light of love

light of love
Perpisahan Sementara


__ADS_3

Karena saking terkejutnya ana buru-buru bangkit dan malah menabrakkan kepalanya ke dagu rei, yang sedang berjongkok di pinggir sofa, membuat laki-laki itu meringis manahan sakit. Ana refleks mengangkat tangannya untuk mengusap-usap dagu rei.


“Sori-sori kak, aku kirain tadi angga” ucap ana yang masih merasakan debaran jantungnya, entah karena masih terkejut atau karena wajah rei yang berada sangat dekat dengan wajahnya tadi.


Rei yang juga sedikit terkejut karena ana tiba-tiba menyentuhnya, hanya diam saja menikmati sentuhan gadis itu, sampai ana melepaskan tangannya.


“ Kok kak rei bisa disini?” tanya ana gelagapan.


“Tadi ketemu angga di depan, terus disuruh masuk aja katanya lo ada disini” jawab rei.


“Maksudnya kenapa kak rei bisa datang ke rumah aku lagi?” ana mengulang pertanyaannya.


“Gue mau jemput lo” jawab rei lagi.


Ana membuka mulutnya namun tidak ada kata yang keluar karena bingung harus berkata apa. Dirinya benar-benar tidak mengerti dengan rei sekarang.


Rei menahan tawanya saat melihat reaksi ana.


“Loh rei kapan datang?” sahut naura ketika masuk ke ruang keluarga membawakan es buah untuk ana.


“Baru aja tante” jawab rei lalu mendekat ke arah naura untuk bersalaman.


“Kebetulan tante udah siapin makan siang, kamu sekalian makan bareng ya” ujar naura.


“Makasih tante” ucap rei tersenyum.


“Ana itu es buahnya cepet dimakan terus mandi sana” ujar naura yang melihat ana belum menyentuh es buah yang ia letakkan di meja. “Rei ibu ambilin juga ya” ucap naura pada rei.

__ADS_1


“Kak rei makan ini aja, aku mau mandi dulu” ujar ana yang tiba-tiba bangkit dari duduknya dan dengan cepat meninggalkan rei dan naura dari ruangan itu.


Hampir setengah jam kemudian ana kembali, dan dilihatnya ibu, adiknya, dan juga rei sudah duduk di ruang makan, mereka bertiga terlihat sedang asik membicarakan sesuatu.


“Ana ayo cepet sini kita nungguin kamu” sahut naura ketika melihat ana di ujung ruangan.


“Angga itu waktu kecil, kalau udah main sama teman-temannya suka lupa waktu” naura melanjutkan ceritanya saat ana sudah duduk di kursi sebelahnya. “Pernah suatu hari, ibu sama orang tua yang lain panik bukan main karena anak-anaknya belum juga pulang padahal hari udah gelap. Kita udah cari kemana-mana di tempat mereka biasa main tapi ga ketemu. Setelah itu tau-tau mereka pulang dengan wajah tanpa dosa. Ternyata mereka main ke komplek sebelah, padahal kami orang tua udah cemas dan berpikir mereka hilang” naura melebarkan matanya saking bersemangatnya menceritakan masa kecil angga pada rei.


Rei tertawa-tawa mendengar cerita naura, sedangkan angga hanya cengengesan mengingat masa kecilnya.


“Kalau ana waktu kecil gimana tante?” tanya rei, saat semua orang sudah mulai menyantap makan siangnya.


“Aku sih waktu kecil ga bandel kayak angga” sahut ana.


“Ada kejadian lucu waktu ana kecil” ujar naura tiba-tiba.


“Jadi ceritanya waktu pertama kali mau masuk sekolah, ana itu senang banget sampai tiap hari yang dia omongin tentang sekolah dan ga bosen-bosennya nyobain tas sekolah baru saking ga sabarnya. Tapi pas hari H nya, begitu ana masuk kelas dan ibu tinggal, ana malah nangis sampai meraung-raung karna merasa ga ada yang dikenal. Anak-anak yang lain sampai keheranan melihat ana, dan gurunya jadi kerepotan karena ana ga berhenti nangis. Akhirnya ibu terpaksa harus nemenin ana di dalam kelas hari itu supaya dia ga nangis lagi” naura tertawa saat mengakhiri ceritanya.


“Ibuu.. yang kayak gitu jangan diceritain dong” sungut ana, wajahnya memerah karena malu.


Naura, rei, dan angga malah semakin tertawa melihat wajah ana yang cemberut.


Hingga akhirnya makan siang selesai, dan sekarang mereka duduk bersama di ruang keluarga sambil menonton tv.


“Jadi kamu sengaja jauh-jauh datang kesini mau jemput ana?” tanya naura pada rei.


“I iya tante” jawab rei yang entah kenapa jadi salah tingkah.

__ADS_1


Angga yang duduk di lantai bersandar pada sofa tersenyum aneh melihat ke arah rei dan ana. Ana yang melihat itu langsung menendang kaki angga dengan mata melotot.


Saat hari sudah sore, dengan berat hati ana memutuskan untuk berangkat kembali ke tempat kosnya.


“Aku siap-siap dulu bu” ujar ana bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


Tidak lama kemudian ana kembali dan terlihat sudah siap dengan tas sandangnya.


“Aku berangkat ya bu” ana menghampiri ibunya dan memeluknya cukup lama, rasanya ia tidak mau melepaskannya sampai ibunya yang melepas pelukannya lebih dulu. Ana lalu mencium kedua pipi ibunya, begitu pula dengan naura, ia mencium pipi dan kening ana.


Rei memperhatikan adegan perpisahan sementara ibu dan anak itu.


“Tiap pamitan pasti kayak gini, udah kayak mau pisah bertahun-tahun aja” celetuk angga.


“Jangan gitu kamu dek, pasti kamu juga kangen kan sama kakak kalau ga di rumah” ujar ana sewot.


“ Kangen ga ada yang bawelin iya” sahut angga nyengir.


Akhirnya ana dan rei pamit, naura mengantar sampai depan pagar.


“Kapan-kapan main kesini lagi ya rei” ujar naura.


“Siap tante” kata rei girang.


“Hati-hati kalian” ucap naura lagi.


“Iya bu, ana berangkat ya” ana melambaikan tangannya dari jendela mobil.

__ADS_1


Dan akhirnya ketika rei melajukan mobilnya, ana benar-benar telah pergi sekali lagi meninggalkan ibu, adik, dan rumah tercintanya.


__ADS_2