
“Jadi ini Graciliya De Gavellyn?”
✎ᝰ
Cowok berambut light blonde itu menyeringai tanpa dosa, seraya berjalan mendekat kearahku.
Cowok itu mendekatkan wajahnya, sehingga jarak wajahku dengannya hanya seinci, bahkan aku bisa merasakan nafasnya.
Aku beranjak menjauh, menarik Davila dan memilih duduk di balik tubuh cowok berambut coklat itu, Davila menarik kemeja formal cowok berambut light blonde itu.
“Lumayan,” Cowok berambut Blonde itu menjauhkan wajahnya kemudian menyeringai, menoleh pada Davila yang terlihat kesal, rahangnya mengatup menahan emosi.
“Jangan mendekatinya,” Davila berbisik pelan, seraya menarik tanganku, mendekat kearahnya, aku menoleh kemudian mengangguk—walau bingung.
Ini—Saga? Mirip banget sama Alyn! Aku membatin, membandingkan wajah cowok itu dengan Alyn, benar saja mereka telihat mirip.
Cowok berambut blonde itu tertawa tak percaya.
“Aku bukan monster, laknat!” Cowok itu membalas, menarik tangan Davila agar terlepas dari kemejanya.
“Ya, karena kau lebih parah dari monster.” Balas Davila acuh, cowok itu bangkit dari kasur luasnya kemudian menarik tanganku.
“Ini Saga. Jangan terlalu dekat dengannya, dia gila.” Davila berujar, mengenalkan cowok itu. Saga berdecih malas melirik Davila sinis, kemudian mengulurkan tangannya.
“Sagara De Gavellyn, salam kenal.” Saga berujar tenang, seraya mengulurkan tangannya. Aku menoleh pada Davila, cowok berambut coklat itu masih mengenggam tangannya erat seolah tidak ingin aku berjabat tangan dengan Saga.
“Untuk apa mengulurkan tanganmu? Berharap bisa berjabat tangan dengannya?” Davila bertanya remeh. Dengan nada mengejek yang kental, Saga berdecih malas, baru saja cowok itu akan membalas namun suara lain lebih dulu berujar.
“Onnieee!!” Alyn berteriak lumayan kencang, berlari memasuki kamar dan tanpa sengaja menabrak Saga hingga cowok itu hampir terjungkal.
“Hei!” Saga menarik lengan Alyn erat, membuat gadis itu membulatkan matanya kaget dan memekik kencang.
“MAMAA!! KAK SAGA GANGUIN AKU!!” Alyn memekik kencang, hingga kedua cowok di ruangan itu spontan berjalan cepat membekap mulut gadis itu, aku melirik menatap Alyn, mengenaskan nasib gadis itu. Dalam hati aku turut berduka, memiliki dua kakak seperti Davila dan Saga bukan hal yang mudah.
Aku mengerti perasaanmu, Alyn. Aku membatin iba.
“Shh! Diem deh,” Saga berujar malas, menyentil dahi Alyn keras, hingga gadis itu mengaduh.
“Ck! Udah ah sana kalian berdua keluar! Aku mau ngobrol sama Onnie!” Alyna berseru tanpa dosa, kemudian mendorong tubuh Davila dan Saga. Kedua cowok itu berdecak malas.
“Ini kamarku!” Davila mendumel kesal, namun tetap berjalan pergi, begitu pula Saga. Kedua cowok itu spontan berdecak malas.
✎ᝰ
“Hah? Serius Jaehyun lagi di Los Angeles?!” Aku spontan menarik ponsel yang digenggam Alyn, gadis itu membelakkan matanya panik kemudian meletakan jarinya di depan bibirku.
“Shh! Nanti mereka denger!” Alyn berujar mengingatkan. Aku mengangguk mengerti kemudian men-zoom gambar yang beredar di media sosial.
Gambar Jaehyun yang memakai pakaian casual dan masker hitam tengah check-in di salah satu hotel ternama. Aku membelakkan mata senang.
“Wah, kalau dia di hotel ini berarti dia akan..” Aku menggantungkan ucapanku, memilih Googling posisi lengkap hotel itu. Alyn menoleh.
“Supermarket,” Alyn berdesis, melirikku dengan tatapan yang seolah mencoba mengartikan maksudku. Sedetik kemudian gadis itu membelak senang.
“Ommoo!!”
“Shh! Alyn!” Aku membekap mulutnya, gadis itu tersenyum lebar hingga lesung pipitnya timbul lebih dalam, matanya berbinar senang.
