Liberosis

Liberosis
#35: Mengharapkan tidak pergi


__ADS_3

“Nona, nona juga perlu makan malam, Tuan Davila akan marah jika tau nona belum makan malam,” Suara itu sudah seperti radio rusak yang terputar berkali kali.


Malam telah menjemput. Matahari, kini telah berganti menjadi bulan yang dihiasi beberapa bintang.


Grace tetap tak bergerak dari tempatnya, ia enggan berjalan keluar untuk makan malam, atau melakukan aktifitas apapun.


Yang ia lakukan sekarang hanyalah berdiam di bawah bath up, menikmati wangi lilin aroma terapi, dan air hangat. Gadis itu menoleh pada ponselnya, disana sudah menunjukan pukul 9:30, setengah sepuluh dan ia masih nyaman berada di dalam Bath up.


Matanya berkelana kearah jendela dihadapannya, menatap langit malam yang indah. Bulan bersinar terang dan bintang yang memancarkan cahaya tak kalah terang. Aku tersenyum pendek. Merasa lebih tenang ketika melihat langit.


“Tuan Davila sudah biasa dengan situasi ini, nona. Jadi percayalah, bahwa ia pasti kembali.” Ucapan dokter itu masih terputar di pikirannya, ia mengambil satu bubble di sekitar air hangatnya kemudian mengusap busa itu keseluruh tangannya.


Davila pasti kembali. Gumamnya dalam hati, matanya menerawang.


“Sayang sekali, wanita secantik kamu harus menderita seperti ini.” Lirih cowok itu keji. Cowok berambut hitam pekat dan mata abu abu.


“Dekat dengan pengusaha paling sukses se amerika tidak mudah, kan? Nona?” Ejek Cowok itu kemudian menampar pipi kiriku lagi.


Tiba tiba bayangan saat ia di sekap terputar, ucapan ucapan beberapa orang tentang Davila seolah saling menyambung di otaknya.


Semua orang membicarakan Davila. Tentang seberapa susahnya menjadi Davila. Cowok itu selalu kehilangan orang terdekatnya, cowok itu sering mendapatkan luka, cowok itu selalu terlibat masalah yang harus berakhir dengan gencatan senjata.


Aku menghela nafas pendek, kemudian mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhku. Tanganku bergerak mengambil satu Hoodie tebal berwarna hitam di lemari. Lemari Davila.


Sudut bibirku terangkat, membentuk senyuman kecil. Aku tau, dengan menggunakan Hoodie dan celana pendek, aku akan kedinginan, tapi aku ingin.


Karena Grace tau, pasti ada aroma parfum Davila di setiap lekukan Hoodie itu, gadis itu tersenyum kemudian menatap pantulan dirinya dengan Hoodie hitam dan celana pendek yang tenggelam dalam panjangnya Hoodie itu.



Ia bergumam pelan, kemudian terkekeh hambar.


Rasanya Grace seperti kehilangan. Kehilangan sesuatu yang tak pernah ia pikrikan sebelumnya.

__ADS_1


Grace tak pernah berfikir, bahwa kehilangan seorang Davila akan semenyakitkan ini, Gadis itu menatap pantulan wajahnya.


Davila pasti kembali.


✎ᝰ


“Davila!” Grace tersenyum senang, ia mengulurkan tangannya pada Davila, yang disambut dengan senyuman hangat oleh Davila. Cowok itu lantas bergerak memeluk Grace erat.


Gadis itu memejamkan matanya, merasakan pelukan Davila yang terasa hangat, membuatnya nyaman.


Perlahan Davila merenggangkan pelukannya, ia kemudian mengusap dahi Grace pelan, membuat gadis itu kebingungan, namun ia tak melakukan apapun.


Davila tersenyum.


“Grace, maaf aku tidak bisa kembali.” Lirih Davila pelan, ia mencium kening Grace beberapa detik membuat gadis itu terpaku, kebingungan.


“M—maksudmu?” Davila tak membalas, perlahan ia mulai berjalan menjauh dengan senyumannya yang tak luntur.


Air mata Grace meluncur, ia menggapai abu itu tergesa.


“Davila? Davila!!”


Grace terbangun, nafasnya tak beraturan, matanya masih buram, karena ia baru saja bngun tidur. Gadis itu langsung bangkit dari kasurnya. Menatap sekelilingnya.


Davila..?? Davila!


Anggap saja Grace aneh, namun mimpi itu cukup untuk membuat seorang Grace terbangun dengan tergesa. Ia masih berusaha mengatur nafasnya.


Tuk...


Entah kenapa Grace merasa ada langkah pelan, ia dengan cepat berlari keluar dari kamar besar itu, benar saja ia mendapati orang yang ia cari.


Davila. Cowok itu terkejut mengetahui Grace masih bangun di jam selarut ini.

__ADS_1


Grep!


Dengan cepat Grace memeluk Davila erat. Sangat erat, hingga Davila harus berpegangan pada pegangan tangga agar mereka tak terjatuh.


Cowok itu mengambil nafas pelan kemudian mengusap kepala Grace, perlahan terdengar isakan lembut gadis itu. Grace menangis dalam dekapan Davila.


Grace melingkarkan kedua kakinya di perut Davila, cowok itu memegang kaki Grace kemudian menggendong gadis itu kedalam kamar, membiarkan Grace menangis.


“D—davila—” Grace mulai berbicara, walau terputus-putus, Davila memeluk Grace erat, seraya mencium dahi gadis itu perlahan. Cowok berambut coklat itu menarik Grace.


“Ini aku,” Balas Davila tenang, menenangkan Grace yang menangis, ia tak tau mengapa Grace menangis, dan ia tak tau kenapa Grace bisa terbangun dan menemuinya padahal ia sudah berjalan se pelan mungkin. Ia tak tau.


Davila menarik nafas perlahan kemudian membaringkan tubuh Grace di kasur. Gadis itu tak melepaskan pelukannya, ia malah semakin mengeratkan pelukannya. Davila mencium pelan lekukan leher Grace.


“Jangan menangis, Grace.” Cowok itu mengusap pelan air mata yang mengalir dari kedua manik mata Grace. Tapi gadis itu malah semakin menangis, membuat Davila akhirnya mencium kedua matanya bergantian.


“Jangan menangis. Aku merasa gagal menjadi seorang pria jika kamu menangis,” Lirih Davila pelan, membuat tangis Grace perlahan mereda, namun gadis itu tetap tak melepaskan pelukannya.


“Davila—hiks—jangan meninggalkanku..” Lirih Grace ditelinga Davila, cowok itu menggeleng pelan.


“Tidak, maafkan aku Grace,” Balas Davila kemudian mengusap air mata Grace.


“Tidurlah. Aku tidak akan meninggalkanmu. Selamat malam.” Bisik Davila kemudian mencium kening gadis itu lama. Ia mengeratkan pelukannya kemudian membiarkan Grace memejamkan matanya.


Beberapa saat berlalu, Grace tampak sudah tertidur. Davila perlahan bangkit, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.


Grace hanya menggunakan celana pendek. Gadis itu pasti kedinginan jika tidak menggunakan selimut.


Dalam gelap, Davila tersenyum pelan. Senyuman yang entah sudah berapa tahun tak terpasang di bibirnya.


Hatinya menghangat kala tau bahwa Grace mencemaskannya. Ia tak tau mengapa, tapi ia senang ketika Grace mencemaskannya, mengharapkannya cepat kembali, bahkan memintanya untuk tidak meninggalkannya.


Hatinya berdegup kencang.

__ADS_1


__ADS_2