Liberosis

Liberosis
#15: Menjauh


__ADS_3

Davila membuka gorden jendela, membiarkan matahari masuk dan menyinari gadis yang masih nyaman tertidur di kasur. Gadis itu menggerang kesal seraya menutupi wajahnya dengan selimut.


“Mmmphh..” Erangnya seraya membalikkan badan. Davila terkesan, bagaimana bisa dengan entengnya ia tetap tidur?


“Bangun.” Davila menarik selimut yang melilit gadis itu. Ia melempar asal selimut tebalnya ke lantai.


Gadis itu membuka matanya. Ia mengusap dua matanya yang memerah karena menangis semalam.


“Aku mengantuk.” Suara khas bangun tidur itu terdengar. Davila mendekati Kaylina seraya mengusap kepalanya lembut.


“Apa kamu sadar kalau ini sudah jam 11?” Lirih Davila seraya meletakkan anak rambut Kay dibelakang telinga.


“Jam 11 apa..?” Gumam Kay setengah sadar. Namun beberapa detik kemudian matanya terbuka sempurna, membulat kaget.


“Jam sebelas pagi?!” Davila menutup telinga dengan spontan.


Ia menutup mulutku dengan tangannya. Membekap mulutku hingga aku memekik kesal, yang hanya terdengar seperti ‘mmpph’.


“Berisik.” Cetus Davila, ia melepaskan tangannya.


Kan dia yang ganggu! Pake ngatain lagi! Gerutu ku dalam hati. Sialan.


“Ah, Davila..”


“Apa?” Balas cowok itu acuh. Masih fokus dengan pekerjaannya.


“Yang semalam—itu benar terjadi?”


Davila menoleh.


🌵


Air shower mengalir deras. Membuat suara yang cukup keras memenuhi kamar mandi.


Hangat. Air itu terasa hangat dan menenangkan untuk saat ini. Aku mengangkat tanganku untuk menyentuh air itu.


“Yang semalam—itu benar terjadi?”


Davila menoleh. Ia mengusap rambutku pelan. Lembut sekali.


“Kamu tidak akan mau mendengarnya.” Davila berujar. Kemudian bangkit dari kasur untuk pergi. Tapi aku sempat menarik tangannya. Tatapannya berbeda. Itu aneh.


“Bilang saja.” Aku memohon. Cowok itu masih enggan membuka mulutnya. Terpaku diam dengan pandangan lekat.


“Aku..” Davila membuka mulutnya perlahan. Aku mendongak, tatapannya masih kosong.


“Tidak mau miliku disentuh orang lain.”


Aku mengambil botol Shampoo seraya membuka tutupnya dan memakainya.


Aroma Lavender tercium. Wangi.


“J—jangan mendekatiku...” Aku melirih ketakutan. Cowok itu masih terus melangkah mendekatiku.


“Ini aku,” Suara Davila. Cowok itu berjongkok didepanku, seraya mengusap kepalaku lembut.


Ia memelukku erat. Aku menahan nafas.


“Davila—”

__ADS_1


“Aku disini.” Ia mengeratkan pelukannya, seraya menutup tubuhku dengan tubuhnya. Cowok itu mencium dahiku lama. Seraya mengusap tengkukku lembut.


“Jangan pergi dariku, Kay.”


“Gila.” Aku melirih tanpa sadar. Busa Shampoo sudah terjatuh di lantai. Mulai berbaur dengan air hangat yang terus mengalir.


“Dia membunuh orang itu hanya karena—” Aku menutup wajahku. Frustasi.


Sepanjang hidupnya, ia tak pernah berada di titik ini. Ia tak pernah memiliki niat membunuh seseorang, tidak. Tidak pernah.


Bagaimana bisa Davila—


“Ahh!” Aku menggerang. Pusing.


🌵


“Habiskan makanmu.” Davila berujar, ia mendorong pelan tanganku yang hanya memainkan makanan dengan sendok.


“Apa..—oh, maaf.” Aku berujar, menyendokkan nasi dan yakiniku seraya memasukannya kedalam mulutku.


Davila melirik sekilas, ia lanjut memakan sarapannya.


Cowok itu memintanya makan di kamar. Alasannya klise, ia malas.


Aku tau itu terdengar aneh. Jelas sekali cowok itu menghindari pertanyaan Alyn dan Bunda, aku tau.


“Cepat habiskan makananmu. Ikut aku.”


🌵


Aku duduk di jok mobil dengan pikiran yang melayang.


Mobil itu berjalan pelan, tenang di tengah suasana kota yang lenggang.


