Liberosis

Liberosis
#25: Menyebalkan


__ADS_3

Menyebalkan. Satu kata yang entah sudah berapa kali aku umpatkan.


Bayangkan saja, sejak tadi pagi Davila terus-terusan menggodanya perkara ia “Terpesona” dengan tampilan baru cowok itu.


Ck! Pada akhirnya, walau aku mengelak berapakali pun, ya.. Ya memang Davila tampan seperti ituu!! Aku menjerit frustasi. Oke, itu tidak semudah itu untuk menolak pesona seorang Davila De Gavellyn. Tidak semudah itu! Astagaaaa!


“Hei!” Aku tersentak, seraya menoleh dengan kesal. Kurang ajarr! Davila malah menyeringai senang melihatku kaget.


Damnn!


“Apa?!” Aku membalas kesal, rasanya ingin mengigit Davila sekarang juga! Cowok itu malah terkekeh pelan, kemudian mengusap rambutku lembut.


“Ayolah, akui kalau kau memang terpesona denganku, Nona Grace,” Davila berujar, mulai menggoda lagi. Aku berdecak malas.


“Aku tidak terpesona dengan mu!” Aku berjalan menjauh, namun Davila mengikuti, cowok itu dengan enteng berjalan pelan mengikuti ku.


“Oh ya? Lalu kenapa pipimu memerah sekarang?” Aku membulatkan mata kaget.


Hah? Pipiku memerah?


“Apa? Tidak!” Aku membantah ucapan Davila mentah mentah.


Ya...sedikit sih..


Davila berjalan mendekat. Cowok itu memojokanku di dinding dengan kedua tangannya yang menahan sisi kiri dan kanan kepalaku.


Aku meneguk ludah ku susah payah. Mengambil oksigen sebanyak yang aku bisa, kemudian menundukan kepala, berharap cowok itu segera lenyap.


Sialan, kenapa nasibku seburuk ini tuhann? Aku meruntuki frustasi. Davila menyeringai, cowok itu menarik daguku, menghadap kearah wajahnya.


Aku menutup mataku spontan. Menghindari menatap wajah Davila. Sapuan hangat nafas cowok itu terasa seolah menyentuh halus seisi wajahnya. Hangat.


“Aku tau aku tampan, Grace,” Bisik Davila lembut di telingaku. Bulu kudukku meremang. Merinding mendengar suara berat itu sedekat ini.


“Jadi kau terpesona denganku? Hm?” Lanjut Davila seraya meletakan sejumput rambutku di balik telinga.


Ya, sepertinya aku terpesona denganmu! Davila De Gavellyn sialan!


✎ᝰ


Aku mengambil segelas air putih yang baru saja aku isi seraya meneguknya pelan.


Rasa dingin dari air putih mulai mengaliri kerongkonganku yang kering. Ah! Segar!


Aku mengisi ulang air putih itu, seraya hendak meneguknya lagi. Aku masih haus.


Namun gerakan tanganku kurang cepat, karena ada satu tangan kokoh yang berhasil mengambil gelas itu, dan meneguknya hingga tandas.


Ya. Tidak lain dan tidak bukan, sudah jelas itu Davila! Dasar menyebalkan! Kenapa ia tidak mengisi sendiri air?!


Davila sialan. Aku menggerutu dalam hati, kemudian menarik kasar gelas yang di genggam cowok itu. Davila hany mengangkat bahunya acuh, ditambah dengan wajah tanpa dosanya.


Ya tuhan, tabahkan aku..Aku memohon dalam hati, kemudian berjalan meninggalkan Davila, berharap laki laki itu segera lenyap. Namun sia sia, Davila malah semakin gencar mengikuti.


Tiba tiba Alyn datang, gadis itu tersenyum senang seraya menepuk bahuku pelan.


“Onnie! The World of the Married update!!” Alyn memekik kencang dengan binar senang. Aku menoleh, kemudian membulatkan mata kaget.


“Ommo?! Astaga! Ayo kita tonton!” Aku menarik lengan Alyn cepat, mengajak gadis itu ke kamarnya.

__ADS_1


Tentu saja menonton The World Of The Married! Astagaa! Aku ingin tau kelanjutannyaa! KYAAA!


Sementara Davila berkacak pinggang di tempatnya. Menatap tak percaya dua gadis yang tampak sangat Excited hanya karena drama korea. Apa itu masuk akal?


