Liberosis

Liberosis
#31: Kencan ala Grace


__ADS_3

“Aku akan berkencan dengan gadis cerewet ini.”


Bola mataku seakan ingin meloncat keluar.


✎ᝰ


“Aku tidak percaya kamu sungguh membatalkan jadwal meeting-mu,” Grace bergumam pelan, sembari menyeruput Coffee nya. Gadis itu menoleh, menatap langit yang cerah sore itu.


Davila menoleh, kemudian ikut memandang langit.


“Kamu bilang mau.” Balas Davila acuh, seraya menyeruput Americano nya. Grace menoleh kemudian berdecih malas.


“Dan kamu mengabulkannya? Semudah itu?” Grace memutar bola matanya, antara kesal dan tak percaya dengan keputusan Davila yang seolah semudah itu.


“Well, kita bisa kembali ke kantor kalau—”


“Tidak! Tidak! Tidak! Baiklah ini bukan keputusan yang buruk.” Grace memaksakan senyuman tertempel di wajahnya, membuat Davila ikut tersenyum simpul, kemudian menyentil dahi Grace, hingga gadis itu mengaduh.


“Good girl.” Cetus Davila acuh kemudian menyeruput coffee milik Grace, gadis itu membulatkan matanya kaget. Bahkan ia mendorong Davila menjauh membuat cowok itu mengangkat alis tak mengerti dan jengah.


“Apa yang kau lakukan?!” Grace melirik dengan mata tajam, dan wajah yang—entah kenapa memerah membuat Davila penasaran, ia menunjuk sedotan yang ada di gelas Grace.


“Aku mencoba minumanmu. Tidak enak, terlalu man—”

__ADS_1


“Bukan! Bukan kah itu sama saja dengan..—” Grace menggantungkan ucapannya, kemudian menunduk dengan wajah memerah, membuat Davila menatapnya tak mengerti.


Maksudnya? Davila terus bertanya-tanya, sebelum akhirnya ia menyeringai lebar, seraya tertawa puas, membuat pipi Grace makin memerah.


“Kenapa malah tertawa?! Aku menyimpannya untuk orang yang akan aku cintai nanti! Astaga!” Grace memukul lengan Davila kesal, pipinya memerah.


Bahkan Hans yang ada di balik kemudi pun ikut menahan tawanya. Mendengar sikap polos nonanya, membuatnya hampir menyemburkan tawanya.


Davila menghentikan tawanya kemudian menarik dagu Grace.


“Kau mau tau siapa orang yang akan kau cintai nanti?” Ia mengangkat satu alisnya, membuat Grace menoleh penasaran.


“Aku.” Lanjut Davila kemudian menyeruput minuman Grace lagi.


“Terserah! Oh ya, apa kau pernah berkencan sebelumnnya?” Grace mengalihkan topik, namun raut Davila langsung berubah, cowok itu berdehem pelan. Grace sadar, jadi ia langsung meralat ucapannya.


“Ayo berkencan ala rakyat biasa!” Ajak Grace membuat Davila mengerutkan kening, tak mengerti.


“Maksudmu?” Grace berdehem sesaat kemudian mulai menjelaskan.


“Jadi...”


✎ᝰ

__ADS_1


Davila hampir saja membanting ponselnya jika mengingat beberapa persyaratan yang diajukan Grace tadi, namun ia urungkan karena ingat bahwa ia masih membutuhkan ponsel itu.


Dengan cepat, cowok itu membuka Lockscreennya kemudian menekan beberapa kontak yang ia perlukan.


“Pertama, tidak ada kencan di tempat yang serba privasi!”


Davila menekan kontak Hans.


“Apa kau sudah menemukan gadis itu? Siapa namanya?” Suara Hans mulai terdengar dari balik ponselnya. Mata Davila bergerak naik turun.


Vanny. Oke noted.


“Kedua, tidak ada penjagaan super ketat!”


“Bawakan aku 3 Bodyguard, mengawasi dari kejauhan.” Davila melanjutkan.


“Ketiga, jangan banyak protes. Biasanya mereka makan di food court*, atau* snackyang ada di mallitu, jadi tidak ada makanan mewah di restoran!”


“Semua penjual makanan di mall harus mengecek segala kebersihannya, tidak boleh terlalu banyak MSG, pewarna makanan, dan pengawet. Harus sehat.”


Davila menjentikkan jarinya, kemudian setelah mendengar balasan dari Hans, cowok itu langsung menarik ponselnya menjauh dari telinganya. Mata Davila menatap pantulan cermin di hadapannya.


Apa kamu pikir aku semudah itu membiarkanmu di tempat umum, Grace? Davila membatin, menatap pantulan kaca yang memperlihatkan dirinya dengan balutan kaos berwarna krem.

__ADS_1


Tidak. Jangan harap.


__ADS_2