Liberosis

Liberosis
#28: Cookies time


__ADS_3

Alyn dengan wajah berseri-seri masuk kedalam rumah, menyambut ramah setiap pelayan yang menyambut gadis itu dengan senyuman lebarnya, membuat Saga dan Davila sedari tadi bertanya-tanya.


Aku menghela nafas, antara senang dan—takut melihat sikap Alyn yang sangat bersemangat.


Tentu saja, takut jika Davila mengetahui bahwa kami baru bertemu Jaehyun.


Eh tapi kan gapapa dong? Kan cuma foto sama ngobol! Belaku dalam hati, namun jeritan hatiku yang lain membalas Cepat.


Tapi Davila itu tukang ngekang banget, sama Saga aja dia ngomel. Sisi lain batinku berujar, aku mendesah frustasi. Sudahlah.


“Sudah sampai? Cepet banget,” Bunda tiba tiba menyambut dari dalam, wanita itu tersenyum senang, seraya mengambil barang yang dibawa Hans. Aku tersenyum pelan.


“Iya, tadi bukan di supermarket yang biasanya,” Saga membalas jujur, ia mengambil satu minuman kaleng seraya meneguknya. Bunda menoleh penasaran.


“Tumben Davila mau,” Komentar Bunda, seraya mengecek beberapa belanjaan, pesanannya. Wanita itu meletakan bahan bahan itu diatas meja. Saga melirik Davila, dengan tatapan mengejek seraya terkekeh.


“Ya iyalah ma, orang Grace yang minta, mana mau Davila nolak.” Ejek Saga membuat Bunda menghela nafas, jengah dengan sikap Saga yang seolah sengaja memancing keributan. Davila melirik malas, kemudian menjambak rambut Saga membuat cowok itu memekik kencang.


“MAMA!!” Pekik Saga ketika Davila menarik rambutnya dengan santai, seolah rambutnya hanya sekarung beras. Sementara Alyn mengancungkan kedua jempolnya senang.


“Bagus! Aku suka keributan!”


✎ᝰ


Aku mengambil adonan beberapa bahan seraya membentuk adonan itu dengan kedua buah tanganku—membentuk adonan itu menjadi bola bola seraya menaruhnya di atas nampan besi.


Davila masih fokus dengan adonannya—mengaduk bahan yang ada agar menggumpal, sementara Alyn menata Choco chips diatasnya.


Aku meletakan satu bola berukuran kecil adonan itu diatas nampan, kemudian mengambil air untuk mencuci tanganku.


“Jangan terlalu senang dulu, Grace. Aku harus menguji mu dahulu,” Tiba tiba suara menyentakku. Aku menoleh mendapati Saga berdiri dibalik badanku dengan bibirnya yang menyeringai tajam. Aku mengerutkan kening heran.


Menguji? Memang apa yang harus diuji dariku? Gumamku tanpa sadar.


Sret!

__ADS_1


“Hei!” Saga memekik kesal, berusaha menarik tangan Davila yang menarik kerah belakangnya, cowok itu mengaduh kesakitan karena lehernya seperti dicekik.


“Menjauhlah.” Davila berujar pelan, dengan nada yang terdengar lirih dan menyeramkan, aku menoleh mendapati Saga yang dengan susah payah berusaha menarik tangan Davila—tapi sia - sia kekuatannya tidak sebanding.


“Jangan terlalu dekat dengannya. Dia gila, dan penganggu.” Davila berujar dengan nada yang lebih baik padaku, aku menoleh kemudian mengangguk.


“Iya,” balasku pada akhirnya, kemudian mengambil sarung tangan seraya memasukan nampan itu kedalam oven, dan menekan tombol untuk mengaktifkan mesinnya.


✎ᝰ


“Akhirnya jadi!” Alyn memekik senang ketika cookies choco chips itu sudah tertata rapi terbagi di 2 toples besar, gadis itu mengambil satu buah kemudian mengigit nya pelan.


“Enak! Ini buat aku!” Alyn mengambil satu toples kemudian memeluknya, seolah tidak mau ada satu orang pun yang mengambi cookiesnya. Bunda terkekeh, kemudian mengusap kepala Alyn lembut.