“Wah, apa sekarang drama korea sepenting itu?” Davila bergumam antara kesal, dan penasaran.


Memangnya sebagus apa sih drama itu sampai seorang setampan Davila De Gavellyn di tinggalkan dan tidak dianggap?!


Rasanya Davila ingin mencekik penulis drama itu sekarang.


✎ᝰ


“Bah!! Rasain! Siapa suruh jadi tukang selingkuh?!!” Alyn memekik berapi-api setelah menyelesaikan satu episode terakhir drama itu, endingnya.


Aku mengangguk setuju.


“Parah banget sih! Rasain tuh,” Aku menambahkan, seraya tersenyum senang, puas dengan ending drama itu.


Kami mulai membahas drama itu dari awal episode sampai akhir. Dengan penuh emosi, dan kadang dibumbui dengan “informasi seputar cogan”. Astaga, aku lupa aku sudah menikah. Tapi biar saja!


“Eh, tapi Da-kyung cantik banget lho,” Aku berujar, menunjuk salah satu pemeran utama drama itu. Alyn mengangguk.


“Iya, astaga jika aku punya wajah secantik itu, aku akan menikahi Song Joong Ki langsung!” Alyn berujar berapi-api, gadis itu menopang wajahnya memandangi wajah Da-Kyung.


“Maka jika kamu tidak memiliki wajah seperti Da-Kyung, kamu tidak akan menikahi Song Joong Ki?” Aku bertanya, seraya memutar bola mata jengah.


Oke, sebentar lagi Alyn akan mulai berkhayal. Lagi.


“Tidak juga. Aku akan tetap menikahinya.” Balas Alyn enteng, aku berdecak malas, kemudian mengusap rambutnya lumayan keras.


“Berhalu lah selagi masih gratis!” Ujarku sinis, yang hanya di balas enteng oleh Alyn.


“Terimakasih,” balasnya enteng, gadis itu mengganti tampilan di Macbooknya, mencari drama drama lain yang sedang populer. Aku ikut mengamati, beberapa komentar mengenai drama itu, dan beberapa rekomendasi drama lain.


“Ah, apa kamu tau nama instagramnya Han So Hee? Aku dengar dia di bully,” Aku bertanya, seraya menyerahkan ponselku, meminta Alyn mengetikan nama akun instagram aktor itu.


Alyn mengambil ponselku, kemudian mengetikan satu kata disana. Aku menoleh, melihat username aktor cantik itu, “xeesoxee”.


“Wah! Bahkan Han So Hee secantik ini di bully,” Aku berujar tak percaya, lanjut menscroll komentar, sementara Alyn mengerutkan kening tak mengerti.


“Aku tidak mengerti, ini bahasa apa?” Alyn berujar, tidak mengerti. Aku menoleh, menyadari bahwa Alyn tak paham bahasa Indonesia.


“Ini bahasa Indonesia, intinya mereka bilang bahwa Han So Hee jangan menjadi pelakor, padahal itu hanya akting.” Aku berujar pelan, melanjutkan gerakan tanganku pada ponsel.


“Pelakor itu orang ketiga.” Ujarku menjelaskan, Alyn mengangguk mengerti, gadis itu tampak membaca beberapa komentar dengan bahasa Inggris.


“Kasian. Mereka tidak berfikir bahwa itu hanya akting ya?” Alyn berdecak malas, gadis itu tampak tidak terima.


“Hmm, mungkin. Sudahlah,”


Ting! Tiba tiba notif dengan tulisan tebal menengahi perdebatan. Mataku dan Alyn sontak melebar senang.


“Kyaaa! Sehunnn!!” Alyn memekik senang, gadis itu langsung menekan notifikasi yang muncul.


@oohsehun memulai video siaran langsung.


Wajah Sehun langsung terpampang jelas di layar ponsel. Anggota boyband EXO itu tampak asyik bermain dengan anjingnya—vivi—seraya membaca beberapa komentar.


“Vivii! Aah, lucu bangett..” Alyn berseru gemas, gadis itu tampak antusias melihat Vivi yang tengah bermain dengan Sehun. Lucu! Aku menopang wajahku.

__ADS_1


“Tuhan, jika dia jodohku maka dekatkan lah, jika bukan parah banget ini aku udah baper..” Aku berujar lirih, melihat betapa manisnya perlakuan Sehun dan vivi. Alyn mengangguk setuju.


