Liberosis

Liberosis
#17: Deveny De Kaflier


__ADS_3

“Deveny De Kaflier,” Ujar seorang cowok dengan pakaian tentara-nya yang rapi. Ia memberikan satu map kecil berwarna hijau tua.


“Ada apa dengan Kapten Dev?” Gadis dihadapannya bertanya dengan penasaran, ia membuka map itu.


Banyak foto disana. Foto yang sudah disusun tapi tetap terlihat membingungkan. Foto mayat seorang cowok dengan pakaian lusuh, foto dinding yang di coret coret, foto kertas koran yang terkena darah, dan foto sebuah Ranjau darat.


“Ada apa? Kenapa Kapten Dev? Kenapa kamu menyebutnya?” Gadis itu tak mengerti, ia meneliti inci foto itu, nihil, ia tetap tak mengerti.


“Kapten Dev di jadikan sandera.”


Gadis itu menjatuhkan map hijau tua yang ia genggam. Matanya memanas, dan badanya bergetar.


“Apa?” Gumamnya tak percaya. Mencoba meyakinkan bahwa pendengarannya salah. Tapi cowok itu mengucapkan hal yang sama, tetap sama.


“APA YANG KAMU KATAKAN?!”


🌵


Davila memberikan gadis didepannya segelas kopi. Caramel Macchiato. Davila ikut duduk di kursi, ia meneguk pelan minuman yang ia bawa seraya menghadap langit. Tatapannya yang teduh tanpa sadar bertabrakan dengan tatapan gadis di sampingnya.


“Apa aku boleh memanggilmu Grace?” Davila tiba tiba berujar. Kay menoleh.


“Apa?”


“Kaylina Grace, apa aku boleh memanggilmu Grace?” Tanya Davila seraya meneguk kopinya. Kay mengangguk.


“Tentu,”


“Graciliya De Gavellyn. Sekarang itu nama mu,” Ujar Davila pelan, ia asyik menatap langit.


“Terserah, Tuan Davila yang maha pemaksa,” Sahut Grace menyindir, tapi Davila tak peduli.


Ia meneguk kopinya lagi.


“Dulu aku seorang tentara,” Gumam Davila, ia menundukan kepalanya, menatap kakinya, segelas kopi, dan lantai.


Grace menoleh kaget, matanya membulat.


“Terdengar keren, kenapa kamu berhenti?” Tanya Grace antusias, ia memakan kue yang ada di pinggir cangkirnya.


“Aku...—”


“Saluran 3, Kapten Dev, mohon membalas, ganti.” Gadis itu menekan tombol pada alat komunikasi itu. Ia mendesah frustasi karena lagi lagi ia tak mendapat balasan. Sambungan terputus.


“Serigala, mohon membalas, bagaimana keadaan? Ganti,”


Beberapa waktu berselang, walkie talkie itu mulai bereaksi, ada balasan.


“Disini Serigala, situasi aman. Ranjau sudah dipasang, akan meledak pada 10 menit. Kami masih mencari Sandera. Ganti.” Balasan dari salah satu Team terdegar. Gadis itu bisa menghela nafas lega.


🌵

__ADS_1


“Aku lapar.” Gadis dengan rambut pendek itu mengeluh, ia meneguk sebotol air mineral di dekatnya.


Tek!


“Beruntunglah kalian, aku memiliki 3 ramyun.” Seorang cowok berambut Blonde berujar, ia berdehem pelan.


“Astaga! Terimakasiih Ahjussi!” Gadis itu memekik senang, memeluk cowok itu. Cowok berambut Blonde itu menyeringai kepada cowok berambut coklat di depannya. Tatapan yang menyiratkan ‘aku menang’.


“Aku bukan Ahjussi! Panggil aku Kapten Dav,” Kekeh cowok itu, gadis didepannya menggerakkan tangannya tak peduli.


“Kapten Dev akan membuatkan Ramyun untuk kita segera,” Gadis itu menyerahkan 3 bungkus Ramyun kepada cowok berambut coklat, tepat di depan perutnya.


“Gamsahabnida, kaebtin!” (Terimakasih, kapten!) Lanjut Gadis itu disertai cengirannya.


“Ya!” (Hei!) Cowok berambut coklat itu hendak protes, baru saja ia membuka mulutnya, gadis didepannya menyela.


“Naneun geojeol-eul bad-adeul-iji anhseubnida. seoduleu ja! baega gopayo!” (aku tidak menerima penolakan. ayo cepat! aku lapar!)


🌵


“Mie ini sangat enak, aku tidak menyesal menyuruh Kapten Dev memasak.” Gadis itu berujar tanpa dosa, ia menyengir seraya memasukan Ramyun kedalam mulutnya.


Kapten Dev menatapnya kesal.


“Ya—”


“Naega hangug-e dochaghamyeon neohuideul-eul sojulo daehal geos-ida. a, sojuga geuliwo eonje dol-a olkka?” (ketika sampai di korea nanti, aku akan mentraktir kalian soju. ah, aku merindukan soju, kapan kita akan kembali?) Gadis itu menahan pipinya dengan tangan kanannya. Membayangkan Soju.


“Kamu tidak pandai minum.” Cowok berambut Blonde itu berujar, seraya menelan Kimchi yang baru saja ia masukan.