“Kebiasaan, ya sudah itu ambil saja,” Bunda berujar enteng, kemudian mengambil satu cookies lagi untuk di makan.


“Enak, kapan kapan kita buat lagi yuk?” Bunda berujar antusias, membuatku dan Alyn mengangguk sambil tersenyum senang.


Davila melirikku, kemudian mengambil satu cookies, cowok itu mengigit pelan Cookies itu kemudian mengunyahnya pelan.


Cowok itu mengigit cookies yang ia ambil tanpa dosa.


Sabar, Grace...Batinku berusaha membiarkan sikap Saga yang sangat menyebalkan. Calm down..


Aku mengulurkan tanganku, hendak mengambil satu Cookies tapi Davila lebih dulu memasukan satu Cookies yang sudah ia gigit kedalam mulutku. Mataku membulat kaget, kemudian terbatuk—tersedak Cookies karena pikiranku sendiri.


Davila dengan cepat memberikan segelas air putih, aku meneguk hingga air itu hanya tersisa setengah. Mataku membulat kaget.


Tunggu, Cookiesitu kan bekas gigitannya Davila? Berarti kalau aku makan itu juga tadi— Aku menoleh pada Davila, yang masih terlihat agak panik karena aku habis tersedak.


Bukannya itu sama saja kita berciuman secara tidak langsung?! Aku menepuk dahiku pelan.


Astaga, aku menyesal!


Sementara Davila mengangkat satu alisnya heran, kemudian berdehem pelan.

__ADS_1


“Aku ke kamar dulu, ma.” Davila berujar, dengan senyuman pendek. Cowok itu menarik tanganku dengan cepat.


Apalagi ini? Astaga nasibku kenapa begini..?? Huwaa!!


✎ᝰ


Aku merebahkan diriku pada kasur king size milik Davila seraya merenggangkan ototku.


Rasa dingin dari bed cover mulai terasa menyentuh kulitku, ahh! Nyaman sekalii!


Davila hanya berdiri didepanku, bersandar pada pintu dengan tangan yang terlipat di depan dada. Aku membatin heran, mencoba berfikir kesalahan apa yang baru kulakan.


Jaehyun? Tapi gak mungkin dong Davila tau.. aku bergumam dalam hati, kemudian terduduk di pinggir ranjang.


Davila berjalan kearahku, setiap suara langkah kakinya terdengar menyeramkan—seperti malaikat maut yang hendak mengambil nyawa. Aku meneguk ludahku susah payah kemudian memaksakan senyuman seraya bangkit dari pinggiran ranjang.


“D—davil—”Davila lebih dulu menarik tanganku, kemudian memojokan tubuhku ke dinding. Matanya yang tajam seolah menusuk paru-paruku.


Cowok itu menyeringai melihat wajahku yang terlihat ngeri kemudian menarik daguku agar menatapnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian menunjukannya tepat di depanku.


Aku menyipitkan mataku sebelum akhirnya meringis.


Benar saja, Davila tau bahwa ia baru bertemu dengan Jaehyun, cowok berambut coklat itu bahkan menunjukan fotonya dengan Jaehyun.


“Jung Jae Hyun, tapi ia kini sudah melegalkan namanya menjadi Jung Yoon Oh. Lahir 14 February 1997, zodiaknya Aquarius dengan golongan darah A.” Davila berujar sinis, kemudian menarik daguku lagi agar menatapnya.


“Kamis tanggal 7 tepat pukul 15:20 terlihat sedang berbelanja di K-mart, itu alasanmu dan Alyn kan?” Davila melanjutkan ucapannya seraya melempar ponselnya kasar. Aku mendelik kaget, jantungku berdetak kencang, bahkan saking kencangnya aku takut bahwa Davila akan mendengar detak jantungku.


Cowok itu mengusap dahiku pelan kemudian merapikan poniku hingga menjadi lebih rapi.


“Kamu membuatku ingin mengirim pembunuh bayaran untuknya,” Bisik Davila pelan ditelingaku.


Mataku membulat kaget.


P—pembunuh bayaran?!

__ADS_1


__ADS_2