Liberosis

Liberosis
#14: Davila


__ADS_3

“Aku pernah membantumu agar Perusahaan mu tidak bangkrut, tapi ini balasanmu?” Lirih Davila di telinga Edward. Cowok itu bergeming tak mengerti.


“Aku tidak suka miliku disentuh orang lain.”


🌵


“Apa maksud tuan?” Edward menggerang kesakitan. Davila tertawa remeh. Tawa keji yang selalu membuat orang bergidik ngeri.


“Bahkan kamu berani menyebut istriku bisa kau pakai, ya?”


BUG!! BUG! BUG!


🌵


Di tempat lain, Hans berdiri tak jauh. Ia menekan alat yang terpasang di telinganya.


“Siapkan satu peti untuk besok pagi.” Hans berujar, orang dibalik alat itu mengerutkan kening heran, itu pihak kemanan perusahaan De Gavellyn.


“Maaf, tuan, untuk apa?” Petugas itu berujar. Antara takut dan penasaran.


“Mayat Edward Handily .”


🌵


Davila mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya. Ia tersenyum senang.


Edward sudah terbujur kaku tak bernyawa di lantai. Darah bercucuran dari kepalanya.


Davila mengambil satu pistol di sakunya. Ia tersenyum keji dan mendekatkan wajahnya pada Edward.


“Ucapkan selamat tinggal.” Lirih Davila pelan.


DOR!


🌵

__ADS_1


Aku meringkuk takut di pojok ruangan. Hans berkali kali sudah berujar pelan, berusaha menenangkan tapi itu tidak memepengaruhiku.


Keringat dingin terus terusan menetes. Aku mengusap sudut mataku yang berair. Aku takut.


Siapapun, tolong aku...


“Nona, anda akan baik baik saja. Tuan Davila baik baik saja, nona.” Entah sudah berapakali Hans berujar lirih dari balik pintu.


Aku bergeming. Badanku bergetar ketakutan.


Bagaimana bisa dia bilang begitu? Aku bergumam lirih.


Tiba tiba suara lain terdengar lumayan kencang.


DOR!!


“Akhh!” Aku spontan memekik kaget. Suara apa itu? Aku melempar alat yang diberikan Hans. Melepasnya dari telingaku dan membantingnya kencang.


“Dimana Kay?”


Kriett.. pintu terbuka. Seorang cowok dengan pakaian formal yang terdapat sedikit bercak darah masuk pelan.


Aku merapatkan tubuhku pada dinding.


“J—jangan mendekatiku...” Aku melirih ketakutan. Cowok itu masih terus melangkah mendekatiku.


“Ini aku,” Suara Davila. Cowok itu berjongkok didepanku, seraya mengusap kepalaku lembut.


Ia memelukku erat. Aku menahan nafas.


“Davila—”


“Aku disini.” Ia mengeratkan pelukannya, seraya menutup tubuhku dengan tubuhnya. Cowok itu mencium dahiku lama. Seraya mengusap tengkukku lembut.


“Jangan pergi dariku, Kay.”

__ADS_1


Dan ditengah malam yang gelap, dan suara bising pesta. Davila meneteskan air matanya dalam diam.


🌵


Davila mengusap pipi Kay lembut. Gadis itu masih tertidur pulas dalam dekapannya.


“Maaf. Jangan pergi dariku. Aku selalu menjagamu.” Davila mencium dahi Kaylina lagi. Lama. Cowok itu mendekap Kay erat.


Tiba tiba sepintas bayangan semalam terputar.


🌵


Kaylina masih menangis tersendu. Tangannya gemetar, dan sekujur tubuhnya basah oleh keringatnya.


Davila tau, cewek itu ketakutan. Ia memeluk Kay erat. Membiarkan pakaiannya basah karena tangis gadis itu.


Beberapa saat terlalui. Kay sudah diam. Gadis itu tertidur kelelahan. Davila menggendong Kay ala Bridal Style. Membiarkan gadis itu tertidur dengan nyaman.


Ia membuka pintu seraya menyuruh Hans mengendarai mobil, pulang. Kaylina perlu ketenangan.


🌵


Mobil berhenti di depan rumah. Davila turun masih menggendong Kay.


Wajah gadis itu merah pias. Suhu tubuhnya panas.


“Kak—astaga! Kenapa Onnie Seperti ini? Apa dia pingsan? Apa dia—”


“Menyingkirlah.” Davila mendorong tubuh Alyn pelan. Ia berjalan cepat ke kamarnya.


“Davila, apa yang terjadi dengan Kay?” Bunda bertanya takut, ia menarik Alyn mendekat kepadanya.


“Dia kelelahan bu. Biarkan dia beristirahat. Selamat malam.” Davila meletakan tubuh Kay di kasurnya. Ia melepaskan jas nya yang masih sempurna di badan Kay.


Seraya mengambil pajamas untuk kay.

__ADS_1


__ADS_2