
Grace tidak tau harus merasa senang atau kesal, mengingat ia harus berkencan dengan Davila sekarang.
Eh, tapi kan ini kencan ala rakyat biasa! Mata Grace langsung membulat senang, dengan bibir yang mengulum senyum senang.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk mengerjai Davila. Haha! Oke anggap saja ia kurang ajar, tapi biarlah. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali!
Otaknya mulai terputar, mencoba memikirkan cara untuk mengerjai Davila, agar cowok itu kesal. Jemarinya mengetuk ngetuk meja beberapa saat, mencoba berfikir.
Ngg, apa ya..?
“Cepat.” Dari balik pintu kamar mandi, Davila berujar ketus, seraya mengetuk ngetuk pintu kamar mandi jengah. Grace menoleh dengan wajah sumringah.
“Iyaa!” Grace keluar dari kamar mandi dengan senang, pandangan yang ia dapati adalah wajah masam Davila, cowok itu tampak terduduk di atas meja dengan balutan kaos berwarna krem dan celana hitam.
“Kenapa—”
“Kau tau? Orang normal, biasanya menggunakan baju couple jika akan berkencan, jadi mengertilah.” Potong Grace seraya tersenyum tanpa dosa.
Seharusnya Davila kesal. Tapi nyatanya sekarang dalam hatinya ia senang. Ia menoleh, memperhatikan pakaian Grace yang berwarna senada dengan pakaiannya.
“Ayo! Jangan membuatku menunggu!”
✎ᝰ
Sudah beberapa kali Grace memasuki beberapa toko kecil di mall, namun ia tampak tak berminat membeli apapun disana, membuat Davila jengah.
__ADS_1
“Ini lucu!” Grace berujar, seraya mengambil satu case ponsel berwarna hitam dan putih, seraya menunjukkannya ke depan wajah Davila. Cowok itu hendak mengambil kartunya sebelum Grace lebih dulu menyela.
“Eh, tapi engga deh.” Kemudian gadis itu membalikan casenya, membuat Davila rasanya ingin mengigit Grace sekarang.
“Apa yang kau cari? Kita sudah berputar hampir ke seluruh toko yang ada disini!” Davila berseru dongkol, ia mengambil Case itu dan membawanya ke kasir, Grace ingin menyela tapi itu hanya akan memperburuk suasana, jadi ia hanya diam.
Beberapa menit kemudian Davila kembali dengan satu Paper Bag coklat, cowok itu memberi Grace paper bag yang ia bawa tadi.
“Padahal, kalau kencan biasa itu memang mereka biasanya berkeliling mall, kenapa kamu malah terlihat seperti ingin membeli seisi mall?” Gumam Grace seraya mencoba menyamakan langkahnya dengan Davila. Cowok itu menoleh.
“Ya, aku baru ingat kalau mall ini sebenarnya punyaku.” Davila berujar enteng membuat Grace membulatkan mata kaget.
“Sungguh?! mall ini milikmu?” Davila menoleh tak mengerti, kenapa Grace se girang itu?
“Ya, kenapa?” Gadis itu tiba tiba memeluk lengan Davila erat, membuat Davila bertambah bingung. Pupil matanya membesar, imut membuat Davila ingin mencubit pipinya.
Entahlah apa yang Grace pikirkan, Davila tidak paham, dan tidak pernah paham.
“Kenapa semua orang menatap kearahmu? Aku ingin mencongkel mata mereka,” Davila berbisik kesal, melirik beberapa orang yang secara terang terangan menatap mereka berdua. Grace menoleh kemudian berdecih malas.
“Mereka itu memperhatikanmu, bukan aku, tuan!” Sentak Grace kesal, Davila mengalihkan pandangannya dengan satu alis terangkat.
“Benarkah? Oh ya, aku baru ingat aku sangat tampan.” Grace memutar bola matanya jengah mendengar penuturan Davila yang terdengar sangat kepedean. Ia berdecih malas.
Ya.., tapi emang sih Davila kan ganteng.. Mata Grace membulat mendengar kata batinnya. Apa? tidak!
__ADS_1
“Bermimpilah tuan,” Sinis Grace, namun tak di pedulikan oleh Davila cowok itu menunjuk Food court di hadapan mereka.
“Ayo makan, kamu mau apa?” Davila bertanya, matanya masih fokus menatap beberapa stan yang menjual makanan. Grace bergeming sesaat kemudian menunjuk stan Baskin Robins, dengan senang.
“Aku akan beli Baskin Robins, kau mau rasa apa?” Davila menggeleng, tanda ia tak mau kemudian memilih duduk di salah satu kursi.
“Tidak. Cepatlah.”
✎ᝰ
“Mau rasa apa mba?” Pegawai wanita itu bertanya, menenteng scop ice cream dan cup size quart di tangannya. Grace melirik kesana kemari, mencoba mencari rasa yang ia mau.
“Ngg, Pralines ‘n Cream deh mba,” Ujar Grace seraya menunjuk salah satu box ice cream, pegawai itu dengan sigap mulai mengambil ice cream dengan Scop nya, lalu setelah selesai, pegawai itu memberikan Grace cup ice creamnya.
Gadis itu tersenyum senang melihat satu cup sedang ice cream di tangannya.
“Terimakasih!” Lalu dengan cepat gadis itu berjalan ke arah meja Davila.
“Kenapa kau membeli size yang begitu kecil?” Davila melirik cup yang di bawa Grace, gadis itu menatap Davila tak percaya.
Quart, bukan size yang kecil, apa lagi jika mengingat bahwa hanya Grace yang memakannya. Astaga, bahkan Grace berfikiran untuk memakan ini berdua dengan Alyn.
“Ini sudah sangat cukup untukku, kau tau?” Grace berujar kesal, kemudian meletakan cup ice cream itu di atas meja.
“Ada sesuatu di rambutmu,” Davila berujar seraya menunjuk sejumput rambut di dekat telinganya, Grace mengangkat satu alis heran, seraya menggerakan tangannya untuk mencari “sesuatu” yang di maksud Davila.
__ADS_1
DOR!!
Darah mulai menetes turun membasahi meja dan lantai mall.