Liberosis

Liberosis
#6: Pernikahan


__ADS_3

Aku mengambil nafas sejenak. Mencoba menerima bahwa pernikahan ini bukan lagi hanya angan angan. Pernikahan ini benar benar terlaksanakan. Hari ini.


Aku menatap bayanganku dari kaca. Menggunakan gaun dan riasan natural yang alami.


Apa aku benar benar akan menikah hari ini?


“Apa yang kamu lakukan?” Davila muncul dari balik pintu. Cowok itu tampak menggunakan setelan jas formal berwarna putih dan menggengam bunga mawar hitam.


“Apa kamu tidak gugup?”


“Untuk apa?” Balas Davila acuh. Ia duduk di kursi seraya menuangkan air putih dingin di gelas.


“Tidak berperasaan.” Gumamku masih fokus pada banyangan di kaca. Itu—aku sangat berbeda dengan balutan gaun mewah berwarna putih.



Davila masih setia menatapku dari balik. Ia tampak meneguk air itu hingga tandas.


“Mari membuat kesepakatan.” Davila bangkit dari duduknya. Ia mengusap bahuku yang hanya tertutupi helaian tipis kain.


“Apa?” Gumamku malas. Cowok itu berdehem sembari memberikan kertas di dalam map. Aku mendengus seraya membukanya.


Surat perjanjian


1. Harus mengikuti semua kemauan Davila tanpa menolak


2.Tidak boleh terlibat hubungan lain di luar pernikahan


3. Harus bisa berakting seakan benar benar mencintai di depan orang lain

__ADS_1


4. Bisa saling mengerti


5. Tidak terlibat perasaan saling suka satu sama lain


6. Melayani Davila


Aku berdecih, seraya mengambil pulpen untuk menandatangani surat itu. Davila hanya melirik acuh.


“Davila, apa aku benar benar tak boleh bekerja lagi?” Lirihku seraya menarik lengan jas cowok berambut Light blonde itu


“Aku tidak akan betah. Memang apa yang akan aku kerjakan jika tidak bekerja?”


“Dengar.” Cowok itu menarik daguku didepan wajahnya hingga jarak yang tercipta semakin menipis.


“Kamu adalah istri dari pemilik perusahaan terbesar di USA.” Ujar Davila, ia menatap manik mataku tajam.


“Aku bosan. Kamu pikir apa yang bisa aku lakukan?” Sebutku kesal, seraya menepis tangan cowok itu.


“Melayaniku.” Ujar Davila acuh. Ia menarik tanganku dengan kasar seraya membawaku pergi.


“Ayo. Acaranya akan dimulai.”


🌵


“Tuan Davila, apa anda bersumpah akan menerima nona Kaylina sepanjang umur mu dan menerima Nona Kaylina dalam keadaan apa pun?” Suara itu berucap nyaring. Seorang yang aku tidak tau harus menyebutnya apa tampak masih khusyuk membacakan sumpah.


“Saya bersumpah akan menerima Kaylina seumur hidup saya, dan dalam kondisi apa pun.” Jawab Davila lancar. Ia terlihat sangat santai.


“Baiklah, anda boleh memasangkan cincin kepada nona Kaylina.” Ujar orang yang menikahkan ku dan Davila itu.

__ADS_1


Davila mengambil kotak beludru dari kantung jasnya seraya membukanya dan meletakkan cincin berlian itu di jarinya. Terlalu manis untuk sebuah ekting.


Para tamu bersorak haru. Hanya ada keluarga Davila dan keluargaku. Pernikahan ini diadakan secara Private.


“Semoga bahagia.”


🌵


Aku berjalan pelan kearah mobil mewah yang sengaja disiapkan. Kakiku sudah sangat lemas karena menggunakan gaun yang berat ini.


Davila tampak berjalan santai dari belakang. Pakaiannya yang formal namun nyaman membuatnya tak keberatan selama acara berlangsung, irinya..



Davila membukakan pintu mobil secara spontan karena melihat Kay kesusahan.


Aku tersenyum seraya masuk kedalam mobil dan duduk di jok dengan sangat nyaman.


Aku mengambil nafas panjang seraya meluruskan kaki ku. Wajahku sudah sangat letih. Pesta itu berakhir pada jam 12:00.


Mobil mulai jalan. Davila tampak sangat cuek memperhatikan pemandangan dari kaca.


Tanpa sadar, aku mulai tertidur. Kepalaku terasa berat hingga akhirnya terjatuh di bahu Davila yang lebar. Cowok itu menoleh seraya berdecih.


Namun ia tampak membenarkan posisi kepala Kay agar bisa tertidur dengan lebih nyaman.


Dasar bodoh. Batin Davila seraya mengusap pipi kay.


Tidurlah. Lanjutnya membiarkan Kay tertidur di bahunya, gadis itu kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2