
Perlahan lahan kelopak mata Grace bergerak, mencoba membuka matanya perlahan.
Gadis itu mematung ketika mengetahui Davila.
Cowok itu menunggunya semalaman.
✎ᝰ
Grace menggerakan tangannya pelan, menekan pipi Davila yang masih tertidur. Nihil. Cowok itu tak kunjung bangun juga.
Grace mencoba duduk, sakit, tapi ia bisa. Gadis itu mendekatkan wajahnya pada Davila, mencubit hidung cowok itu pelan, berhasil. Cowok itu mengangkat kepalanya walau dengan mata yang setengah terbuka.
Grace tersenyum senang.
“Selamat pagi!” Ujarnya, kemudian memainkan rambut Davila yang tebal. Cowok itu mengusap matanya pelan.
“Bagaimana keadaanmu?” Davila bertanya, ia menarik tangan Grace agar berhenti bermain di kepalanya. Grace merenggut.
“Kenapa kita disini? Aku ingin pulang,” Rengek Grace langsung, Davila berdecak malas, ia menyentil dahi Grace pelan, tapi cukup untuk membuat gadis itu memekik kesakitan.
“Kamu harus makan. Kamu hanya mendapat suntikan vitamin semalam.” Davila hendak bangkit, namun Grace lebih dulu menari tangan Davila.
“Bawakan P3K sekalian ya,” Pinta Grace, membuat Davila mengerutkan keningnya, namun tetap mengangguk.
✎ᝰ
Davila meletakan satu nampan berisi beberapa piring dan segelas air putih dingin. Cowok itu mengerutkan keningnya ketika tau Grace malah kembali tidur dengan selimut tebal yang melilitnya.
Davila menarik selimut itu pelan, tapi dengan sigap di tarik oleh Grace.
Cowok itu berusaha menahan tawanya.
Dasar bodoh, Gumam Davila.
Cowok itu mendekatkan wajahnya pada Grace, meletakan dua tangannya di kanan dan kiri kepala Grace, menahan jika gadis itu mau menghadap kearah lain.
Berhasil, wajah Grace memerah kemudian matanya terbuka sempurna.
“Menyingkirlah!” Pekik Grace, seraya mendorong dada Davila, namun sia sia, tenaga nya kalah jauh.
“Berhenti berpura - pura. Makan sana,” Davila mulai menjauh, kemudian memberikan nampan coklat itu. Grace berdecak malas.
“Aku kenyang,” Ujarnya beralasan.
“Kau belum makan sejak semalam.” Balas Davila tenang, seraya mengambil sesendok bubur untuk di suapi.
“Aku—ehm..” Grace mengalihkan wajahnya, menghindari sesendok penuh bubur yang di berikan Davila.
Tiba tiba mata Grace membulat, dengan binar senang yang membuat Davila mengangkat alisnya heran.
“Bagaimana kalau makan McDonald’s saja?” Tawar Grace dengan wajah sumringah, ditambah Puppy eyes nya. Cih.
“Habiskan dulu bubur mu.” Ujar Davila berusaha sabar menghadapi sikap Grace. Gadis itu kontan menggeleng.
“Tidak!” Tolaknya mentah mentah.
“Setengah.” Davila berujar, putus asa berdebat dengan gadis keras kepala itu. Grace tersenyum senang.
“Oke! Tapi sebelumnya, berikan aku kotak P3K!” Ujarnya, seraya mengulurkan tangan menunggu kotak medis yang ia maksud.
Davila memberikannya satu kotak berwarna putih dengan simbol medis. Membiarkan apa pun yang akan dilakukan gadis itu.
__ADS_1
Grace membuka, mengambil kapas dan obat merah. Gadis itu meraih air kemudian mencelupkan kapas sedikit.
“Mana tangan mu?” Grace mengangkat kepalanya, Davila menatap gadis itu bingung, tapi kemudian mengulurkan tangannya.
“Auch!” Davila spontan memekik kesakitan ketika Grace membersihkan beberapa darah kering di sekitar tangannya. Cowok itu menatap Grace yang telaten dengan gerak tangannya.
“Sayang banget tangannya,” Lirih Grace setelah selesai membersihkan sisa darah kering, ia meneteskan sedikit obat merah pada kapas yang baru, dan memberikannya sedikit demi sedikit ke tangan Davila.
“Tangan aja gak di sayang, apa lagi aku?” Ujar Grace enteng, ia membuang sisa kapas ke tempat sampah kemudian mengembalikan obat merah pada tempatnya.
Davila malah diam mematung. Menatap wajah Grace lekat lekat. Cantik.
“Aku bercanda.” Grace kemudian melanjutkan, melihat Davila hanya diam. Gadis itu tertawa kemudian mengacak acak rambut Davila.
Kemudian pagi berlanjut dengan beberapa pertengkaran kecil, yang tanpa mereka sadari membuat mereka saling terikat satu sama lain.
✎ᝰ
Aku mengambil segelas air putih di atas nakas kemudian meneguknya perlahan. Davila sedang pergi membeli beberapa barang di Mini market.
Aku terkekeh pelan. Kapan lagi menyuruh-nyuruh seorang Davila? Kesempatan langka!
Aku mengambil ponselku yanh tergeletak diatas nakas, membuka Lockscreen kemudian membuka aplikasi chat.
Daniel 🤩: Apa kamu baik baik saja?
Daniel 🤩:sedang apa?
Aku terkekeh pelan, kemudian menggerakan jemari ku untuk mengetik diatas Keyboard ponselku.
Me : Aku baik baik saja, bagaimana dengan mu?
Aku bergumam, menunggu balasan dari pesan pendek itu.
Daniel 🤩: aku bosan.
