
“Pernikahan akan di jalankan di gedung hotel The Esia. Waktunya sekitar seminggu lagi. Dan—” Orang yang berkerja sebagai WO itu terus terusan memberi informasi yang bagiku tak penting.
Aku hanya melamun membiarkan orang itu berceloteh.
Kehilangan diri sendiri lagi, ya? Gumamku dalam hati, cowok berambut Light blonde itu juga tampak tak peduli. Ia masih asyik memainkan ponselnya.
Para staf tampak memperhatikan setiap inci yang diucapkan WO itu. Aku meletakkan tanganku pada pipi seraya mulai memainkan ponsel.
Ada pesan masuk.
Aku mengerutkan kening. Tidak ada yang mengetahui nomor ponsel pribadiku kecuali Tuan Franklin, keluarga, dan.. tunggu siapa ini.
Nomor tak dikenal : Hi? Ini Kaylina bukan ya? Aku Jeff.
Jeffery menjijikan. Aku memilih memblokir kontak tersebut. Namun beberapa nomor menghubunginya, dengan pesan yang sama. Dengan kesal, aku memilih membalas pesan itu.
Me: bukan. Siapa Kaylina?
Nomor tak dikenal: oh? Maaf aku salah nomor. Maafkan aku.
Aku menahan senyum. Menutupinya dengan punggung tanganku.
Dasar bodoh. Idiot.
Tanpa aku sadari, cowok berambut Light blonde itu melirikku seraya mengangkat sebelah alisnya heran.
🌵
“Mau kemana?” Cowok itu berseru acuh di dalam lift. Ya, sudah saatnya pulang, dan sangat kebetulan kami berada di satu lift, berdua.
“Pulang.” Sahutku acuh, tatapanku lurus kedepan tanpa menatapnya.
Piipp! Pip! Alaram dari ponselku berdering, waktunya minum obat.
Aku mengambil satu pack berwarna biru seraya mengambil beberapa pil yang berbeda.
Aku menelannya, seraya menghembuskan nafas panjang.
“Borderline Personality Disorder/BPD.” Gumam cowok itu pelan, ia mengangguk angguk beberapa saat sebelum akhirnya menatap kearah depan.
“Apa?”
“Kamu mengidap penyakit Borderline Personality Disorder/BPD kan? Makanya mengkonsumsi Antidepresan, Antipsikotik, dan obat penyeimbang suasana hati.” Balas cowok itu lancar.
Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
“Ya. Selamat kamu benar.” balasku acuh. Sepertinya cowok itu tanpa sengaja melihat tulisan yang tertera di packnya. Luar biasa.
🌵
Aku berjalan keluar dari gedung itu seraya membuka pintu mobilku. Ponselku bergetar sesaat setelah aku memasuki mobil. Pesan, lagi.
Nomor tak dikenal : Kay, ayo lah jangan berbohong. Aku tau ini kamu! Kenapa kamu tidak masuk kerja? Aku tidak menemukanmu hari ini.
Aku memutar bola mata sebal. Pesan itu masih berlanjut.
Nomor tak dikenal : Kay, aku merindukanmuuuuu!
Aku mendadak mual. Aku membuka pintu mobilku seraya membanting ponselku itu. Biarlah. Aku malas menanggapi orang gila itu.
Suara pecahan ponsel terdengar lumayan nyaring sehingga beberapa pengunjung memperhatikan.
“Gila! Itu kan ponsel keluaran terbaru. Kenapa dibanting?”
“Astaga!”
Aku memutar bola mata jengah, norak. Dengan cepat aku menginjak gas seraya meninggalkan tempat ini.
Hari yang buruk.
🌵
Sialan!! Mimpi buruk lagi!
Aku melempar selimut seraya turun dari kasur. Alarm itu sudah hancur berkeping keping, terlambat.
Aku mengambil serpihan alarm itu seraya membuangnya.
Apa boleh buat. Aku harus mengganti alarm ini besok.
Aku menghela nafas pendek seraya berjalan keluar. Aku perlu tempat yang mnenangkan.
🌵
Hembusan angin malam yang sejuk mulai mengusap lembut wajahku. Aku menutup mata sejenak seraya menikmati hembusan itu.
Sejuk. Rooftop selalu menyenangkan ketika malam. Sepi dan menyenangkan.
Jam sudah menunjukan pukul 03:30. Masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas. Aku terduduk di kursi Rooftop seraya menghela nafas.
“Aku sayang sama kamu, Kay.” Cowok itu berucap. Ditengah hembusan angin malam.
__ADS_1
“A—aku—”
“Please, kasi aku kesempatan. Aku gak bakal nyakitin kamu, I swear.”
Aku tertawa hambar. Mataku masih sangat lekat menatap langit malam yang dihiasi bintang,indah.
“I always knew you were the best
The coolest girl I know
So prettier than all the rest
The star of my show
So many times I wished
You'd be the one for me
But never knew you'd get like this..” cowok itu bernyanyi lagu “Favorite girl” dari Justin Bieber dengan tenang.
Seisi kelas memperhatikannya. Aku berdehem tanpa minat.
Cowok itu masih terus bernyanyi. Dengan menatapku, kenapa ini?
“You're my special little lady
The one that makes me crazy
Of all the girls I've ever known
It's you, it's you
My favorite, my favorite
My favorite, my favorite girl
My favorite girl...” Cowok itu menghembuskan nafas seraya mengalihkan pandangannya.
“Kay, will you be mine?” Aku membulatkan mata kaget.
“CIEEEEE!!!”
🌵
Masih di Rooftop yang sama. Aku mengambil nafas sejenak.
__ADS_1
“And that was my biggest mistake, bastard.”