
Aku mengambil satu Tote Bag hitam berisi beberapa bajuku, seraya menentengnya. Senyumku tak kunjung pudar sejak tadi, mengingat bahwa hari ini ia sudah di izinkan pulang—walau ia harus menjalankan peraturan-peraturan yang Davila suruh, tapi itu bukan masalah besar.
Davila menoleh, mendapati aku sudah terlihat sehat-bugar seolah tak pernah sakit di hari kemarin. Cowok itu menarik tanganku, mengajakku cepat.
“Segitu senangnya ya bisa keluar rumah sakit?” Davila berujar, ditengah aktifitasnya, aku menoleh dengan senyuman lebar.
“Ya!”
“Kau mengagetkanku.” Davila membalas sinis, aku terkekeh pelan seraya mencubit pipi kenyal cowok itu pelan.
“Maafkan aku, tuan Davila. Hihi,” Aku mengigit bibirku, berusaha tidak tertawa melihat ekspresi Davila. Ekspresi ketus, yang terlihat sangat kesal karena pernyataan dokter yang menyatakan ia sudah bisa pulang. Haha! Kalau diingat, wajah Davila sangat lucu!
“Ayo pulang, pulang, pulang!” Aku menarik lengannya cepat, cowok itu mendesis seraya mengumpat beberapa saat. Tapi aku tidak peduli. Toh, dokter sudah bilang begitu, siapa yang salah?
“Selamat pagi, tuan, nona,” Hans berujar, cowok itu sudah rapi dengan pakaian jas formal lengkap. Aku mengangguk pelan, namun Davila hanya melirik.
Hans membawakan Tote bag hitam itu, seraya meletakkannya di belakang, dan membukakan pintu mobil. Davila menarik tanganku agar masuk lebih dahulu, cowok itu memegang bagian atas mobil agar kepalaku tidak terkena.
Hans menutup pintu, kemudian duduk di bagian depan, menyetir mobil itu.
Davila menarik daguku, memaksa untuk menghadap kearah wajahnya.
“Kamu harus makan.”
✎ᝰ
Aku memasukan sesendok Spaghetti Carbonara kedalam mulutku, kemudian mengunyahnya lembut. Rasa dari Spaghetti itu mulai menyeruak memenuhi seisi mulutku. Aku meletakan sendok dan sumpitku diatas piring, menatap Davila yang masih asyik dengan sarapannya.
Walau sempat berdebat, tapi akhirnya Davila menuruti untuk makan di restoran ini. Ya, restoran pasta yang sangat-sangat sederhana ini. Restoran yang selalu aku tempati semasa baru magang di kantor Jeffery. Astaga, bernostalgia itu menyenangkan juga!
Davila memasukan satu sendok Spaghetti-nya, tanpa sadar sauce mengenai ujung bibirnya. Aku mengerutkan kening, dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menyeka sauce Spaghetti itu. Davila mendongak heran.
“Dasar. Kamu makan seperti anak kecil.” Aku berujar mengejek seraya mengambil Tissue di atas meja dan memberikannya pada Davila.
“Ini.” Aku berujar, Davila mendorong pelan kotak Tissue itu, menjauh. Aku mengerutkan kening heran, Davila hanya menatapku santai.
“Aku lebih suka menggunakan tanganmu.” Ujar Davila enteng. Aku mengangkat satu alis heran.
__ADS_1
“Apa?” Davila menarik tanganku, kemudian meletakan satu jariku di sudut bibirnya, membersihkan sisa saus itu. Aku membulatkan mata kaget. Seperti ada aliran listrik yang menyetrum jariku sesaat.
“Gunakan tanganmu, bodoh!” Decak Davila seraya melanjutkan makannya. Aku mematung beberapa saat, merasakan jemariku yang terasa aneh.
“Kyaa!” Pekikan itu menyadarkanku, aku menoleh begitu pula Davila, menyadari bahwa kami menjadi tontonan pemilik Restoran. Aku berdehem menyembunyikan semburat merah yang muncul.
Davila melirik tajam. Membuat beberapa pegawai menelan ludahnya susah payah. Aku menarik dagu cowok itu, agar tidak membuat orang lain tidak nyaman.
“Cepat habis kan makananmu!” Aku menitah galak, seraya menarik dagunya. Davila tidak merespon, cowok itu mulai mengambil sesendok spaghetti.
“Oh ya, kita akan pulang kan setelah ini?” Aku bertanya, seraya menopang wajahku, Davila mendongak kemudian menggeleng pelan.
