
Ana melangkahkan kakinya di lorong kampus yang cukup ramai oleh para mahasiswa yang hilir mudik. Ada yang terlihat terburu-buru karena mengejar kuliahnya yang sudah dimulai, ada juga yang berjalan santai sambil mengobrol dengan temannya. Selama perjalanan tersebut, beberapa kali ana mendapat lirikan dari mahasiswa pria yang berpapasan dengannya. Ana sendiri tidak menyadari hal itu. Bukan hanya saat ini, tapi hampir di setiap waktu dan tempat ana seringkali menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang tidak seperti kebanyakan gadis lainnya.
Kirana Mayasari, biasa dipanggil ana oleh keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya adalah seorang gadis berusia 18 tahun, berwajah manis dengan rambut panjang kecoklatan, hidung mancung, dagu lancip, dan bermata bulat dengan sorot mata yang teduh. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi cukup proporsional untuk ukuran wanita seusianya. Ana sendiri lebih sering berpenampilan seadanya dengan make up yang sangat minimalis, tapi tetap saja terlihat mempesona dan mampu membuat orang yang melihatnya tidak berkedip selama beberapa saat.
Saat ini ana adalah mahasiwa semester dua di sebuah perguruan tinggi favorit di kotanya. Dia memilih tinggal di kos karena jarak yang sangat jauh antara rumah dan kampusnya. Keluarga ana hanya ibu dan adiknya, karena ayahnya sudah meninggal dunia karena kecelakaan saat dia masih kelas 1 di sekolah menengah atas. Ibunya bekerja sebagai karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil, yang gajinya masih terbilang kurang untuk mencukupi kebutuhan kedua anaknya. Untungnya ana dan adiknya adalah anak-anak cerdas yang bisa mendapakan beasiswa untuk biaya sekolah dan kuliah mereka sendiri. Ana juga kadang bekerja sebagai guru privat untuk meringankan beban ibunya. Semua masalah yang terjadi selama hidup ana menjadikannya seorang gadis yang kuat dan tertutup terhadap orang lain. Karena dia tidak ingin orang lain mengasihani dirinya.
Ana masih berjalan di antara keramaian orang di lorong menuju kelasnya. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang, ana menoleh dan dilihatnya dua teman dekatnya sedang berjalan menuju ke arahnya.
“Hai.. kayaknya udah siap banget nih mau kuis” kata lisa saat mereka sudah berada dekat ana dan mereka bertiga berjalan bersama.
“Ga tau deh.. semoga aja soalnya ga susah-susah” jawab ana.
“Kalo lo sih gue yakin bisa na, nanti duduknya deketan ya biar gue bisa nanya, hehe” ucap adel yang memang sering mengandalkan ana saat ujian atau jika ada tugas yang sulit.
__ADS_1
Ana hanya tersenyum menanggapi temannya itu karena merasa sudah biasa dan dia tidak masalah akan hal itu.
“Kebiasaan banget sih lo ngandelin ana terus, sekali-sekali usaha sendiri dong kayak gue” sahut lisa.
“Bukannya gue ga usaha lis, tapi emang tiap ngadepin soal ujian otak gue tiba-tiba nge blank, padahal malemnya gue udah begadang buat belajar” kata adel dengan wajah frustasi.
“Makanya belajarnya jangan SKS, sistem kebut semalam, jadi ingatan lo ga ngebut juga ilangnya” kata ana sambil tertawa pelan.
“Ayo rei” sahut seseorang yang menyadarkan keduanya dari adegan tatap-menatap itu.
Lalu rei pun mengalihkan tatapannya dari ana dan langsung pergi begitu saja bersama temannya.
“Ih.. ngeselin banget sih tu cowok bukannya minta maaf udah nabrak malah pergi gitu aja” adel berkata dengan sewot sambil memandangi punggung laki-laki tadi.
__ADS_1
Anna hanya menghela nafasnya dan berjongkok untuk mengambil buku-bukunya yang berjatuhan di lantai.
“Itu bukannya kak rei ya?” kata lisa yang juga mulai berjongkok untuk membantu ana.
“Rei siapa?” tanya ana.
“Kak reinand.. dari jurusan sebelah, dia terkenal banget di kampus ini karena wajahnya yang ganteng banget itu, dan denger-denger juga orang tuanya tajir banget, cewe-cewe banyak yang suka sama dia” jawab lisa.
“Iya sih ganteng, tapi kelakuannya ga banget” kata adel yang masih kesal karena rei pergi begitu saja setelah menabrak ana.
“Yaudah ga apa apa gue ga peduli kok. Ayo buruan masuk kelas nanti telat” ujarnya kepada kedua temannya itu.
Dan mereka bertigapun segera melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
__ADS_1