“Uli jung hanaga jug-eumyeon nameojineun gundaeleul tteonal su eobsdago yagsoghabsida. ihaehabnikka?” (mari membuat janji, jika salah satu diantara kita mati, maka sisanya tidak boleh meninggalkan militer. mengerti?) Gadis itu berujar, mengangkat jari kelingkingnya.


Dua cowok di depannya saling menatap, sebelum kemudian ikut mengangkat kelingkingnya masing masing.


“Nde.” (Iya)


🌵


“Jadi—”


“Aku melanggarnya. Aku tau itu buruk. Tapi aku tidak tahan.” Potong Davila, ia menoleh pada Grace yang tampak bingung.


“Kim Soo Hyun meninggal malam itu. Tidak ada yang menyangka gadis bodoh itu mengambil pilihan untuk mengorbankan hidupnya.” Davila menyeruput Kopinya.


“Kim Soo Hyun dan Deveny itu saudara.” Lanjut Davila masih menerawang. Setiap momen mereka bertiga terputar layaknya kaset lama.


“Aku keluar dari militer. Deveny juga sama kecewanya, ia merasa bersalah padahal tidak ada yang menyalahkannya,”


“Kim yang memilih berkorban.”


Dor!! Dor!! Suara senjata api terdengar nyaring di gudang lama itu. Salah seorang anggota Team Khusus mendobrak pintu seraya menembak para penyekap.

__ADS_1


Kim mendekat, ia membuka rantai yang melilit Kapten Dev.


“Ppalli,i chang-goneun 5 bun an-e pogbal hal geos-ida.” (Ayo cepat, gudang ini akan meledak dalam 5 menit.) Ujar Kim seraya memapah Kapten Dev.


“yeojeonhi han myeong-ui injil nolaega issseubnida. geuneun yeogie issseubnida. geuleul ppalli gu haejuseyo!” (masih ada satu sandera lagi, Dia di dekat sini. cepat selamatkan dia!) Kapten Dev berujar, ia menunjuk salah satu ruangan.


“i chang-goneun 5 bun an-e pogbal hal geos-ibnida!” (gudang ini akan meledak dalam 5 menit!) Pekik Kim tak percaya, ia menyerahkan Kapten Dev kepada 2 orang lainnya.


“geuleom seodulleoya haeyo!” (Maka kita harus cepat!)


Kim menatap Kapten Dev tak percaya. Ia memberi perintah pada Teamnya.


DOR DOR!!


Tubuh 4 orang penjahat itu terkapar. Darah bercucuran dari tubuhnya. Kim berjalan cepat kepada Sanderanya, ia melepas rantai yang mengikat Sandera itu, dan menyerahkannya kepada anggota Teamnnya.


“Ppalli!” (Cepat!) perintahnya.


Mereka berjalan ke helikopter, memapah Sandera yang terkulai lemas. Kapten Dev mengangkat tangannya, melambai pada Kim.


“gamsahabnida! wain-eul junbihagessseubnida!”( Terimakasih! Aku akan menyiapkan Wine!) Dev berseru senang, menarik tangan Kim agar cepat.


Tiba tiba Kim memeluk kapten Dev.


“hamjang debeu! gimjung-wi! josimhae!” (Kapten Dev! Letnan Kim! Awas!) Pekik salah satu prajurit.


DOR! DOR! DOR!


Tiga peluru berhasil mengenai tubuh Kim. Ia tersenyum seraya menarik baju Dev, menahan agar dia tak terjatuh.


Kapten Dev menatap Kim kaget. Kakinya melemas, dan air mata mengalir dari sudur bibirnya. Ia menarik Kim, memeluknya erat.


Tembakan berlanjut. Para Prajurit penembak jarak jauh bersiap.


“jamkkanman! babo! nae mal deullyeo?!” (bertahanlah, hei! bodoh! apa kau mendengarku?!) Dev memekik. Suaranya terdengar menyedihkan. Kim tersenyum sendu, manis.


“ige nae majimag miso ya naega aleumdab ni? a, naneun dangsin-ege nae insaeng-eul jueossda. jal jinaeyo, daejang seonjang...” (ini senyuman terakhirku. Apa aku cantik? ahh, aku sudah menyerahkan hidupku padamu. hidup dengan baik ya, Kapten Deveny...) Lirih Kim menahan sakit, lirihan pelan yang berbeda satu oktaf dari angin.


“museun soli ya? dangsin-eun jugji anh-eul geos-ibnida! ya! gimjung-wi! dangsin-eun eotteohge saeng-gaghaseyo?!” (apa yang kamu bicarakan?! kamu tidak akan mati! hey! Letnan Kim! apa yang kamu pikirkan?!) Dev memekik marah.


Nahas. Kim hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan. Kim tak lagi terselamatkan.


🌵


Davila dan Kapten Dev terdiam didepan peti mati Kim. Mata mereka kosong penuh kekecewaan.


Davila melangkah, ia memberikan satu buket bunga mawar hitam, dan ia meletakkan satu botol Wine pada sebelah peti.


“Gadis bodoh. Selamat beristirahat.” Gumam Davila, Kapten Dev mengangkat satu sudut bibirnya.


“Bahkan dia belum mencicipi anggur itu.” Kapten Dev tersenyum, senyuman keihklasan yang penuh luka.

__ADS_1


“Dev, maaf. Aku akan keluar dari militer.”


Dan setelah itu, dunia seolah runtuh tempat diatas kepala Kapten Dev.


__ADS_2