Liberosis

Liberosis
#23: Descendants Of The Sun


__ADS_3

Davila meletakan dua gelas berisi Coca Cola diatas nakas. Cowok itu mendengus kesal kemudian memberikan ku satu Paper bag kecil yang baru saja diantarkan oleh Hans.


“Yay!” Aku memekik senang, bahkan tanda sadar langsung memeluk Davila erat, saking bahagianya.


Davila mematung. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya aku mulai tersadar, kemudian melepaskan tanganku yang melingkar di leher cowok itu.


“Ehmm, maaf! Hehe.” Aku menggaruk tengkukku canggung, kemudian membuka isi Paper bag itu.


Mataku membulat senang melihat satu Hoodie berwarna hitam. Ya, beberapa waktu lalu aku sempat berdebat dengan Davila, tapi aku tidak menyesalinya! Hasilnya, Hoodie hitam itu kini terpampang nyata di depannya.



“Makasih!” Aku berseru senang, kemudian bergerak untuk mencabut jarum infus yang tertempel di tangannya. Davila memelotot geram.


“Kamu ngapain?!” Davila menggeram, cowok itu melirik infus yang sudah terjatuh, aku menatapnya bingung.


“Ganti baju,” balasku polos. Cowok itu mengusap rambutnya frustasi. Davila menarik infus kemudian meletakkanya diatas kasur.


“Cepat!”


✎ᝰ


Kejadian 20 menit lalu . . .


Aku meneguk beberapa pil vitamin yang dianjurkan dokter. Rasa pahit mulai terasa, sedikit demi sedikit. Aku mengambil air putih kemudian meneguknya agar pil itu bisa segera ketelan.


Aku melirik Davila, cowok itu menatapku was-was karena tadi sempat menolak memakan pil vitamin itu. Cowok berambut Light Blondeitu sudah seperti singa kelaparan yang siap memangsa.


Aku meneguk ludahku kemudian berdehem, mencoba mencari topik. Tiba tiba lampu di kepalaku menyala, menandakan ada ide tercetus. Kekanak-kanakan tapi terserah, dong!


“Oh ya, aku minta maaf ya, Hoodiemu waktu itu di gunting,” Ujarku lirih, alis Davila terangkat satu, kemudian mengangguk mengerti beberapa saat kemudian.


“Sayang banget loh. Padahal aku suka Hoodienya! Sumpah, itu yang gunting gak punya perasaan!” Aku mengumpat. Berceloteh memaki wanita berpakain serba hitam yang menggunting Hoodienya—oh ralat, HoodieDavila.


Cowok itu beranjak, mencubit pipiku dengan kekuatan penuh. Aku menatapnya kesal, seraya menabok lengan cowok itu.


“Sakit!” Pekikku seraya menarik tangannya. Namun bukannya berhenti, cowok itu malah menggerakan tanganya, memainkan pipiku seolah itu adalah buntalan clay.


“Itu satu Hoodie, diantara 100 Hoodieku.” Balas Davila acuh. Tangannya masih memainkan pipiku tanpa perasaan.


“Bwerartwi kamwu mwasih pwunya bwanyak—awwh!” Aku memekik ketika cowok itu menyentil dahiku. Sakit!

__ADS_1


Dasar tidak berperasaan! Menyebalkan! Keji! Kejam! Monster!!Aku membatin, mengumpati Davila.


“Hm.” Balasnya cuek. Davila merapikan rambut Blondenya dan merapikan kaosnya, cih! Sok ganteng!


“Bawakan aku Hoodiedan celana pendek.” Cetusku memohon, cowok itu menoleh, dengan tatapan setajam silet.


Setajam silet....astaga! Bodohnya aku, malah membayangkan salah satu Channeltelevisi gosip dengan slogan ‘setajam silet’!


Poor Gracee!


“Untuk apa memamerkan pahamu? Memang ada yang tertarik?” Balas Davila menusuk. Cowok itu memang selalu tau cara membuat lawan bicaranya bungkam. Cih! Aku menatapnya meremehkan.


“Memang kamu tidak tertarik?” Tantangku seraya memainkan kuku-kuku jemariku, Davila melirik sinis.


“Tidak.” Balasnya lebih menusuk. Aku menyeringai licik.


“Ya sudah. Kamu tidak tertarik kan? Kenapa melarangku memakai celana pendek?” Gotcha! Aku tersenyum senang melihat Davila yang hanya diam. Cowok itu melirik dengan sinis.


“Ck! Kamu menang!” Davila berujar kesal, sembari mengambil ponselnya, dan menekan salah satu kontak.


