
Davila terdiam di bawah hembusan angin lembut yang mulai menyapu wajahnya perlahan. Cowok berambut Light blonde itu meletakan cangkir kopi miliknya di atas meja.
“Apa kapten Dev itu—Pedang Korea?” Grace berujar, ia tampak masih penasaran dengan Deveny. Aku menoleh kemudian mengangguk.
“Ya.” Balas Davila. Ia menggulum senyum pendek. Pedang Korea. Nama yang sudah melekat pada Kapten Dev bahkan saat ia masih dilatih.
“Tunggu, Kamu tau dari mana?” Davila menoleh, tersadar bagaimana bisa rakyat sipil seperti Grace mengetahuinya? Gadis itu hanya tersenyum simpul seraya meneguk kopinya.
“Aku dulu seorang dokter, dokter bedah. Aku ditugaskan mengoperasi pasien VVIP, tidak boleh sembarangan, semua data yang diberikan palsu,” Gumam Grace, gadis itu menoleh.
“Dan dia Kapten Dev, kami berkenalan. Orang yang sangat baik, hampir semua rekannya memanggilnya Pedang Korea,” Lanjutnya. Aku mengangguk kecil.
“Dia bocah yang sangat bersemangat. Kapten pasukan khusus korea selatan. Tak pernah putus asa, selalu bisa diandalkan. Jadi Komandan memberinya julukan, Pedang Korea.” Jelas Davila tanpa sungkan. Membiarkan Grace mengetahui semuanya.
Grace mengangguk mengerti. Ia mengangkat kepalanya, menatap langit.
“Kenapa kamu tiba tiba bercerita?” Tanya Grace.
Davila mengangkat bahunya. Ia sendiri bingung. Tiba tiba saja bayangan Kim Soo hyun dan Deveny terputar.
“Entahlah,” Balas Davila. Ia bangkit dari kursi dan menarik lengan Grace.
“Ayo masuk. Sudah terlalu malam.”
🌵
Aku memasukan sendok terakhir Yakiniku itu. Rasa Yakiniku yang lezat mulai menyapa lidahku. Aku bergumam pelan, seraya meletakkan sendok dan sumpitku diatas piring.
Davila bangkit dari kursinya, ia menarik tanganku dan mengajak ke kamar, sepertinya—cowok itu kelelahan.
Aku menutup pintu kamar, menguncinya sebelum kemudian berjalan kearah sakelar, mematikan lampu. Davila masih di kamar mandi, melakukan rutinitasnya seperti sikat gigi.
Ya, cowok itu hanya menyikat giginya, dan wajahnya bisa semulus bihun, bahkan ketika aku melakukan Skincare Rountinue tiap malam, wajahnya tak pernah semulus Davila. Dunia sungguh tak adil.
“Ayo tidur, aku mengantuk.” Davila keluar dari kamar mandi, ia mematikan lampu kamar mandi kemudian menutup pintunya. Cowok berambut Blonde itu melirikku yang masih diam.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Davila heran.
“A—ah, maaf,” aku berjalan kearah meja kecil di dekat kasur, menyalakan lampu tidur lalu menyelimuti Davila.
“Selamat malam,” Bisik Davila kemudian memeluk tubuhku dari belakang.
Aku tersenyum kecil seraya mengusap rambutnya, lembut.
Ting! Aku menoleh, ponselku berdenting, pesan masuk.
Jarang sekali ponsel itu mengeluarkan suara, harusnya itu penting, ya?
Aku mengambil ponselku yang terletak diatas nakas, lalu melihat Pop up pesan.
Nomor tak dikenal mengirim pesan..
Aku mengerutkan kening, malas. Apa ini kerjaan orang iseng? Hah, sepertinya begitu.
Aku meletakan ponselku kembali, kemudian mencoba menutup mata.
🌵
Ting!
Ting!
Ting!
Ting!
Aku membuka mataku, entah sudah berapakali dering ponsel menganggu tidurku. Aku melirik nakas, ponselku menyala, berarti ada pesan masuk.
Aku setengah sadar mengambil ponselku. Notifikasi yang sama!
Nomor tak dikenal mengirim pesan..
__ADS_1
(36 pesan tak terjawab)
What the hell is this? Tidak ada orang iseng yang seniat ini! Ini jam 3! Aku memekik geram, memilih membuka pesan itu dari pada terus terusan menganggu.
Nomor tak dikenal: Kaylina Grace, sepertinya kamu terganggu, bagiku jam 3 dini hari itu waktu yang tepat untuk memulai.
Nomor tak dikenal: Jam 7, tanggal 7, hari ke 7, bulan 7. Air panas, rantai, borgol, dan pistol.
Aku mengerutkan kening heran, tak mengerti maksud pesan ini.
Apa dia orang gila?
36 pesan lain isinya sama. Diulang ulang seperti kaset rusak yang berputar putar. Aku mematikan ponselku. Mati total, sehingga orang itu tak lagi mengirim pesan.
Dia hanya orang gila, mungkin dia mengacak nomor asal, eh, tapi kenapa dia tau nama lengkapku? Aku berseteru dalam hati, mencoba mencari alasan yang bisa membuat diriku tenang.
Sudahlah, kamu perlu istirahat. Selamat malam, Kaylina.
🌵
Aku menyibak selimut dengan kesal. Mengusap mataku dengan kasar.
Gara gara orang gila yang mengiriminya pesan semalam, aku tak bisa tidur dengan tenang.
Padahal ponselku sudah dimatikan. Tetap saja notifikasi itu masuk.
Ini gila!
Aku mengambil ponselku, notifikasi itu bertambah, sangat banyak. Pantas saja aku tak bisa tertidur!
Nomor tak dikenal mengirim pesan..
( 270 pesan tak terjawab)
Aku berdecak malas. Namun gerakanku terhenti ketika lagi lagi ponsel itu bergetar, notifikasi baru, dari nomor yang sama, tapi yang membuatku tertarik adalah—
__ADS_1
Dengan isi pesan yang berbeda.