Liberosis

Liberosis
#29: New Rules


__ADS_3

“Kamu membuatku ingin mengirim pembunuh bayaran untuknya,” Bisik Davila pelan ditelingaku.


Mataku membulat kaget.


P—pembunuh bayaran?!


✎ᝰ


Aku menarik tangan Davila spontan membuat cowok itu menoleh karena reaksiku, cowok itu mengerutkan keningnya heran—tapi tak melakukan apapun.


“Jangan, oke, aku minta maaf, maafkan aku jangan membunuhnya, aku mohon, maaf..” Aku berujar lirih, berusaha meyakinkan Davila agar ia membatalkan ide gilanya.


Davila memincingkan matanya, kemudian menyeringai kesal.


“Jadi kamu membelanya?” Sinis Davila, ia mengampit kedua pipiku dengan tangannya. Aku menggeleng pelan mencoba mengambil nafas panjang.


“Twidak—maafkan ak—khu—ngh!” Aku mencoba menarik tangannya, namun sia sia, tenaga Davila berkali-kali lipat lebih kuat. Aku memilih menghembuskan nafas pasrah.


“Maafkan aku, aku hanya membantu Alyn, dan—berfoto dengannya, maaf,” Aku berujar, meminta maaf secara tulus membuat Davila melepaskan tangannya kemudian menghembuskan nafas. Cowok itu memukul dinding di sebelah kepalaku dengan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras marah, membuat nyaliku menciut.


Davila memejamkan matanya sejenak, tanpa sadar aku mengangkat tanganku, dan menggerakan jariku mulai mengelus pelan pipi Davila. Tanpa sadar, membuat cowok itu membuka matanya.


Aku membulatkan mata kaget kemudian perlahan lahan menjauhkan jemariku.


“M—maaf..” Gumamku takut, kemudian meruntuk dalam hati. Bagaimana bisa aku melakukan itu? Ck.


Tanpa aku duga, Davila malah menarik tanganku, kemudian mengambil jemariku untuk kembali mengusap pipinya. Aku mengerutkan kening heran, namun tak memprotes. Membiarkan Davila melakukan apapun yang ia mau.

__ADS_1


“Aku suka itu. Lakukan lagi,” Davila berujar lirih, membuatku tersentak kaget, kemudian menggerakan jemariku mulai menyapu lembut pipi mulus Davila. Cowok itu diam, kemudian memejamkan matanya—menikmati sentuhanku pada wajahnya.


“Maafkan aku Davila,” Gumamku lirih, Davila membuka matanya, kemudian mulai menjauhkan tubuhnya, membuatku binggung.


Cowok itu mengambil kertas dari dalam laci dan pulpen, aku melirik penasaran, namun enggan berjalan mendekat—takut.


Cowok itu mulai menggerakan pulpennya diatas kertas, menulis serangkaian kalimat yang aku tak dapat lihat. Davila bangkit kemudian memberikanku kertas itu, aku menoleh penasaran namun tetap menerimanya, dan membacanya.


Surat perjanjian


1. Harus mengikuti semua kemauan Davila tanpa menolak


2.Tidak boleh terlibat hubungan lain di luar pernikahan


3. Harus bisa berakting seakan benar benar mencintai di depan orang lain


5. Tidak terlibat perasaan saling suka satu sama lain


6. Melayani Davila


Aku bergumam tanpa sadar, sesaat setelah selesai membaca sampai poin ke 6. Mataku bergerak pelan, mencoba mengingat tulisan ini.


Bukannya ini—syarat yang diajukan Davila saat pernikahan? Aku membatin penasaran, kemudian mengangguk mengerti dan melanjutkannya.


7. Tidak boleh berfoto / mengobrol dengan pria lain tanpa seizin Davila


8. Tidak boleh berdekatan dengan pria lain

__ADS_1


9. Jarak minimal antara Grace dengan pria lain (selain Davila) adalah 3 meter


10. Tidak boleh menyukai idol, siapapun itu


11. Tidak boleh memuji idol atau pria lain (selain Davila)


Aku mengangkat kepalaku, menatap Davila dengan pandangan meminta penjelasan.


Apa Davila bercanda? Ini—lebih seperti seorang pria yang cemburu pada kekasihnya! Aku membatin tak yakin, namun Davila menatapku tegas, seolah ia serius dengan apa yang ia tulis.


Aku berdehem pelan kemudian mengambil pulpen—untuk menandatanganinya.


Dari pada Davila tambah marah.


Davila menarik kertas itu kemudian meletakkannya kembali pada loker, ia menarik tanganku, kemudian memintaku untuk ikut berbaring di kasur.


“Kemari.” Ujarnya dingin seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya, aku mengangguk kemudian berjalan mendekat, dan merebahkan diriku di kasur besar itu.


Davila menarik tubuhku kemudian merengkuhnya, cowok itu mencium dahiku lembut kemudian mengeratkan pelukannya. Aku mendongak menatap wajahnya.


“Apa kau masih marah?” Aku menciut perlahan, membuat Davila menundukan kepalanya, menatap kearahku. Ia mencium dahiku lembut kemudian mengusapnya, aku menutup mataku, membiarkan Davila melakukan apapun yang ia mau, agar cowok itu tak marah lagi.


Ia menjauhkan wajahnya kemudian memeluk tubuhku erat, membuatku hatus sedikit mendorong badannya agar aku bisa mendapatkan celah untuk bernafas.


“Aku tidak bisa bernafas, apa kau mau membunuhku?” Lirihku terpotong-potong, membuat cowok itu mulai melonggarkan pelukannya.


“Jangan melakukan itu lagi. Kamu hanya milikku.”

__ADS_1


Kini aku mulai terbiasa dengan kalimat manis itu.


__ADS_2