
Aku mengutak -atik seisi ruangan Davila. Biar saja, cowok itu paling hanya akan menyuruhnya diam.
Tangannya masih asyik membuka loker loker di bawah meja. Isinya tetap sama, lembaran-lembaran kertas, entah sudah di coret dengan pulpen merah, atau yang masih kosong berisi ketikan data yang sangat panjang.
Membosankan.
Aku membuka loker paling bawah. Mataku membulat senang menemukan barang yang berbeda.
Tunggu, apa ini?
Aku mengambil kotak persegi panjang di paling atas. Kotak berwarna keemasan dengan pita. Lucu. Apa Davila yang membuatnya? Ah tidak mungkin.
Aku membuka kotak itu, isinya hanya figura usang dan— Rokok?
Aku mengambil barang yang menyelip disana. Apa itu? Bungkusannya seperti Rokok, setelah dibuka memang bentuknya Rokok.
Davila merokok? Tapi kenapa aku tidak pernah mencium bau rokok di bajunya?
“Nona, ini Cookies yang Tuan Davila titipkan. Tuan Davila mau nona memakan Cookies ini dulu selagi menunggu,” Tiba tiba suara Hans terdengar, begitu pula decitan pintu.
Aku menoleh seraya mengangguk pendek. Hans meletakkan kue itu di meja, seraya berjalan akan pergi.
Rokok apa sih ini? Oh! Apa Hans tau?!
“Ah tunggu!” Aku berujar hampir seperti berteriak, cowok itu menoleh.
“Ada apa, Nona?”
“Harusnya kamu tau, kan?” Gumamku pada diri sendiri hingga Hans mengangkat satu alis heran.
“Maaf?”
“Ini rokok apa?” Aku mengangkat satu batang rokok itu, Hans mendekat melihat dengan jelas barang itu. Wajahnya terdiam sebentar, mengamati barang itu kemudian ia menjauhkan wajahnya.
“Sebaiknya nona tidak bermain dengan barang itu.” Hans berucap pelan.
“Apa? Kenapa?”
Namun terlambat. Cowok itu lebih dulu melangkah pergi dan menutup pintu.
“Ck, menyebalkan sekali.” Gerutuku meneliti barang itu lebih lanjut.
Ada ukiran ‘Last Second’ di pinggiran batang itu, aneh. Apa rokok memang begitu?
Tapi warnanya yang hanya hitam dengan garis putih terlalu mencurigakan untuk hanya ‘Rokok biasa’.
Sudahlah, ayo lihat yang lain.
Aku mengambil figura itu, berwarna coklat polos tanpa ukiran.
Sederhana dan lucu.
__ADS_1
Aku mengusap kaca figura itu. Berisi foto seorang anak kecil yang sangat menggemaskan.
Astaga, bagaimana anak ini malah mengigit Baby Trollernya sendiri sih? Haha! Lucu!
Aku terkekeh, lucu. Apa itu Davila? Sangat berbeda dengan mukanya sekarang yang terlalu dingin. Anak ini sangat—menggemaskan!
Tanpa aku sadari pintu berdecit pelan, seorang cowok dengan pakaian formal yang jas-nya sudah tersampirkan di bahu mengangkat alisnya bingung melihat Kay tertawa kecil.
“Apa yang kamu lihat?”
“Apa?” Aku memekik kaget, menoleh, Davila! Cowok itu selalu bisa menganggetkannya.
“Lihat. Lucu sekali, apa ini sepupu mu? Ah, jika dia besar pasti tampan!” Aku berucap riang, sembari menunjukan figura itu. Davila mengerutkan keningnya sebelum kemudian tersenyum kecil.
“Kamu mau lihat saat dia dewasa?” Davila bertanya, ia mengusap foto itu pelan.
Aku mendongak, dengan binar mata senang.
“Tentu!”
Davila menyeringai, seraya menarik daguku mendekat pada wajahnya, sehingga jarak wajah kami hanya seinci.
Aku mematung kaget. Sebelum akhirnya mendorong tubuh Davila menjauh.
“Kamu mau melihat anak ini versi dewasa kan?”
“Iya!”
“Aku.” Davila berujar santai, mengambil satu Cookies dan memasukan kedalam mulutnya.
“Hah?” Aku mengerutkan kening tak mengerti, tak menemukan benang penyambung maksud dari perkataan Davila.
“Itu aku, bodoh.” Davila berujar sebal. Aku menatapnya curiga.
Davila?
“Oh ya, apa kamu merokok?”
Davila menoleh kaget “Tidak.” Balasnya.
“Lalu apa ini?” Aku menunjukan batangan rokok tadi. Davila mengerutkan kening, kemudian mengambil rokok itu.
Cowok itu membuka semacam plastik diujung dan menekan tombol kecil.
Cring!
Rokok itu berubah menjadi pisau kecil. Davila menatapku yang hanya bengong.
__ADS_1
“Ini pisau lipat. Diujungnya ada racun. Kamu tidak boleh memainkannya.” Davila berujar acuh, seraya membuang Pisau itu. Ia melempar Jasnya lalu membuka kaos putih yang ia kenakan, sehingga memperlihatkan perut kotak kotak cowok itu.
Wa—TUNGGUU!! APA YANG AKU PIKIRKAN?! Aku membulatkan mata kaget, seraya mengalihkan pandangan.
Davila mendekat, seraya menunjukan lemari kecil di dekatku.
“Ambilkan kaos.” Perintahnya, aku menggeser kursi itu, mengambil asal kaos dan melemparkannya pada Davila.
“Aku tidak tau kau suka berolahraga.” Gumamku tanpa sadar, Davila menoleh.
“Aku sering Gym sepulang kerja. Tapi aku jarang melakukannya sejak ada kamu.” Balas Davila acuh. Memakai kaos dan celana Jeans santai.
“Kau mau?” Tawar Davila, mataku berbinar senang.
“Apa? Tentu!”
Davila mengambil bajunya seraya melemparnya asal.
“Ayo.”
🌵
Sudah 2 jam dua sejoli itu menghabiskan waktu di tempat Gym.
Walau sempat berdebat hanya karena baju yang digunakan Kay, tapi Davila akhirnya mengalah malas.
“Davila, ayo—”
“Kenapa tidak sekalian tidak pakai baju? Hah?” Potong Davila terlihat marah, ia mengusap perut dan paha Kay yang tak tertutup kain.
Kay membulatkan matanya kesal, menyentak tangan Davila.
“Kita akan berolahraga, masa aku pakai Hoodie?!” Ujar Kay membela, Davila mengatupkan rahangnya marah. Lava kemarahan dalam dirinya meletup.
“Itu lebih baik!”
Kay membulatkan matanya. Gila?
“Ayolah....” Kay menarik tangan Davila, memeluk lengan cowok itu.
Davila berdecak. Ia mengambil ponsel dari dalam sakunya.
“Kosongkan Tempat hari ini.”
Kay duduk di kursi kecil. Mengelap keringatnya dengan handuk. Davila bersandar di dinding.
Matanya menatap jendela yang memperlihatkan langit senja. Indah sekali.
Mereka berdua terdiam, terpesona dengan senja sore itu. Dengan binar mata yang berbeda.
__ADS_1