__ADS_1
“Ayo ganti baju!” Alyn berjalan cepat kearah kamarnya, aku mengangguk setuju.
“Touch up juga boleh!”
✎ᝰ
Aku merapikan poniku yang sedikit berantakan, menjadi lebih rapi. Aku mengambil lip gloss yang ada di atas meja kemudian memoleskannya tipis pada bibirku.
Aku tersenyum puas memandangi pantulan kaca yang memantulkan seorang gadis dengan rambut diurai dan setelan pakaian casual yang terlihat melekat sempurna di tubuhnya.
[ Tanpa buku ]
Ya, aku sangat jarang—oh ralat—bahkan hampir tidak pernah menggunakan rok jika hanya jalan jalan santai. Namun, hari ini adalah sebuah pengecualian—karena akan bertemu Jaehyun tentunya!—walau belum tentu juga.
Aku berjalan keluar, seraya menenteng tas hitam kecil di tanganku, aku membuka pintu kamar Davila kemudian tersenyum senang kala melihat Alyn sudah terduduk di sofa kecil dengan pakaian kasual nya—yang tentunya tidak terlihat biasa.
“Astaga, aku bahkan sangat jarang melihat onnie menggunakan rok,” Alyn berkomentar takjub, aku terkekeh pelan.
“Tentu saja karena hari ini kita akan..” Aku menggantungkan ucapanku, seraya tersenyum licik dan menatap Alyn yang juga ikut tersenyum, mengerti sinyal yang ku berikan. Kami tertawa bersamaan.
“Lama sekal—”
Duk! Tiba tiba suara barang terjatuh terdengar lumayan kencang, aku dan Alyn menoleh, mendapati Davila tanpa sadar menjatuhi kunci mobilnya.
Aku mengangkat satu alisku bingung, kemudian berjalan mendekat, mengambil kunci mobil itu dan memberikannya kepada Davila yang hanya mematung di tempatnya.
“Ini,” Aku berujar, memberikan kunci itu, beberapa saat kemudian Davila tersadar, cowok itu berdehem kemudian mengambilnya.
“Ayo berang—”
“Apa?”
“Pftt—” Alyn menutup mulutnya, mencoba menahan tawanya yang hendak menyembur keluar, Davila mengangkat wajahnya kemudian menatap Alyn kesal, wajahnya memerah.
“Kamu ikut mobil Saga! Sana!” Davila berseru, membuat Alyn mengangguk dan berlalu namun gadis itu sempat menoleh menatapku kemudian mengatakan satu kata tanpa suara. “Semangat!”—katanya.
Davila menarik daguku, cowok itu menatap rok panjang yang kugunakan sebelum kemudian menghela nafas panjang.
“Kenapa?” Aku bertanya penasaran, Davila menoleh, menatap mataku.
“Aku akan membelikan mu rok yang banyak.” Davila berbisik kemudian menarik lenganku, aku membulatkan mata tak mengerti.
“Apa? Kenapaaaa?”
✎ᝰ
“Tumben tidak ke supermarket yang biasanya,” Saga berkomentar sesampainya di gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan “K-mart” besar diatas. Alyn tersenyum tanpa dosa.
“Iya karena nanti Ja—emph!” Aku membekap mulut gadis itu dengan cepat.
Jika ketahuan bisa bisa gagal!
Alyn menyengir, kemudian menunjukan dua jarinya, peace. Aku berdecak malas kemudian memberi peringatan pada Alyn tanpa suara.
Saga dan Davila melirik tak mengerti, beberapa saat mereka bersi tatap.
__ADS_1
“Sudahlah. Ayo,” Davila akhirnya berujar pada akhirnya, menarik tanganku mengajakku masuk lebih dulu. Salah seorang petugas membungkukkan badannya kala melihat Davila sesaat setelah pintu dengan otomatis terbuka. Davila mengangguk kemudian berjalan mengambil troli.
“Cepat beli semua bahan bahannya.” Davila berujar, memerintah, perintah mutlak yang harus di jalani. Aku mengangguk kemudian berjalan didepan bersama Alyn, dan Davila mendorong troli.
Bunda tidak bisa ikut membeli bahan bahannya, bunda sedang ada acara penting—yang aku dan Alyn tidak tau—sehingga beliau menitipkan satu bucket list bahan yang diperlukan.
“Dimana Jaehyun?” Alyn berbisik, aku menoleh kemudian menggeleng pelan.