Aku tersenyum bangga, kemudian menggerakan tangan, berselebrasimerayakan keberhasilanku!


✎ᝰ


Aku memandang kaca kamar mandi itu dengan senang. Kaca yang memantulkan bayangan seorang gadis dengan Hoodie dan celana pendek yang tertutupi Hoodie panjang itu. Dengan senyuman yang merekah sempurna, seolah baru saja memenangkan lotre.


Davila mengetuk pintu beberapa kali, ditambah dengan geraman malasnya.


“Cepatlah!” Seru Davila dari balik pintu, aku berdecih malas kemudian berjalan, membuka pintu kamar mandi.


Davila melirikku—oh ralat—melirik tubuhku dari atas ke bawah, cowok itu berdecak malas kemudian menarik tanganku kearah kasur lebar itu.


“Puas?” Seru Davila jengkel, aku tersenyum, mencoba menahan gelak tawa melihat wajah masam Davila. Cowok itu seperti telah menelan sesuatu yang sangat asam. Lucu.


“Untuk saat ini, ya.” Aku berujar, disertai cengiran lebar. Davila mendekatkan wajahnya, kemudian mencubit pipiku—lagi! Aku menepis tangannya.


“Tapi aku tetap bosan. Aku ingin menonton Drama bersama Alyn.” Aku kembali merengek, membuat Davila mengusap wajahnya frustasi. Cowok itu sepertinya sudah lelah menghadapi segala kemauanku.


“Tonton lah.” Balas Davila akhirnya, cowok itu melemparkan Remote telivisi kearah perutku. Aku menangkapnya.


“Aku ingin menonton bersama Alyn,” Pintaku, cowok itu mendekatkan wajahnya, mencubit kedua pipiku sehingga bibirku sedikit terbuka akibat ulahnya. Cowok itu mencium pipiku gemas kemudian menjauhkan wajahnya.

__ADS_1


“Aku akan menemanimu.” Jawab Davila akhirnya. Aku tersenyum senang, mataku berbinar.


“Kalau begitu, sini!” Aku menepuk ruang kosong di atas kasur. Sangat lebar, yang akan cukup untuk Davila. Cowok itu menaiki kasur tanpa protes, kemudian memelukku pelan, hangat.


“Apa yang mau kau tonton?” Davila bertanya, mengambil remote televisi kemudian mulai menyalakannya.


Aku bergeming beberapa saat kemudian menyebutkan satu nama drama yang sangat Alyn dan aku sukai.


Descendent of the sun!


✎ᝰ


Aku menatap antusias layar televisi dihadapanku. Salah satu drama terbaik dalam sejarah drama korea ala aku dan Alyn terputar sempurna disana. Aku berkali kali menutup mulutku, menahan tawa yang mendesak keluar. Lucu! Astagaa!


Aku lagi lagi tertawa, melihat raut wajah Yoo si jin—salah satu pemeran utama drama itu—yang terlihat menggemaskan. Davila mengangkat alisnya heran.


Apa yang lucu? Berkali kali cowok itu membatin kalimat yang sama. Namun melihat raut wajah Grace yang tertawa bebas membuatnya senang, sehingga tanpa sadar ia mengukir senyuman. Senyuman yang tak pernah terlihat sebelum ia bertemu Grace.


Aku tersenyum, masih asyik memandangi layar televisi lebar itu. Bagiku, tidak ada yang lebih menyenangkan kecuali menonton drama, apalagi bersama Davila? Itu berkali kali lipat menyenangkan!


Adegan mulai berganti. Menjadi lebih serius, ketika beberapa tentara terlihat dalam baku tembak.


Dor!


Aku memekik tanpa sadar, kemudian memeluk tubuh Davila erat, cowok itu menatapku kemudian mengelus kepalaku lembut.


“Itu hanya drama. Bodoh.” Ejeknya kemudian melihat adegan yang terputar.


Aku menggerutu kemudian mencoba mengeluarkan kepalaku pelan.


“Sudah selesai belum?” Gumamku, melirik layar televisi.


“Belum.” Balas Davila acuh, cowok itu menelan Chipsnya.


✎ᝰ


Malam semakin larut. Tanpa sadar kedua insan itu sudah tertidur pulas dengan balutan selimut dan saling memeluk.


Nafas mereka yang lembut terdengar bagai dengkuran bayi. Mereka memerlukan istirahat.


Dan tanpa mereka sadari. Keduanya merasakan rasa hangat yang perlahan lahan menjalur. Nyaman.

__ADS_1


__ADS_2