Me : Pergilah mencari wanita itu, seharusnya kamu tidak akan bosan menemaninya Shopping.
Aku menyindir. Menyindir wanita masa lalu Daniel yang hanya bisa menghabiskan uang Daniel. Dan bodohnya, kakak laki lakinya itu malah semakin tergila gila bila wanita itu terkesan Matre.
Daniel 🤩:Kita sudah putus. Kenapa kamu terdengar begitu dendam dengannya?
Me : Aku tidak dendam.
Selang beberapa menit, kontak Daniel mulai mengetik.
Me : Aku sangat dendam padanya.
Kemudian Daniel berhenti membalas. Kalau boleh aku tebak, cowok itu pasti mendengus kesal kemudian mengumpati dengan kata ‘Terserah’ kencang kencang.
Biar saja!
“Sangat menyenangkan ya? Chattingan dengan pri-a la-in.” Tekan Davila dalam kata “Pria lain”. Cowok itu menarik ponselku seraya membaca isinya dari atas.
Aku berdecak malas, namun membiarkannya membaca isi pesan itu agar tidak salah paham.
“Siapa Daniel? Kenapa kontaknya ada emoticon sementara aku tidak?” Davila protes, menatap nyalang mataku.
“Daniel Edward Georgette, Kakak kandungku. Lahir di Turkey, suka makan Chettos, dan membenci segala hal berbau keju. Tidak kuat makan pedas, dan condong menyukai Gummy bear.” Ujarku lengkap. Cowok itu mengangguk, namun matanya tetap memincing.
“Lalu kenapa di kontaknya ada emoticon sementara aku tidak?” Ujar Davila ketus, cowok itu duduk di kursi kemudian membuka sekaleng soda.
__ADS_1
“Astaga, apa itu penting?”
“Sa-ngat!” Balasnya keji, aku berdecak kemudian meraih ponselku untuk mengganti nama kontaknya. Aku memincingkan mata beberapa saat memikirkan nama yang kira kira lucu.
Apa ya?
Aku menoleh, menghadap Davila sesaat sebelum akhirnya menekan pipi cowok itu. Davila tak protes, ia masih asyik meneguk soda nya.
Ah iya!
Jemariku bergerak, mengetikan sederet kalimat yang menurutku pas.
My Baby Davila 𑁍
Alay. Tapi aku tidak peduli, cowok itu menoleh, melihat nama kontak yang tertera.
“My baby Davila,” Lirihnya membaca tulisan yang tertera, cowok itu bergidik ngeri membuatku memukul bahunya kesal.
Kurang ajar!
“Ya sudah aku ganti ‘Bajingan’ saja!” Sentakku kesal, cowok itu menarik tanganku, agar tidak bergerak.
“Apa?!” Tanyaku galak, cowok itu menarik ponselku kemudian melemparkannya jauh ke sofa. Aku membulatkan mata kaget.
“Aku suka itu.” Ujarnya mengulum senyum menggoda. Aku merasakan sesuatu yang aneh.
Sialan! Kenapa pipiku terasa panas? Aku menggerutu, sepertinya pipiku memerah sekarang. Ah!
“Davila, ayo pulang...” Rengekku lagi, cowok itu berdecak, kemudian mendekatkan wajahnya.
“Aku akan mencium mu jika kau terus merengek!” Ancam Davila, cowok itu menempelkan bibirnya pada pipiku beberapa saat.
“Ah iya! Terimakasih sudah mengingatkanku, aku akan mengajukan suatu syarat,” Aku menyeringai, kemudian mendorong wajah cowok itu agar menjauh.
“Kau tidak boleh mencium bibirku, dan melakukan itu jika kita tidak saling mencintai,” Ujarku enteng seraya memakan satu buah Marshmellow putih.
“Bukannya kita tidak saling mempercayai cinta?” Davila bertanya tidak mengerti. Aku mengangguk secara spontan.
“Yap! Maka dengan kata lain kita tidak akan pernah melakukannya.” Ujarku menekan kata kata yang menurutku penting. Cowok itu berdecih.
“Ah iya, kenapa kamu bisa berbicara bahasa Indonesia? Sejak kapan?” Aku bertanya, seraya mengambil satu chips yang sedang Davila pegang. Cowok itu mendongak.
“Sejak aku tau bahwa kau adalah orang Indonesia.” Balas Davila singkat, seraya menelan Chips.
“Sejak kapan kau bisa berbahasa Korea?” Tanya Davila balik, cowok itu menatapku penasaran.
“Well, dulu aku berniat kuliah di Korea, jadi aku belajar bahasa Korea.” Balasku lancar.
“Yah, tapi sayangnya mama papa tidak menyetujui.” Lanjutku lirih, menerawang mengingat masa itu. Davila menoleh penasaran.
“Kenapa?” Tanya nya langsung, aku menggeleng pelan kepalaku.
“Mereka bilang, tidak punya uang cukup untuk membiayai. Tapi seminggu setelah itu mereka meminta Daniel melanjutkan kuliahnya di Standford. Tanpa beasiswa, dan mereka membiayai Daniel penuh.” Lirihku. Terkekeh hambar.
“Mereka tak pernah melihatku.” Gumamku pelan. Davila mengusap kepalaku pelan, aku menoleh.
“It's very unpleasant to know that your own family doesn't consider you.” Davila melirih pelan, ia menarik tanganku kemudian mengenggamnya. Aku mendongak, menatapnya dalam. Manik mata itu sangat tulus, seolah ia sungguh sungguh.
Aku mengangguk, kemudian tersenyum miris.
“Ya.”
__ADS_1
“Don’t think about it. you have me now. I would not treat you like that, again.” Davila mengambil nafas pendek.
“You have me, now.” Tekannya sungguh sungguh.