“Tidak tau, tapi seharusnya dia disini.” Aku membalas, masih fokus meneliti beberapa pack choco chip, mencari brand yang di maksud bunda.
Davila masih stay di tempatnya, memegang troli, disebelahnya Saga hanya melihat lihat beberapa coklat yang ia mau.
Aku meletakan satu pack choco chip di troli, kami berkeliling supermarket yang sangat luas itu, mencari bahan yang dimaksud.
Alyn memasukan satu pack tepung maizena kemudian menepuk-nepukan tangannya pelan.
“Selesai,” Ujarnya senang. Aku menoleh kemudian meneliti isi troli—yang hanya 10% bahan untuk membuat Cookies dan 90% snack random yang diambil Saga ataupun Alyn.
“Oh ya, tolong ambilkan Häagen-Dazs cup yang creme brulee ya,” Aku berujar, menunjuk kulkas yang berada di pojok. Davila menoleh begitu pula Saga, mata Alyn berbinar senang mendengar nama brand ice cream itu.
“Aku juga, yang Caramel biscuit & cream!” Alyn berseru senang. Davila mengangguk tanpa protes.
“Kita ambil minum dulu ya,” Aku berujar kemudian menarik tangan Alyn. Gadis itu mengerutkan kening tapi tetap mengikuti.
✎ᝰ
“Onnie, kulkas minuman disana,” Alyn menunjuk kulkas yang berada di pojok, aku berdecak malas kemudian menarik dagunya, menghadap kearah yang berlawanan, spontan wajah gadis itu menjadi cerah dengan binar mata senang.
“Jaehyun!” Pekiknya tertahan, aku menarik lengannya pelan.
“Ayo,” Aku mendekati cowok dengan pakaian casual dan masker yang masih memilih beberapa biskuit itu. Tanganku bergerak menepuk bahu cowok itu pelan, cowok itu spontan menoleh.
“Sillyehabnida, naega silsuhaji anh-eumyeon jaehyeon-i majseubnikka? dangsingwa sajin-eul jjig-eodo doelkkayo?” (permisi, jika aku tidak salah kamu Jaehyun kan? apa aku boleh berfoto denganmu?) aku bertanya dengan sopan, seraya tersenyum, cowok itu mengangguk dengan senyuman ramahnya.
“Ileum-eul jieul su issseubnikka? hangug salam-ieyo hangug-eoneun maeu yuchanghabnida?” (boleh, siapa namamu? apa kamu orang korea? bahasa koreamu lancar sekali.) Jaehyun berucap pelan, memujiku dengan lembut. Sementara Alyn hanya terpaku di tempatnya—walau tak mengerti apa yang cowok itu bicarakan, Alyn bisa menebak bahwa yang dikatan Jaehyun pasti manis.
“Naneun seokk-eossda. gomawoyo.” (Aku campuran. Terimakasih) aku berujar sopan kemudian memberikan ponselku pada Alyn.
“Tolong fotokan aku dulu, setelah itu kamu.” Aku berujar pada Alyn, gadis itu mengangguk kemudian mulai membidik kamera ponselku.
“Geunyeoui ileum-eun Alynigo geunyeoneun dangsin-ui keun paen-ibnida. aldasipi, geuneun jongjong dangsingwa gyeolhonhaneun geos-e daehae hwansang-eul neukkibnida.” (dia namanya Alyn, dia fans beratmu. kau tau, dia sering berkhayal akan menikah denganmu.) aku berseru, kemudian terkekeh, diikuti Jaehyun yang ikut tertawa lebar mendengarnya.
Cekrek! Moment itu berhasil terfoto dengan sempurna, aku tersenyum kemudian menjabat tangan cowok itu, dan berkenalan singkat.
Alyn maju, gadis itu bercakap lumayan banyak hal dengan Jaehyun—dengan bahasa Inggris—bahkan mereka sempat meminta nomor ponsel satu sama lain.
Aku terkekeh, melihat antusiasme Alyn, gadis itu sudah melakukan Selfie beberapa kali dengan Jaehyun.
Aku membuka ponselku kemudian melihat hasil foto yang tadi, aku tersenyum kemudian mengusap layar ponselku pelan.
Aku juga ingin berfoto dengan Davila. Gumamku dalam hati tanpa sadar, membayangkan berfoto dengan Davila.
Astaga, kenapa aku malah memikirkan Davila?
[picture credit to @jeiniekim]
__ADS_1
[Note : Role playernya Grace bukan Jennie]