Hans berjalan mendekati pelayan itu, seraya berbisik pelan.
“Saranku, jangan mengurusi hidup Tuan Davila jika kamu masih mau bertahan hidup.” Bisik Hans pelan kemudian bergerak menutup pintu, dan berdiri didepan pintu itu.
Pelayan itu hanya meneguk ludahnya patah patah.
Davila sudah mengecek satu per satu bilik kamar mandi yang ada. Nihil, ia tetap tak menemukan gadis yang menggunakan Hoodie hitam itu. Bahkan ia tak menemukan seorang pun di kamar mandi.
Davila mengatupkan rahangnya marah. Lava kemarahan dalam dirinya meletup letup.
Grace tidak mungkin kabur. Gadis itu tau resikonya. Davila berjalan mengelilingi ulang kamar mandi itu. Hasilnya tetap sama. Kosong.
Davila berjalan kearah kaca besar di bagian depan ruangan. Hanya terdapat satu Tissue yang masih kering, sepertinya belum dipakai. Tapi tidak dibuang.
Cowok itu meraih Tissue itu, hendak membuangnya namun langkahnya terhenti ketika mencium aroma yang ia hafal. Body lotion Grace.
Wangi Vanila yang lembut, benar, itu Body Lotion Grace.
Tapi kenapa Grace tidak membuang Tissue nya?
Grace adalah orang yang cinta kebersihan. Beberapakali sempat gadis itu mengomeli Davila hanya karena tidak menaruh handuk dengan benar, dan lainnya. Grace tidak mungkin membuang sampah sembarangan.
Lalu? Kenapa bisa...?
Otak Davila mulai bergerak, memikirkan alasannya, hingga tiba tiba suara notifikasi dari ponselnya mengalihkan perhatiannya.
Matanya membelak kaget melihat isi pesan itu.
__ADS_1
Itu Grace..