“Bukannya kamu mau aku memiliki rambut coklat?”
✎ᝰ
Aku tidak pernah menyangka, pertanyaan asalku tentang kenapa Davila tidak mengecat rambutnya benar benar berakhir serius.
Ehm, maksudku, ya. Cowok itu sekarang sudah dengan tenang di Backwash, menikmati pijitan ringan pekerja salon itu.
Aku mendengus pelan. Jika tau akan berakhir seperti ini, seharusnya ia menanyakan kepada Davila pertanyaan itu sedari dulu.
Ya, sudah sejak lama aku ingin mengecat rambutku, tapi tidak pernah ada yang memberi izin. Bisa saja aku mengecat rambutku sih, tapi peraturan di perusahaan Jeffery itu ketat. Masa iya gak boleh mengecat rambut? Duh! Bahkan hampir semua karyawan perusahaan itu sudah menggunjingkan peraturan aneh itu!
Davila bangkit dari Backwash nya seraya berjalan ke salah satu kursi. Aku mengikutinya, kemudian duduk si sebelah cowok itu. Membiarkan salah seorang pegawai wanita mulai merapikan rambutku.
Oh ya, aku baru sadar sekarang, bahwa ternyata orang kaya itu ribet. Oh, tidak, mungkin bukan semua orang kaya yang ribet, tapi sepertinya Davila adalah salah satunya.
Bayangkan saja, cowok itu menyewa satu salon super besar dan megah ini, dan meminta hanya boleh ada pegawai wanita yang melayaniku. Apa itu gila? Cowok itu sudah sangat sering melakukannya, dengan alasan sama, alasan yang SELALU SAMA!
Ya, yang tak lain adalah “Aku tidak ingin ada orang yang menyentuh milikku.” Cih! Tidak ada orang se-lebay itu sepertinya.
Oh ralat—orang se-lebay itu hanya Davila. One and only.
“Aku juga ingin mengecat rambut,” Aku berujar pada Davila, cowok itu melirik kemudian menggeleng spontan.
“Tidak. Kamu hanya CreamBath.” Perintah Davila mutlak. Pegawai wanita itu mengangguk patuh kemudian berjalan menjauh, mengambil Cream yang di perlukan.
__ADS_1
Aku berdecak malas.
Davila si pemaksa, is back. Welcome to hell, Grace!
Davila meliriku, namun tak melakukan apa apa. Cowok itu mulai diam dan menikmati setiap pergerakan diatas kepalanya.
Aku melirik cowok itu kesal, sebelum kemudian ikut larut juga. Menikmati setiap inci pijatan lembut yang terasa.
✎ᝰ
Aku menatap pantulan wajahku di kaca, meneliti setiap inci wajahku di sana. Aku tersenyum puas.
Rambutku kini terlihat lebih baik. Dan poni ku sudah tertata lebih rapi.
Aku tersenyum pendek.
Sudah lama sekali ya aku tidak ke salon? Aku bahkan sudah tidak pernah merasakan rasa nyaman ini. Aku bergumam pelan, menatap pantulan kaca.
Sudah sangat lama, ya? Lirihku dalam hati, terkekeh pelan dalam diam.
Selama ini aku terlalu mengurung diri dari dunia luar. Mengunci segala pintu untuk keluar. Menahan diri sendiri, dan mengurung dalam satu Space yang kosong, dan gelap.
“Ayo. Alyn dan mama sudah menunggu.” Suara itu tiba tiba mengintrupeksi. Aku menoleh pada asal suara.
Seketika mataku membulat kaget. Kaki ku terasa melemas.
Tolong bilang kepadaku, bahwa orang di depanku adalah Davila..
Aku mematung. Davila? Sialan, aku tidak bisa mengelak lagi. Bahwa—bahwa—
“Apa kau terpesona denganku?” Davila berucap, bertanya dengan mata menyelidik, bahkan cowok itu memajukan wajahnya. Beberapa detik setelahnya cowok itu tersenyum, menyeringai senang.
Aku spontan menjauhkan wajahku, kemudian menggeleng.
“Apa? Tidak!” Tepisku, berusaha menghalau pemikiranku sendiri.
Sialann!!!
__ADS_1
Baiklah, mari berkata jujur! Aku membatin pelan, mengambil nafas dalam, sebelum kemudian menghela nafas kasar.
Tuhan! Tolongg! Bagaimana bisanya engkau menciptakan makhluk se-sempurana Davilaa??? Jeritku putus asa pada akhirnya.