“Aku mencintaimu, Kay..” Cowok berambut hitam itu berjalan mendekat. Memojokan badan mungil Kay di dinding.


“A—aku—” Kay tersentak takut. Jantungnya berdegup tak karuan.


“Jangan mendekatiku..” Kay melirih takut. Matanya memanas. Cowok di depannya mengangkat alis bingung, tapi ia tetap melangkah mendekati Kay.


“Gerald! Berhenti!”


“Kenapa? Aku pacarmu Kay!” Cowok itu membanting kemejanya marah.


“Aku—ah! Pergi!” Kay menampar cowok itu. Cowok itu memegang pipinya. Wajahnya memerah, marah.


“Apa yang kamu lakukan?!”


“Apa yang aku lakukan...?” Kay bergumam lirih takut. Gerald mendekatkan wajahnya, hingga nafas hangat nya menyapu wajah Kay.


“Menyingkirlah!” Kay menendang perut cowok itu. Gerald menggerang kesakitan


“Oke! Aku benar benar membuang waktu ku untuk mu, ******!!”


Aku menutup mataku, mengambil nafas panjang.


Sepertinya kejadian semalam membuat mimpi buruk itu kembali bangkit dan berbaur.


Aku mengambil pil di dalam tasku. Menelannya dengan cepat, berharap mimpi buruk itu berhenti terngiang.

__ADS_1


******.


“Apa kamu baik baik saja?” Davila memecah keheningan. Ia mengambil pil itu, membaca incinya.


“Aku..tidak apa apa.”


Aku harus tidak apa apa, kan?


“Lupakan yang semalam.” Davila masih meneliti tulisan yang tertempel di Pack itu.


“Makanya aku bilang, kamu tidak akan mau mendengarnya.”


Badanku tiba tiba mematung.


🌵


Davila turun dari mobil, ia mengulurkan tangan, hendak membantuku.


Aku tersenyum kecil, kemudian berjalan turun tak mengadah uluran tangan Davila. Cowok itu menoleh penasaran, tapi tetap diam.


“Tuan Davila,” Beberapa staf tampak menunduk hormat, memberi salam yang hangat. Tapi Davila hanya mengangguk pendek.


“Tuan, hari ini ada pertemuan dengan direktur Fay, lalu—” Hans membacakan jadwal Davila, cowok itu menoleh kemudian meminta Hans mengaturnya.


“Ikut aku.” Davila berujar, memerintah dengan tegas seraya hendak menarik tanganku.


Aku menarik tanganku agak menjauh, menolak uluran tangan Davila untuk kedua kalinya.


Cowok itu melirik tajam. Ia menyuruh Hans menunggu di luar ruangannya.


Buk!


Tangan Davila memukul pelan pintu. Ia memojokanku dengan tatapan menghunus.


“Kenapa kamu menjauh?” Davila merapatkan tubuhnya pada badanku. Aroma tubuhnya tercium oleh indraku.


Wah, parfum apa yang di gunakan Davila?


Aku terpaku beberapa saat sebelum akhirnya meruntuki diri sendiri.


Bodoh!!


“Kenapa kamu menjauhiku, Kaylina Grace?” Davila mengulang kata katanya, ia menarik daguku untuk menghadap wajahnya. Jarak wajah kami hanya satu inci.


“A—aku...” Aku mencicit takut, menggantungkan ucapan, dan berusaha berfikir apa harus melanjutkan ucapanku.


“Aku takut ...” Aku menutup mata. Menanti reaksi Davila yang sepertinya akan marah.


Deru nafas hangat Davila menyapu wajahku. Cowok itu mengambil beberapa helai rambutku dan meletakkannya di balik telingaku.


“Dengar.” Davila menarik Daguku lagi, menghadap wajahnya. Rahangnya mengeras, marah dan matanya menajam. Menyeramkan.


“I protect you with all my life, I will never hurt you, and I don't want anyone to even touch your hair.”


Davila mengusap pipiku lembut, rahangnya mulai melunak, dan tatapannya menjadi teduh. Berubah 180 derajat, jauh sekali


“Hanya kamu yang aku punya. you are mine,” Lanjut cowok itu. Aku mengangguk pelan, bingung mau merespon apa.


“Maaf.” Lirihku menyesal. Cowok itu mengambil nafas dalam sebelum kemudian mencium dahiku lembut.

__ADS_1


“Jangan menjauh dariku, jangan menghindar dariku, dan jangan pergi dariku.” Lirih Davila.


“Mengerti?”


__ADS_2