Liberosis

Liberosis
#21: Panik


__ADS_3

Davila menoleh pada Grace yang mulai kehilangan kesadarannya. Matanya membulat.


“Grace!”


🌵


Davila seperti kehabisan akal. Ia terus terusan mempercepat mobilnya, menginjak pedal seolah ia dikejar malaikat maut.


Otaknya tak bisa bekerja. Hanya ada satu nama yang terputar di otaknya.


Grace.


Davila menginjak remnya ketika sampai di UGD salah satu rumah sakit terbaik di Los Angeles.


Dengan sigap, cowok itu membuka pintu mobilnya, menggendong Grace dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang disediakan.


Para petugas medis langsung bergerak cepat, mereka mendorong kasur itu menuju tempat pemeriksaan khusus.


Davila menatap kepergian petugas itu dalam diam. Nafasnya tak teratur.


“Tuan,” Hans berdiri dibelakang cowok itu, Davila menoleh mendapati Hans yang mencoba menormalkan pernafasannya, cowok itu juga bekerja keras untuk mengikuti Davila yang menyetir seperti orang kesetanan.


“Tuan juga perlu—pengobatan.” Hans berujar, Davila mengangkat satu alisnya tak mengerti.


“Tangan Tuan,” Ujar Hans, mengerti arti pandangan Davila yang bingung. Cowok berambut Light Blonde itu menoleh, benar saja tangannya berdarah cukup parah.


“Sepertinya itu karena rantai tidak sengaja tergores tuan,”


Davila menatap kearah tangannya. Ia tidak memperhatikannya, bahkan ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Hans hendak mengantarnya menuju ruangan lainnya namun Davila menolak. Cowok itu lebih memilih menemani Grace. Dan Hans tidak bisa memaksa.


🌵


Davila mengusap pelan tangan Grace. Tangan yang kini pucat dan dingin, tidak seperti biasanya.


Cowok itu menarik selimut untuk menutupi tubuh Grace sampai batas lehernya. Davila mengambil nafas pendek.


“Maaf.” Gumamnya pelan. Ia merapikan rambut Grace yang sedikit berantakan.

__ADS_1


Dalam hidupnya, Davila selalu membuat orang yang ia sayang dalam bahaya. Selalu.


Alyn pernah hampir diculik, dengan motif yang sama. Uang. Kadang Davila merasa perkembangan perusahaannya adalah bencana. Setiap perusahaannya memenangkan banyak Reward pasti sesuatu yang buruk akan terjadi.


Davila mengusap pipi Grace. Masih ada bekas kemerahan disana, bekas tamparan yang dilakukan berulang kali. Cowok itu mendekatkan bibirnya ke pipi kiri Grace.


Menciumnya lembut, walau ia tau Grace tidak akan menyadarinya.


“Jangan pergi,” Lirih Davila. Memohon seperti seorang anak kecil yang memohon diberikan permen oleh ibunya.


Davila tau, Grace akan kembali hidup seperti sediakala. Para perawat mengatakan gadis itu kelelahan, dan Shock. Tentu saja. Itu sangat sangat wajar.


Davila memandangi wajah Grace. Sangat berbeda ketika bibir itu menjadi pucat dan tidak mengeluarkan omelan, atau pekikan.


Davila mengambil ponsel dari sakunya. Ponsel yang entah sudah bergetar berapa kali tadi.


Cowok itu mengerutkan kening, melihat kontak dengan nama ‘Mama’ menelfonnya. Beberapa detik dia terdiam sebelum kemudian meruntuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa lupa bilang kepada Mama bahwa malam ini dia dan Grace tidak pulang? Poor Davila.


“Halo, ma?” Davila melangkah, agak menjauh dan berdiri di belakang jendela ruang inap itu.


“Davila, kamu kemana? Kenapa kamu sama Grace belum pulang? Kalian gak papa kan?” Mama bertanya, sangat kentara bahwa wanita itu cemas.


“Kenapa? Ada kerjaan lagi?”


“Enggak. Aku lagi di rumah sakit, aku gak pulang hari ini, dan mungkin beberapa hari kedepan.”


“Siapa yang dirumah sakit? Kamu sakit? Grace dimana?”


“Grace yang dirawat. Aku disini nemenin dia. Mama gausah khawatir, dia kecapean.” Davila berujar, menoleh pada Grace yang masih belum sadar juga.


“Grace kenapa? Kecapean kenapa?” Mamanya terdengar panik, Davila mengusap wajahnya, pusing.


“Grace gak papa. Mama gausah panik. Aku disini nemenin Grace. Cepet tidur ma, Good Night.” Davila mematikan sambungan telepon. Kemudian meletakan ponselnya dinakas.


Pandangannya penuh menatap wajah Grace.


Bibirnya yang selalu berwarna merah muda alami kini memucat, kulitnya yang biasanya putih berseri kini memucat, begitu pula matanya yang biasanya berbinar bahagia kini tertutup.

__ADS_1


Davila mengusap rambut Grace pelan.


“Get Well Soon, Graciliya.” Lirih Davila pelan. Nada yang begitu membuat hati terpukul.


“There goes my heart beating


Cause you are the reason


I'm losing my sleep


Please come back now


There goes my mind racing


And you are the reason.”


Davila mengusap pipi Grace lembut. Ia bergerak mencium dahi Grace lembut.


“I'd climb every mountain


And swim every ocean


Just to be with you


And fix what I've broken


Oh, cause I need you to see


That you are the reason,”


🌵


Pagi mulai datang. Matahari mulai terbit dari ufuk timur, menyapa setiap penghuni bumi dengan sinarnya yang hangat, tak terkecuali dua orang yang kini berada dalam satu ruang rawat inap VVIP.


Davila tertidur, ia menjatuhkan kepalanya di pinggiran kasur lebar itu dengan tangannya yang masih mendekap tangan Grace erat. Seolah tak ingin gadis itu pergi walau seinci darinya.


Perlahan lahan kelopak mata Grace bergerak, mencoba membuka matanya perlahan.

__ADS_1


Gadis itu mematung ketika mengetahui Davila.


Cowok itu menunggunya semalaman.


__ADS_2