“Apa yang kau maksud ‘jodohku’ ?” Tiba tiba ponsel itu terbang—oh bukan—melainkan ponsel itu ditarik paksa oleh Davila. Aku dan Alyn spontan menatapnya garang.


“Kembalikan Sehun kami!” Alyn memekik tak terima, aku mengangguk setuju. Davila tersenyum remeh. Cowok itu melihat layar ponsel, yang tiba tiba memperlihatkan seorang cowok berambut coklat. Cowok itu tersenyum ramah seraya melambaikan tangan ke kamera ponsel.


“yeoleobun annyeonghaseyo!” (Halo semuanya!)


Aku dan Alyn spontan membulatkan mata.


“Chanyeol!!”


✎ᝰ


Sepertinya dalam waktu sekitar 2 minggu kedepan, ia tidak akan lagi merasakan hari yang begitu sial, dan menyebalkan.


Kenapa? Hah! Tentu saja karena jatah kesialannya selama 2 minggu dilimpahkan dalam sehari. Yang benar saja!


Tadi saat menonton live sehun—yang ditambah dengan Chanyeol—Alyn sempat menekan tombol untuk ikut live bersama.


Dan ya, sepertinya itu sebuah kebetulan karena Sehun mengizinkannya live bersama, namun nahas, itu terjadi di waktu yang tidak tepat. Yap, ponselnya saat itu sudah di pegang Davila, sehingga saat keluar notifikasi “@oohsehun mengizikan live bersama” kemudian ada pilihan “ikuti / keluar” namun Davila dengan santai menekan tombol keluar, alias, cowok itu menolak tawaran Sehun untuk Live bersama.


Damn!!! Rasanya aku ingin mengubur Davila hidup hidup!


Aku meremas botol isi air ku seraya hendak membantingnya—jika tidak ingat bahwa aku harus menajaga sikap.


Davila sialan!!!!!!!!


Aku berjalan kearah dapur, hendak membuat susu coklat hangat. Namun tiba tiba seseorang dari arah berlawanan tanpa sengaja menabrakku.


Bruk! Aku mendongak, mendapati rasa dingin di perutku. Apa ini?


“M—maaf nona..maaf, saya akan membersihkanya, maaf nona..” Seorang gadis dengan pakaian rapi seperti beberapa pegawai lain berujar ketakutan, aku menggeleng pelan, meraih tangannya yang hendak membersihkan air yang tumpah di lantai.


“Tidak us—”


“Ada apa ini?” Tiba tiba Davila muncul. Suaranya yang tegas lebih terdengar sebagai guntur di kepala gadis dengan pakaian khas pelayan rumah itu.


Aku menoleh, seraya menatap Davila kesal.


“Tidak ada apa apa. Aku tidak sengaja menumpahkan air, aku akan membersihkannya.” Aku berucap lugas, seraya berjalan hendak mengambil lap. Davila lebih dulu menarik lenganku.


“Aku tidak semudah itu dibohongi, Graciliya.” Davila berujar, aku mendesah jengkel.


“Terserah! Minggir ah, aku mau mengambil lap untuk membersihkan ini.” Aku menepis tangan Davila, seraya hendak berjalan namun Davila menghadang.


“Seharusnya kamu berbicara jujur.” Bisik Davila pelan. Cowok itu melirik tajam gadis di depanku hingga nyalinya menciut.


“Bersihkan. Lalu keluar.” Davila berucap dingin. Aku membulatkan mata kaget, seraya menarik tangan Davila.


“Apa? Tidak! Jangan memecatnya, aku mohon, maafkan aku Davilaa..” Aku menarik pipinya pelan. Cowok itu menoleh dengan alis terangkat.


“Aku mohon..” aku berujar memelas, seraya mencium pipi Davila dua kali. Cowok itu mulai melunak, ia menarik tanganku pelan.


“Bersihkan. Kamu beruntung hari ini.” Davila berujar pelan, kemudian menarik tanganku menjauh.


“B—baik tuan, maafkan saya..”


Baiklah. Aku benar benar sial hari ini.

__ADS_1


Seharusnya aku yang marah! Kenapa Davila yang marah?!


Satu kata yang pas untuk hari ini: Menyebalkan, oh ya dan Sial.


__ADS_2