Liberosis

Liberosis
#33: Kejadian


__ADS_3

DOR!!


Darah mulai menetes turun membasahi meja dan lantai mall.


✎ᝰ


Hans mengambil satu alat komunikasi yang ada di balik kantong celana jasnya kemudian menekan tombol yang ada disana, matanya menatap was was seisi mall yang kacau.


Kaca pecah yang berhamburan, berjatuhan ke lantai, pekikan ketakutan dari para pegawai dan pengunjung, dan suara tembakan.


Dengan sigap, cowok itu membalikkan badannya, memberi kode kepada tiga bodyguard yang berada di titik yang tak jauh darinya.


Hans mengusap kepalanya pusing, kemudian mengambil ponselnya, ia menekan satu nomor yang berada di paling atas.


“The Mujabihage, lokasi sudah terkirim.” Hans memantau keadaan beberapa detik.


“Bawa Vanny juga.”


✎ᝰ


Davila spontan menarik tangan Grace, membawa gadis itu menunduk di balik meja kemudian perlahan bergerak menjauh.

__ADS_1


Matanya melirik keadaan sekitar yang kacau, jendela kaca pecah, hingga beberapa kaca berjatuhan dari langit langit, pekikan pengunjung yang memenuhi seisi mall. Sangat kacau.


Cowok itu meraih tangan kiri Grace. Terluka cukup parah, tapi gadis itu beruntung pelurunya tidak mengenai kepalanya.


“Apa itu sakit?” Bisik Davila pelan, ia menarik kemejanya kemudian menggunakan kemeja itu untuk mengelap darah yang berceceran. Grace mendongak, badanya bergetar ketakutan, dengan mata yang memerah. Gadis itu perlahan menggeleng kepalanya.


“T—tidak..—aku..” Ia tak melanjutkan kata katanya, membuat Davila makin yakin bahwa Grace takut. Tentu saja, ini pertama kalinya bagi Grace.


Dengan cepat, Davila bergerak memeluk Grace, menenangkan gadis itu.


“Kenapa dia—kenapa dia mengarahkan sasarannya kepadaku? Apa yang—”


“Maafkan aku Grace tapi kamu harus pergi sekarang.” Cowok itu dengan cepat menarik Grace berjalan menjauh, berjalan kearah belakang mall.


“Saya sudah menghubungi The Mujabihage, dan Vanny. Diperkirakan adaa satu team berpencar di depan Mall.” Hans berujar pelan kemudian membuka pintu mobil.


Davila mendorong Grace pelan, masuk kedalam mobil. Gadis itu ingin menolak. Ia terus menarik tangan Davila, tak ingin berpisah darinya.


Davila menoleh, kemudian mengusap kepala Grace pelan.


“Maafkan aku. Ikut Hans pulang, kamu tidak boleh disini.” Davila menutup pintu mobil kemudian menoleh kearah Hans.

__ADS_1


“Bawa Grace pulang. Panggil dokter Albert. Aku akan mencari team itu.” Davila menoleh kepada kaca mobil kemudian berlalu pergi.


Hans hanya bisa mengambil nafas dalam.


Inilah kehidupan seorang Davila De Gavellyn.


✎ᝰ


Seorang wanita dengan pakaian serba hitam melangkah turun dari mobil dengan tergesa, matanya menghunus ke sekelilingnya.


Keadaan yang sangat kacau. Wanita itu mengambil satu kotak hitam yang ada di dalam mobil, kakinya mulai melangkah cepat kearah pojok ruangan yang berada di belakang mall.


Ruangan darurat.


“Tuan,” Wanita itu membungkukkan badannya hormat, diikuti beberapa lima pria dibelakangnya. Wanita itu mengeluarkan satu kotak yang ia bawa kemudian meletakkannya diatas meja.


Davila membuka kotak itu dengan cepat, mengambil senjata dan peluru yang ada di dalamnya kemudian memasukan peluru didalamnya.


“Lokasi pelaku di ketahui ada di atas, ia naik keatas, senjata yang digunakan McMillan TAC 50, memiliki kemampuan bidik yang sangat akurat dan mampu melepas peluru dengan sangat cepat.” Seorang cowok yang berdiri tak jauh dari wanita itu berujar. Ia memberikan rincian senjata yang di maksud.


Davila bengkit dari kursinya. Ia menunjuk segerombolan pengunjung dan pegawai.

__ADS_1


“Bawa mereka pergi. Ayo pergi cari mereka, seharusnya mereka belum sempat pergi lebih jauh.”


__ADS_2