
Aku terbangun ketika terik matahari mulai terasa menusuk pori pori kulitku. Aku membuka mataku namun dengan cepat menutupi mataku dengan tangan, terlalu silau.
“Mmmphh.. dimana aku?” Gumamku tanpa sadar. Aku melirik sekitar. Ruangan yang besar di dominasi warna abu abu dan hitam. Banyak sekali piala penghargaan, dan Action figure satu cowok yang—mirip Davila? Tapi warna rambutnya coklat.
Ia menoleh pada orang disebelahku—laki laki? Siapa itu?
“Hei, aku dimana..” Gumamku seraya menggerakan badan cowok itu. Rambutnya yang berwarna Light blonde sungguh mencolok pagi ini.
“Mmh..” Cowok itu hanya menggerang tanpa minat. Aku berdecak, seraya mencoba menggoyangkan tubuhnya lagi.
“Hei..”
“Ah, aku masih mengantuk, diamlah.” Ketus cowok itu, ia membalikkan badannya namun tetap menutup matanya. Itu—Davila!
“Davila..” Cowok itu menggeram, seraya menarik lenganku secara mendadak. Ia memelukku seraya menutupi tubuh kami dengan selimut yang baru kusibak.
“Tidur lah.” Aku berdecak, ingin melepaskan pelukkanya, namun kekuatan cowok itu terlalu kuat. Aku memilih pasrah dan menenggelamkan wajahku di dadanya.
🌵
Aku bangun dari tidurku. Memilih duduk di pinggiran kasur seraya berjalan untuk melakukan tour kecil kecilan di kamar Davila, sepertinya menyenangkan.
Cowok itu masih tertidur dengan pulas. Suara dengkuran pelannya seperti bayi. Sikapnya seolah terendam dengan wajah polosnya saat tertidur, lucu.
Aku mulai menutari seisi nakas. Banyak Action Figure dengan wajah yang sangat mirip Davila, namun bedanya rambutnya berwarna coklat. Ia melirik tulisan di bawahnya.
“Davila De Gavellyn,” Lirihku membaca tulisan yang terukir dibawahnya.
“Jadi itu nama panjang Davila?” Lirihku pelan. Banyak sekali Trophy di ruangan ini. Sepertinya Davila tak mengada ada soal ia adalah pemilik perusahaan terbesar di U.S.A, dasar sombong.
Aku memutari ruangan. Lalu berhenti di meja panjang dekat televisi. Ada satu figura yang berisikan foto seorang wanita yang sangat cantik.
“Wah, cantik sekali..” gumamku tanpa sadar. Wanita itu menggunakan Dress selutut berwarna Maroon, anggun sekali.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?” Suara berat Davila mengintrupkesi. Suara khas bangun tidur.
“Davila, dia sangat cantik.” Lirihku, cowok itu menyipitkan matanya seraya berdecak dan bangun dari kasurnya.
“Apa dia man—” Davila merebut figura itu seraya membuangnya ketempat sampah. Dia menatapku tajam seraya berbisik sinis.
“Jangan membahasnya.” Bisiknya ditelingaku.
“Maaf.” Lirihku seraya menunduk, merasa bersalah. Cowok itu berdecak.
“Apa kau memberantakan kamarku?” Davila berseru, aku menggeleng.
“Tidak. Oh, apa ini kamu? Kenapa rambutnya coklat?” Ujarku seraya mendekati salah satu Action Figure.
“Warna rambut asliku Light blonde, tapi aku mengubahnya menjadi coklat agar tidak mencolok.” Balas Davila acuh.
“Oh—”
Dasar menyebalkan!
🌵
Meja makan besar itu hanya terisi dengan 5 orang, keluarga Davila.
Wanita paruh baya yang tampak ramah itu sedari tadi mengajakku mengobrol, panjang dan kesannya asyik tidak kaku.
Ada juga seorang gadis kecil yang ternyata adik bungsu Davila, Alyn. Alyn sangat polos dan menggemaskan! Gadis itu selalu tau bagaimana cara orang agar menyukainya.
Namun ada 2 orang yang hanya diam selama sarapan berlangsung, Davila dan, satu cowok lagi yang berambut sama seperti Davila.
Apa dia adik Davila?
“Aku sudah selesai.” Davila memotong perkataan Alyn yang masih asyik bertanya tanya tentang aku.
__ADS_1
“Ikut aku.” Ujar Davila seraya menarik tanganku. Alyn tampak mendengus kesal.
“Dasar pemaksa!” Cetus Alyn keras, namun Davila hanya membalas dengan jari telunjuknya yang ia tempelkan di depan bibir.
Aku menatap Alyn seraya melayangkan tangan, seolah mengajak High Five.
Kita sependapat! Ah aku akan menyukaimuu!
🌵
Aku sangat bosan. Berguling guling diatas kasur seraya memainkan ponsel.
Davila menyebalkan. Bagaimana ia bisa mandi selama ini? Gerutuku dengan kesal. Sudah beberapa menit lamanya cowok itu tak kunjung keluar.
Ngiiikk!
“Apa yang kamu lakukan?” Davila berujar acuh seraya melemparkan handuk kecil ke depan mukaku.
“Hei!” Aku memekik kesal seraya, mengambil handuk yang di lempar oleh Davila.
“Kenap—”
KYAAAAAAA!!!
Dengan gilanya cowok itu berjalan mendekatinya hanya dengan handuk putih yang melilit pinggang sampai Lututnya saja, dengan kata lain, cowok itu bertelajang dada dengan santainya!
Aku mengambil handuk itu seraya melemparnya pada Davila.
“Pakai bajumu!” Pekikku, Davila menggaruk tengkuknya.
“Kenapa?”
“Davilaa!! Pakai bajumuu! Aku mau mandi!”
__ADS_1